Anak Genius : TWINS PEMBAWA KEBAHAGIAAN.

Anak Genius : TWINS PEMBAWA KEBAHAGIAAN.
GARA-GARA BAJU DASTER.


__ADS_3

🦋🦋🦋🦋 KALAM ULAMA 🦋🦋🦋🦋


"Lihat dengan Hati, maknailah dengan nyata"


Manusia hanya sebutir DEBU pada MEGAHNYA SEMESTA.


"Namun di dalamnya terdapat HATI & JIWA.


Yang bisa memuat DUNIA & segala ISINYA.


Yang pada akhirnya akan menjadi API atau CAHAYA..?


"Jangan benarkan KEBURUKAN dalam hal BIASA.namun biasakan KEBAIKAN dalam hal BENAR."


__(Habib Achmad Al atthos )__


🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋


"Ini hukuman karena sudah mengabaikan suami kamu ini!!." Kata Rio dengan senyum sumringahnya, membuat mata Cindy membulat terlihat kesal.


"Iis apaan sih kak Bian!, inikan lagi di luar, kalau tiba-tiba twins datang gimana kak?." protes Cindy Kesal melihat lelakuan suaminya.


"Udah kamu tenang aja Twins bakalan ada di sini." balas Rio yang kemudian ia bangkit dari tidurannya yang di atas pasir dan langsung berdiri. "Ya sudah kalau kamu takut twins melihat kemesraan kita, ayo ikut kak Bian." Kata Rio lagi, sembari ia menarik tangan Cindy yang masih duduk di atas pasir.


"Mau kemana kak?." Tanya Cindy yang akhirnya ia ikut berdiri karena di tarik oleh Rio.


"Ada deh, ayo ikut aja, pasti kamu bakalan suka kok." Kata Rio yang kemudian ia menggandeng tangan Cindy lalu mereka pun berjalan beriringan menelusuri pesisir pantai hingga mereka memasuki sebuah pedesaan yang terlihat sepi.

__ADS_1


"Kita mau kemana sih kak, kok nggak sampai-sampai dan ini dimana banyak rumah tapi kok nggak ada orang ya?." Tanya Cindy dengan mata yang masih melihat sekeliling desa yang mereka lewati.


"Jam segini desa ini memang sepi Cha, karena para warganya pada bekerja." Balas Rio yang masih menggandeng tangan istrinya.


"Lalu kita mau kemana sekarang kak?." Tanya Cindy penasaran.


"Sabar Acha sebentar lagi kita sampai kok." Kata Rio lagi, Mendengar perkataan Rio Cindy akhirnya pun terdiam dan hanya mengikuti langkah suaminya, hingga akhirnya mereka memasuki sebuah hutan kecil yang di tengah-tengahnya ternya ada sebuah rumah kecil berdindingkan bambu separo.



Cindy terkesima melihat rumah tersebut yang kecil namun terlihat nyaman dan tenang.


"Apakah kamu menyukainya sayang?." Tanya Rio, menyadari Cindy yang sedang terkesima melihat rumah tersebut.


"Iya terlihat indah dan nyaman kak, tapi ini rumah siapa kak?." Tanya Cindy kembali.


"Dan sekarang rumah ini akan menjadi tempat persembunyian kita dari keluarga perusuh itu." Lanjut Rio, terlihat jelas saat ia mengucap keluarga perusuh ada senyum kepuasan karna ia merasa terbebas dari gangguan keluarga Daffin.


"Iis, kak Bian, kamu kok gitu sih?, merekakan Sudah banyak berjasa untuk kita, lagian Daffinkan bos kak Biankan?, jangan terlalu kejam kak." Tegur Cindy mengingatkan suaminya.


"Iya iya, maaf ya sudah ayo kita masuk sekarang, malam kita nginap di sini nggak papakan sayang?." Tanya Rio sembari ia merangkul pundak Cindy dan berjalan mendekati pintu rumah kecil tersebut.


"Eh, nanti kalau mereka mencari kita giimana kak, ?" tanya Cindy balik.


"Biarkan saja sayang lagian cuma satu malam aja pun, pasti nggak papa." Balas Rio yang kini ia sudah membuka pintu rumah kecil tersebut.


"Tapi Kitakan tidak bawa apa-apa kak, baju, mukena untuk sholat juga nggak ada nanti Acha mau sholat gimana?." Tanya Cindy yang terlihat ia tak menyukai ide Rio, yang ingin bermalam di rumah kecil tersebut.

__ADS_1


"Acha aku mengajak kamu kesini itu artinya semuanya sudah aku siapkan sayang, kamu lihat sana di kamar, sekalian mandi ya, biar kak Bian masak untuk makan siang kita." Ujar Rio yang kemudian ia berjalan menuju ke dapur, sedangkan Cindy masih terkesima melihat isi rumah kecil, yang ternyata isinya yang sederhana namun terlihat indah seperti di ruang tamu yang hanya ada meja Osin dan beberapa batal kecil menambah unik di lihatnya, yaa ternyata Rio memang membuat isi rumah seperti di Jepang,


Kini Cindy berjalan menuju ke sebuah kamar yang terlihat hanya ada satu kamar, lalu ia pun membuka pintu kamar tersebut, dan sekali lagi Cindy terlihat takjub melihat isi kamar, yang di sana hanya ada sebuah spring bed yang di letakkan di lantai tanpa ada ranjangnya dan sebuah lemari kecil yang terbuat dari plastik yang di depannya hanya tertutup dengan resleting besar, membuat Cindy tersenyum lucu.


"Hihihi, jadi teringat waktu kos dulu, tidur di lantai hanya pakai kasur busa, lemari dari pelastik, heh jadi kangen masa itu deh." _Batin Cindy yang kemudian ia pun membuka lemari pelastik tersebut dan ternyata di sana ada beberapa baju wanita dan beberapa baju pria, dan terlihat juga ada mukena dua sejadah dan ada al'quran juga di atas Cindy kembali tersenyum, ternyata suaminya telah mempersiapkan segalanya.


"Eh, daster?!." Gumam Cindy kaget saat mengambil sebuah baju yang terlipat di dalam lemari kecil itu. "Hihihi kayak emak-emak dong aku kalau pakai ini, ikh kak Bian aneh mah, masa nyiapin baju daster sih?, ah sudahlah pakai aja." Gumamnya lagi dan kemudian ia pun pergi ke kamar mandi dan tak berapa lama ia kembali lagi dengan pakaian yang sudah berganti dengan baju daster tadi, dan kemudian ia pun keluar kembali dari kamarnya dan menghampiri Rio yang ternyata ia juga sudah selesai memasaknya.


"Kak, kok cuma ada baju daster sih?, kan Acha jadi kayak emak-emak tukang rumpi jadinya." Protes Cindy saat ia sudah di dekat Rio, dengan wajah yang terlihat cemberut dan dengan kedua tangannya yang memegang baju dasternya yang dia kembangkan.


Mendengar protesan istri kecilnya, Rio pun menoleh kearah Cindy, dan terlihat wajah istrinya yang terlihat menggemaskan baginya, lalu ia pun tersenyum lucu saat melihat baju daster yang di pakainya. Cindy yang melihat suaminya malah tertawa membuatnya makin kesal.


"Tuh kan malah di ketawaain!, Huh!, jadi malas pakainya!." Kata Cindy kesal sambil menyentak kakinya ia pun langsung pergi ke kamar lagi.


"Eh, sayang sorry sorry, Kak Bian bukan ketawa kamu pakai baju itu.." Bales Bian sambil mengejar istrinya yang kini sudah memasuki kamar mereka. Rio pun ikut masuk kedalam kamar mereka juga. dan ia pun melihat istri kecilnya sedang membuka baju dasternya, terlihatlah tubuh indah sang istri, yang terlihat juga perutnya mulai membucit kecil bila ia memakai baju longgar perut itu tidak akan keliatan.


"Sayang maafkan kak Bian, kak Bian bukan ketawa kamu pakai baju daster loh, kak Bian tertawa karena melihat wajah kamu yang lucu bila sedang ngambek sayang." Rayu Rio, tapi Cindy tidak mau meresponnya ia malah melempar baju dasternya ke atas spring bed, " Haiis ini gara-gara baju daster, istri kecilku jadi merajukkan!." Gumam Rio jadi kesal sama diri sendiri juga kenapa ia harus tertawa tadi.


"Sayang maafin Kak Bian, benaran deh kami yang bukan menertawai kamu karena memakai baju daster itu sayang ayolah jangan merajuk lagi sayang." Rayu Rio lagi yang masih berdiri di dekat Cindy dan masih tidak mau merespon suaminya


ia malah berjalan ke kamar mandi dengan hanya memakai pakaian dalamnya saja dan bermaksud mengambil bajunya yang tadi. Namun langkahnya terhenti karena Rio sudah melingkarkan tangannya di perut buncitnya dari belakangnya.


"Sayang kenapa perajuk banget sih, hum?, tahu kenapa kak Bian hanya menyediakan baju daster, itu karena kak Bian suka sayang, dan biar kamu nyaman apalagi sekarang perut kamu sudah membuncit jadi kalau pakai daster kamu tidak akan sesakan hmu.." Ujar Rio yang kini wajahnya letaky di tengkuknya Cindy membuat tubuh istrinya menggeliat..


"Humm..kak Bian!...uhmm!!"


__________.

__ADS_1


__ADS_2