(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 110


__ADS_3

"Apa kau menghubungi rumah utama dan memberitahukan kedatangan kita?" tanya Caesar tanpa melirik Arjuna dan terus bermain dengan anaknya.


"Tidak, Tuan. Kapan Anda akan kembali ke perusahaan?" Arjuna balik bertanya pasalnya sudah beberapa hari Caesar absen di kantor.


"Tunggu sampai semuanya selesai. Aku akan ke kantor jika waktunya tiba," jawab Caesar tanpa dapat memastikannya.


"Apa kau juga menyadarinya, Arjuna. Ayah jauh lebih sehat sekarang, wajahnya tidak pucat seperti dulu. Selalu ceria dan tersenyum. Ayah sepertinya berbahagia di masa tua," ungkap Caesar sambil tersenyum membayangkan wajah tuan Arya yang selalu dihiasi kebahagiaan.


"Anda benar, Tuan. Entah apa yang terjadi dan pengobatan apa yang dilakukan tuan besar sehingga menjadi lebih sehat seperti sekarang ini, tapi apapun itu aku senang melihatnya," timpal Arjuna sambil tersenyum ikut merasa bahagia dengan perubahan drastis sang tuan besar.


"Kira-kira siapa yang sudah merawat ayah? Perawat mana yang ayah datangkan, tapi aku tidak melihat perawat di villa ayah. Apa kau melihatnya?" Caesar melirik Arjuna, meminta pendapatnya.


Arjuna tampak berpikir, mengingat-ingat saat mereka menginap di villa.


"Saya tidak mengingat adanya perawat di villa. Hanya saja, saya sering melihat tuan besar mengkonsumsi minuman seperti teh secara rutin. Pagi dan sore." Arjuna mengingat itu.


Mungkin itu yang menyebabkan tuan Arya jauh lebih sehat dari sebelumnya.


"Kau benar, aku juga sering melihatnya. Dari mana ayah mendapatkan minuman itu? Aku harus berterimakasih kepadanya," ujar Caesar merasa berhutang budi kepada orang yang telah berjasa membuat ayahnya sehat kembali.


"Sebaiknya Anda tanyakan sendiri kepada tuan besar. Saya kira tuan besar pasti akan memberitahu Anda semuanya," usul Arjuna disambut anggukan kepala oleh Caesar.


Sementara di rumah utama, Cempaka, Lucy, dan penghuni lainnya sedang menikmati kebersamaan mereka di meja makan. Menu rumahan yang diolah sesuai selera keluarga tersebut.


"Jadi, kalian akan pergi pagi ini juga?" tanya tuan Arya usai menenggak air putih.

__ADS_1


"Iya, Ayah. Rasanya tidak enak meninggalkan resort terlalu lama," jawab Cempaka mengulas senyum kepada lelaki tua itu.


Tuan Arya menghela napas, dia masih ingin bermain dengan cucunya selain menunggu kedatangan Caesar.


"Kenapa terburu-buru? Ayah masih ingin bermain dengan kedua cucu Ayah. Rasanya Ayah sudah merindukan mereka, padahal masih di depan mata." Tuan Arya menatap si Kembar, rasanya tak rela berpisah.


Cempaka melihat binar kerinduan di manik berkabut itu. Tuan Arya mungkin saja kesepian di hari tuanya. Dia butuh teman yang bisa menghibur seperti si Kembar yang mengisi hatinya dengan tawa renyah mereka.


Cempaka melirik Lucy, dalam hati tak tega melihat kesedihan di wajah tua itu. Namun, harus bagaimana? Mereka memiliki usaha yang harus diurus.


"Ayah tidak perlu risau, kapanpun Ayah ingin bertemu mereka, waktu mereka akan selalu ada untuk Ayah." Cempaka tidak tahu harus berkata apa, hatinya bisa merasakan kesedihan yang dialami tuan Arya karena berpisah dengan kedua cucunya.


Tuan Arya mendesah berat, tak dapat memaksa Cempaka untuk tetap tinggal dan tak dapat mencegah kepergiannya. Ia mengangguk-anggukkan kepala mengerti, lantas memaksa kedua sudut bibir untuk mengulas senyuman.


"Yah, Ayah mengerti. Ayah juga tidak dapat mencegah kalian pergi, tapi Ayah harap kalian akan sering-sering mengunjungi Ayah. Entah di villa ataupun di sini," pintanya menatap tulus manik Cempaka.


****


"Lucy, bisakah kita di sini sebentar lagi? Aku tidak tega rasanya melihat wajah sedih ayah," ucap Cempaka sembari memperhatikan tuan Arya yang sedang bermain dengan si Kembar di ruang keluarga.


"Sepertinya tidak masalah. Aku juga tidak tega melihatnya tadi. Kau tahu, seperti melihat mata kedua ayahku," timpal Lucy membayangkan mendiang sang ayah yang telah lama pergi.


"Mungkin kita akan menunggu beberapa jam lagi saja, sampai hati Ayah sedikit lega," ucap Cempaka seraya tersenyum.


Keduanya memilih duduk di teras belakang, memandangi hamparan sayur-mayur yang ditanam dan dirawat para pekerja. Membuat siapa saja datang merasa betah tinggal di sana. Udara sejuk, jauh dari hiruk-pikuk keramaian. Kendaraan jarang melintas, hanya sesekali terdengar menderu dan itupun tidak begitu menyakitkan telinga.

__ADS_1


"Sepertinya kedua anakmu betah tinggal di sini, Manda. Mereka sangat jarang terdengar menangis. Mungkin mereka tahu di sinilah keluarganya," ucap Lucy diakhiri helaan napas panjang setelah membandingkan keadaan si Kembar di rumah sana dan di rumah utama itu.


"Kau benar. Bahkan, mereka saja tahu siapa keluarganya. Aku tidak akan mungkin bisa memisahkan mereka. Darah selalu lebih kenyal dari pada air." Cempaka menimpali sembari tersenyum membayangkan kedekatan si Kembar dengan kakeknya.


"Mungkin mereka juga akan langsung mengenali ayah mereka begitu bertemu. Atau Caesar harus bersabar dan berjuang dengan keras untuk dekat dengan mereka." Lucy tertawa membayangkan itu, disambut Cempaka yang ikut membayangkan betapa repotnya Caesar menangani kedua anaknya.


"Dan kau akan menikmati momen itu, Manda. Kau hanya perlu menjadi penonton, menyaksikan betapa sibuknya Caesar." Lucy kembali tertawa. Seandainya semua itu memang terjadi, sudah pasti akan menggelikan.


"Yah, semoga saja mereka lebih cepat akrab. Agar aku bisa memintanya untuk menggantikan aku ketika sedang repot. Mengganti popok misalnya," ucap Cempaka. Rasanya dia ingin mengerjai Caesar lewat kedua anaknya itu.


Yang Cempaka tidak tahu adalah, Caesar sendiri sudah memiliki pengalaman mengurus seorang bayi. Evan, meski hanya sebentar saja Caesar sudah mengerti seperti apa repotnya.


Kedua wanita itu asik berbincang sampai waktu yang mereka tentukan untuk pergi tiba. Cempaka mengajak Lucy beranjak dan masuk ke kamar menyiapkan semua yang akan mereka bawa. Memastikan tidak ada satupun barang yang tertinggal.


Cempaka dan Lucy menyeret koper mereka, dua orang pekerja sigap mengambil alih benda itu saat melihat keduanya keluar kamar. Tuan Arya yang masih asik bercengkrama dengan kedua cucunya itu menoleh saat mendengar suara benda diseret.


Kenapa Caesar belum datang juga? Bukankah jarak dari rumahnya ke rumah ini tidak begitu jauh? Lalu, apa yang menyebabkannya terlambat seperti ini?


Tuan Arya membatin, tak habis pikir kenapa anaknya itu belum muncul juga. Gelisah melihat Cempaka sudah menyeret kopernya keluar. Ia beranjak sambil mengendong salah satunya, dan satu lagi diambil Lucy.


"Jadi, kalian akan pergi sekarang?" Tuan Arya mendesah kecewa, sampai matahari naik Caesar masih belum tiba di rumah itu.


"Iya, Ayah. Ini sudah siang, aku takut sampai di rumah tengah malam jika menundanya lagi," jawab Cempaka sembari mengambil alih anak yang digendong tuan Arya.


Helaan napas kecewa berhembus kuat, tak rela itulah yang terlihat di wajah tuanya.

__ADS_1


"Yah, kau benar. Jika begitu Ayah antar ke mobil kalian," sahut tuan Arya harus bisa menerima kenyataan bahwa takdir belum ingin mempertemukan mereka.


Namun, baru saja keluar dari pintu utama, sebuah mobil memasuki gerbang dan berhenti tepat di samping mobil yang akan membawa Cempaka pergi. Senyum tuan Arya mengembang, tapi Cempaka terlihat biasa saja. Belum tahu siapa yang ada di dalam sana.


__ADS_2