
Hari-hari dilalui Cempaka dengan penuh kebahagiaan, tak ada lagi yang merendahkan dirinya. Semua orang bersikap hormat dan sopan meski terkadang Cempaka masih merasa tak enak hati.
Hari itu, Cempaka dibingungkan dengan para pekerja yang terlihat sangat sibuk di rumah. Mereka sudah bekerja dari subuh, membawa sebagian alat-alat entah ke mana.
"Pak, Yudi! Mereka akan membawa semua itu ke mana?" tanya Cempaka demi menuntaskan rasa penasarannya.
"Sebagian para pekerja akan membantu saya menyiapkan acara untuk nanti malam di perusahaan, Nyonya," jawab Yudi setelah menundukkan kepala di hadapan Cempaka.
"Acara? Ada acara apa?" Dahi wanita itu berkerut, belum lama tinggal di rumah itu ia tak tahu apapun.
"Hari ini hari ulang tahun perusahaan, Nyonya. Anda harus mempersiapkan diri untuk datang ke acara pesta tersebut," ujar Yudi sambil tersenyum, layaknya seorang ayah kepada anaknya.
Cempaka menganga dengan lidah yang kelu, tak menduga begitu cepat dia harus berbaur dengan lingkungan Caesar. Ia tak tahu harus melakukan apa, tetap berdiri di sana menatap Yudi yang berlalu mengatur para pekerja.
"Ada apa, Manda?" tanya Lucy datang sambil membawa bayi Zio.
"Akan ada pesta ulang tahun perusahaan nanti malam," jawab Cempaka tanpa mengalihkan pandangan dari kesibukan para pekerja.
****
Cempaka tengah menemani ketiga bayi itu bermain dengan pengasuh mereka. Bayi Evan mulai dekat dengannya karena Caesar memperkenalkan Cempaka sebagai ibu.
Sebuah pesan masuk ke ponselnya, mengalihkan perhatian Cempaka dari mereka yang asik bermain.
Bersiaplah, aku mengirim utusan untuk menyiapkan dirimu. Kau harus terlihat cantik, aku akan menjemputmu jam tujuh malam nanti.
Pesan dari Caesar membuat ritme jantung Cempaka tak menentu. Sedikit merasa lega karena ia akan mengirim utusan untuknya. Cempaka menatap jam di dinding, masih terlalu pagi untuk bersiap. Mungkin saat sore hari nanti utusan itu akan datang.
Suara gaduh yang terjadi di teras rumah mengalihkan perhatian Cempaka dari pesan yang dikirimkan Caesar.
"Bukankah itu suara Eva?" gumam Cempaka setelah mengenali suara tersebut. Ya, gerbang yang terbuka karena kesibukan para pekerja memudahkan Eva dan komplotannya untuk masuk ke halaman. Yudi dan pekerja lainnya sudah pergi dari rumah, menyisakan sebagian pekerja saja.
"Bawa mereka ke kamar! Jangan keluar apapun yang terjadi. Kalian bertanggungjawab atas keselamatan mereka!" titah Cempaka kepada tiga pengasuh anaknya.
__ADS_1
"Baik, Nyonya!" Ketiga pengasuh tersebut menjawab serempak, seraya beranjak sambil menggendong bayi asuhannya masing-masing.
"Manda!" Lucy datang dengan wajah panik dan cemas.
"Tidak apa-apa, jangan panik." Cempaka tersenyum sambil menepuk bahu Lucy.
Suara teriakan Eva menggema hingga ke dalam rumah. Mereka tidak diizinkan masuk oleh para penjaga tepat di pintu utama.
"Di mana Caesar! Aku ingin membuat perhitungan dengannya. Pertemukan aku dengannya!" teriak Eva tanpa tahu malu. Ia datang bertiga bersama Lisa dan sang ibu, menyerobot masuk ke dalam meski pertahanan para penjaga tak dapat mereka tembus.
"Caesar tidak di rumah, dia sedang di kantor. Jika kau ingin membuat perhitungan, datanglah ke kantornya. Jangan membuat keributan di sini," ucap Eva sambil berjalan pelan bersama Lucy mendekati pintu utama.
Tiga orang penjaga itu membelah diri, berdiri di sisi kanan dan kiri sambil menunduk. Eva menggeram, seharusnya dia yang mendapat kehormatan itu bukan Cempaka.
"Cempaka!" Lisa membelalak, begitu juga dengan ibu Eva. Sungguh ia tak menyangka akan bertemu gadis itu di rumah Caesar.
"Cempaka?" Dia memanggil dengan nada tak percaya.
"Oh, Ibu tiri. Apa kabar? Sepertinya kehidupanmu jauh lebih baik dari sebelumnya," sapa Cempaka sambil tersenyum ramah. Tindakannya itu mengundang kebingungan dari mereka yang ada.
"I-ibu tiri?" lirih Eva terbata-bata tak percaya.
Wanita tua itu menatap nyalang Cempaka, kebencian di hatinya semakin menjadi. Terlebih saat tahu bahwa Cempaka-lah yang telah merebut Caesar dari anaknya.
"Untuk apa berbasa-basi tentang keadaanku. Ternyata kau yang sudah menghancurkan rumah tangga anakku. Memang, ayah dan anak tidak akan jauh berbeda. Ada baiknya kau ikut ayahmu mendekam di dalam penjara," ucap wanita tua itu dengan lantang.
Eva menganga, menatap sang ibu dengan mata yang melebar. Sungguh tak menduga, bila yang menikah dengan ibunya adalah ayah Cempaka.
"Kenapa aku harus ikut ayahku ke dalam penjara? Sementara aku tidak melakukan kesalahan apapun. Apa kau takut semua kebusukanmu aku bongkar, Ibu?" Cempaka menekan kata ibu, wajahnya masih berseri menatap wanita tersebut. Sebuah senyum yang menyiratkan ancaman untuknya.
"Kau ... memang apa yang bisa kau lakukan?" tantang wanita itu dengan angkuh.
"Aku? Aku bisa melakukan apa? Aku bisa melakukan apapun yang dulu Eva lakukan," tegas Cempaka menatap tajam sosok Eva yang masih tertegun dengan kenyataan baru tersebut.
__ADS_1
"Katakan padanya, Eva ... ups, maaf, Kakak tiri. Katakan padanya apa yang dulu bisa kau lakukan?" lanjut Cempaka sembari menatap Eva dengan dalam.
Eva mengatupkan bibir seiring rahang yang ikut mengeras. Kedua tangannya terkepal erat, ingin rasanya mencabik wajah Cempaka yang saat ini terlihat angkuh.
Lisa masih tertegun dengan keadaan di depan matanya, semua terlihat rumit. Dia hanya melirik Eva dan Cempaka bergantian, juga ibu mereka.
"Sombong-"
"Sama seperti dirimu saat menjadi nyonya di rumah ini, bukan?" sela Cempaka semakin menambah emosi di dalam hati Eva.
"Apa yang sudah kau lakukan terhadap Caesar sehingga dia melayangkan surat cerai untukku?" sengit Eva bertanya.
Cempaka mengernyitkan dahi bingung, dari ucapannya dia tahu bahwa Caesar telah menceraikan Eva.
Jadi, mereka sudah bercerai? Kukira hanya berpisah sementara.
"Katakan padaku, apa yang sudah kau lakukan padanya?!" bentak Eva, suaranya meninggi beberapa oktaf.
"Aku tidak melakukan apapun. Aku bahkan, tidak tahu jika Caesar menceraikanmu. Bukankah kau seharusnya bertanya pada dirimu sendiri? Bukan padaku. Atau kau datangi Caesar dan tanyakan padanya tentang alasan perceraian kalian. Aku yakin semua itu bukan disebabkan karena aku," sahut Cempaka masih bersikap tenang menanggapi ocehan Eva.
"Kau!" Eva merangsek cepat hendak mencakar wajah Cempaka, tapi penjaga di sana dengan sigap mencekal tangannya.
Eva memberontak, berteriak seperti orang gila. Cempaka tersenyum, berjalan pelan mendekatinya. Di sana, ibu Eva juga tidak tinggal diam. Ia membantu sang anak agar terlepas dari cengkeraman penjaga tersebut. Namun, dihalau penjaga lainnya.
"Lepaskan anakku! Lepaskan kami!" teriaknya meronta-ronta.
"Kau lihat! Bahkan, selangkah saja kau tidak bisa mendekati aku. Jika kalian ingin bertamu, maka datanglah secara baik-baik. Jangan membuat keributan, mungkin aku akan mengizinkanmu masuk dan duduk di dalam rumah. Tidak seperti ini," ujar Cempaka sembari menggelengkan kepala pelan.
"Diam kau! Ini adalah rumahku, bukan rumahmu. Aku nyonya di sini, bukan kau!" sentak Eva kuat-kuat.
Cempaka berjengit, memang tak sadar diri wanita satu itu.
"Siapa yang mengatakan itu!" Semua orang terdiam saat suara lain ikut berbaur di dalam perdebatan mereka.
__ADS_1