(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 30


__ADS_3

Meja makan itu terasa lain untuk Caesar, ada senyum kebahagiaan yang terpancar di wajah sang ayah juga dirinya. Melihat sup yang khas di depan mata, mengembalikannya pada masa di mana sang ibu ada.


"Ini persis seperti masakan ibumu. Apakah rasanya sama?" ucap tuan Arya menunggu para pelayan menyajikan sup buatan Cempaka.


Caesar tersenyum, ia mencegah seorang pelayan yang hendak membalik mangkok dan piring. Faham, pelayan itu mundur ke belakang dan Yudi meminta Cempaka yang berpenampilan pelayan untuk melayani Caesar.


Diam-diam tuan Arya melirik, memperhatikan gelagat sang anak yang tersenyum menatap pelayan itu.


"Kau yang membuatnya?" bisik laki-laki itu di dekat telinga Cempaka.


"I-iya, Tuan. Maaf jika rasanya tidak sesuai dengan selera Anda," jawab Cempaka, seraya kembali menjauh setelah memastikan porsi makan Caesar.


Ia dan tuan Arya sama-sama mencicipi masakan itu, keduanya memejamkan mata membayangkan sosok lembut itu ada di antara mereka.


"Mmm ... ini luar biasa! Bagaimana mungkin rasanya sama seperti buatan ibumu? Hanya saja ada yang kurang." Tuan Arya memekik senang, tapi kalimat terakhirnya membuat jantung Cempaka berdegup tak beraturan.


"Ayah benar. Ini memang seperti buatan ibu dan aku tahu apa yang kurang ...."


Cempaka diam mendengarkan, apa yang terasa kurang dia akan berusaha untuk menyempurnakan masakan itu.


"Hanya satu bahan yang kurang dan itu adalah bahan terpenting yang harus ada. Yaitu, cinta ibu."


Cempaka terhenyak, napasnya tercekat di tenggorokan. Dia tak akan bisa memberikan itu. Ia melirik pada Yudi, laki-laki itu mengangguk.


"Kau benar. Bagaimanapun juga sosok ibumu menjadi penyempurna meja makan ini." Tuan Arya menghela napas dan melanjutkan makannya.


Dan Champa memiliki itu, Ayah. Aku merasakan kehadiran ibu bila di dekatnya.


Kedua insan itu melahap makanan dengan perasaan yang bahagia. Cempaka terenyuh, sepertinya dulu mereka adalah keluarga yang bahagia dan Caesar seorang anak yang mendapatkan kasih sayang melimpah dari seorang ibu sehingga apapun yang berkaitan dengan wanita itu, dia selalu mengingatnya.


"Di mana istrimu?"


Deg!


Jantung Cempaka seketika berdenyut nyeri, ia menundukkan kepala menahan segala kegetiran.

__ADS_1


"Dia masih bersiap. Eva tidak menyukai sup ini, Ayah." Caesar menjawab tanpa menjeda makannya.


Berselang, ketukan langkah terdengar di lantai mendekati ruang makan. Cempaka tahu siapa yang datang. Dia datang dengan segala kesempurnaannya, aroma bunga semerbak menguar memenuhi ruang tersebut. Senyum manis nan elegan terukir indah di bibirnya yang selalu dipoles make-up.


"Selamat pagi!" ucapnya dengan suara lembut mengalun.


"Pagi, sayang. Mari makan!" sambut tuan Arya dengan ramah.


Eva tersenyum, seorang pelayan menarik kursi untuknya. Senyum manis itu seketika hilang melihat makanan yang dibencinya terhidang di atas meja makan.


"Singkirkan ini dari hadapanku!" titahnya dengan suara ketus.


Tuan Arya menghentikan sejenak gerakan tangannya, melihat itu Eva merubah sikapnya yang arogan.


"Ah, maaf. Aku tidak terlalu menyukai sup jamur, sedikit alergi. Jadi, bisakah kalian menjauhkannya dari hadapanku?" Suara Eva berubah lembut.


Ia melirik ayah mertuanya, kemudian Caesar dan terakhir Cempaka yang berdiri sejajar dengan para pelayan. Wanita itu menundukkan kepala, membuat Eva diam-diam mengulas senyum jahat.


Menyebalkan. Apakah dia sedang mencari muka di hadapan ayah? Kau hanya seorang gadis belian, tidak pantas bersaing denganku.


****


"Ayah! Apa Ayah sudah meminum obat?" tanya Caesar sembari membenarkan kancing lengannya.


Ia melihat laki-laki tua itu duduk sambil membaca surat kabar harian di teras.


"Ah, Ayah lupa. Di mana kau menyimpannya?" Tuan Arya menurunkan koran dari depan wajah, menatap Caesar yang tampak gagah persis seperti dirinya saat muda dulu.


"Eva yang menyimpannya. Aku akan memberitahunya." Caesar hendak beranjak, tapi kemunculan Eva menghentikannya.


"Ayah belum meminum obat. Aku bawakan sesuai jadwal yang diberikan ibu." Ia duduk dengan elegan, memberikan obat tersebut kepada tuan Arya penuh perhatian.


"Aku akan meminta pelayan untuk mengatur jadwal obat Ayah. Bukan apa-apa, itu semua karena aku jarang berada di rumah." Eva mengusulkan disetujui Caesar dan tuan Arya tidak mempersalahkannya.


"Yah, tidak apa-apa. Ayah mengerti kesibukan kalian." Tuan Arya mengulas senyum, memaklumi keduanya.

__ADS_1


Sosok Yudi dan Cempaka muncul membawakan tas kerja milik Caesar. Eva terlupa akan hal itu, seharusnya dia yang membawakan tas milik Caesar.


"Tuan, Anda melupakan tas kerja Anda. Maaf, saya lancang membawanya," ucap Cempaka tanpa sengaja bersitatap dengan manik tajam Eva.


"Terima kasih." Hati Caesar berdenyut nyeri, jika bukan karena menghargai usaha Eva yang ingin menghadirkan buah hati, tak akan ia melakukan sandiwara itu. Dia ingin Eva dihargai sebagai istri sempurna di mata keluarga. Terutama ayahnya.


Cempaka membungkuk, kemudian berbalik dan pergi ke belakang rumah. Hanya tempat itu yang saat ini memberinya kenyamanan. Duduk bermenung di hadapan sebuah kolam ikan yang dikelilingi bunga-bunga.


"Nona! Anda tidak apa-apa?" tegur salah seorang pelayan yang baru-baru ini menjadi temannya berbincang.


Cempaka mendongak, tersenyum manis menyembunyikan kesedihan hatinya.


"Tidak apa-apa. Duduklah! Siapa namamu?" Eva menepuk ruang kosong di sampingnya, ia tak segan duduk berdampingan dengan para pelayan.


"Tidak apa-apa, Nona. Saya di sini saja." Pelayan itu memilih duduk di atas sebuah batu, khawatir Caesar akan memergokinya. "Nama saya Lusy, Nona. Saya masih terbilang baru bekerja di rumah ini. Tugas saya membersihkan halaman belakang ini," ucap Lusy kemudian.


Cempaka tersenyum, jika diperhatikan Lusy seusia dengan Eva. Mungkin juga sudah memiliki suami dan anak. Apakah dia hidup bahagia?


"Baiklah. Aku Cempaka. Mmm ... Lusy, apa kau sudah menikah?" Pertanyaan itu spontan ia ucapkan. Cempaka menilik wajah sederhana Lusy, dari senyum yang diukirnya dia tahu bahwa wanita itu sangat bahagia dengan pernikahannya.


"Sudah, Nona. Kami bahkan sudah memiliki dua orang anak. Keduanya sudah bersekolah," jawab Lusy tak lekang senyum itu dari bibirnya.


Cempaka tersenyum getir, terbesit rasa iri di hatinya untuk memiliki kehidupan sederhana yang bahagia.


"Kau ... pasti bahagia. Dulu, aku juga bercita-cita membangun rumah tangga yang sederhana. Hidup bahagia walau makan seadanya, tapi takdir berkata lain. Aku harus berada di sini," ungkap Cempaka diakhiri helaan napasnya yang panjang.


Lusy mengangkat wajah, menatap nanar sang majikan. Dia memang hidup sederhana jauh dari kemewahan, tapi laki-laki yang menikahinya selalu menaburkan cinta setiap hari pada hatinya.


"Anda yang sabar, Nona. Suatu saat keadaan pasti berubah." Lusy berucap menenangkan, tak ada yang dapat ia lakukan untuk Cempaka. Melihat ketidakadilan yang terjadi, ia tahu seperti apa menjadi wanita itu.


Cempaka menurunkan pandangan, tersenyum tulus pada pelayan itu.


"Terima kasih banyak karena sudah mendengarkan aku. Aku senang karena sekarang ada teman bicara selain pak Yudi," ucapnya lagi penuh syukur.


"Ekhem! Bisa aku bicara denganmu?"

__ADS_1


Suara itu menyentak obrolan mereka.


__ADS_2