
ೋ๑୨🦋MUTIARA ALFAQIRAH🦋୧๑ೋ
"Sibuklah dengan diri kalian,
Perbaiki kekurangan Mu
Perbaiki Aibmu karena kamu akan ditanya (Allah) tentang dirimu, bukan tentang orang lain"
🦋Ali Bin Abi Thalib🦋
•❅❀❦ೋ๑୨◎❅❀❦🦋❦❀❅◎୧๑ೋ❦❀❅•
"Itu maksudnya.. saya kedatangan tamu bulanan pak." Balas Cindy dan ia kembali menundukkan wajahnya karena malu.
" Oh..Eh, Apa?!" Rio tersentak kaget setelah mendengar perkataan Cindy. " kamu datang bulan Acha?" tanyanya lagi untuk memastikan bahwa pendengarannya tidak salah, namun hanya dibalas dengan anggukan kepala saja oleh Cindy.
Melihat anggukan dari Cindy, wajah Rio langsung berubah, "Aah!," ia nampak frustasi karena sepertinya ia sudah merencanakan sesuatu terhadap Cindy.
mendengar nafas kecewa dari Rio Cindy jadi penasaran," Ada apa pak?." tanyanya saat ia melirik, Rio, ada kecewa di wajahnya.
"Tidak ada apa-apa Acha." dalih Rio, " Ya sudah kalau begitu sebaiknya kamu istirahatlah kembali, aku sholat dulu ya." sambung Rio lagi, yang kemudian ia berjalan ke arah sajadah yang sudah di bentangnya tadi, dan kemudian ia pun melaksanakan kewajibannya terhadap Rabb nya.
Sedangkan Cindy ia masih terhanyut dalam kebingungannya, karena iya tak memiliki stok pembalutnya sama sekali hingga ia menjadi uring-uringan, karena ia bingung untuk mengatakan pada Rio.
"Loh kok kamu tidak kembali tidur Acha?" Tanya Rio setelah ia menyelesaikan ritual Sholatnya,
Cindy terlihat kaget saat mendengar suara Rio.
"Eh!, ti.tidak pak, sa.saya.." Ucapan Cindy langsung terpotong oleh Rio, karena terlihat Rio tidak sabar menunggu perkataan Cindy.
"Ada apa Acha?, kenapa kamu terlihat bingung?, " Tanya Rio lembut.
"I.i.itu..pak. sa..saya.."
"Iya kamu kenapa?" potong Rio lagi.
"A.anu..pak..i.itu..anu..sa.saya..."
"Anu, anu..anu apa Acha, Katakan yang benar Acha, jangan takut, saya tidak akan menggigit kamu kok." potong Rio lagi yang terlihat semakin penasaran.
__ADS_1
"Eh, Emang bapak gunggung apa menggigit" Gerutu Cindy, saat mendengar kata menggigit.
"Nah itu bisa lancar, sekarang katakan kamu kenapa?" Kata Rio setelah mendengar grutuan Cindy.
"I.itu pak, s.stok p.pembalut saya habis pak," Kata Cindy gugup karena ia juga sedang menahan malu.
"Hah?, hanya ingin mengatakan pembalut saja kamu begitu sulit ngomongnya padaku Acha,?" Tanya Rio, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Namanya saya malu pak." Balas Cindy yang masih menundukkan wajahnya.
"Malu sama siapa?"
" Ya sama bapaklah!"
"Emang aku ini siapa?"
" Kenapa bapak bertanya seperti itu?" Tanya Cindy yang kini ia sudah mulai berani menatap wajah Rio.
"Cuma ingin tahu aja, aku ini siapa sih?" Tanya Rio lagi, sambil ia melipatkan tangannya, dan kemudian ia membukukkan tubuhnya hingga wajahnya mendekati wajah Cindy.
Wajah Cindy langsung memerah tatkala wajah mereka saling mendekati. " Eh, apaan sih pak, samaan." Ujar Cindy sambil mundur.
Melihat wajah Rio yang begitu dekat, Wajah Cindy semakin mamerah dan degupan jantungnya semakin kencang, membuat Cindy semakin salah tingkah, hingga bibir Rio sudah amat dekat dengan bibirnya, dan dengan cepat ia menutup wajahnya, seraya ia berkata
"Iya iya saya Jawab, tapi kesanaan dulu wajah bapak!" Ujarnya dengan wajah yang masih tertutup dengan kedua tangannya.
"Oke Sekarang jawablah Acha.." Kata Rio, yang mulai menjauhkan wajahnya dari Cindy.
"Ba, bapak, bapak, bapak.."
"Apaan sih Acha, bapak, bapak!, aku bukan bapak kamu Acha!, jadi katakanlah aku ini siapa?!" Tanya Rio yang sudah mulai kesal karena Cindy selalu memanggilnya dengan sebutan Bapak.
"Eh, Bapak itu adalah atasan saya.! uaaaah..." Ujar Cindy yang kemudian ia berlari menuju keluar kamar dengan cepat, sudah seperti anak kecil yang sedang ketakutan melihat sesuatu..
"Hah?!, Dia masih menganggapku atasannya?, Haiis!, Dasar bocah kecil!, awas kamu ya?!, lihat saja nanti, aku tidak akan kasih ampun!" Gumam Rio yang terlihat gemas melihat istri kecilnya.
"Akh, sudahlah, sebaiknya aku belikan dia pembalutnya dulu, setelah itu, sebaiknya aku kerja saja, toh bocah kecil itu tidak bisa di apa-apain juga." Gumamnya lagi, dan kemudian ia pun melangkah keluar dari kamar Cindy, dan kemudian langsung menuju keluar rumah Cindy dan menuju ke mobilnya yang masih terparkir di halaman rumah Cindy.
Sementara Cindy yang tadi lari, ternyata ia sudah berada di kamar Bundanya, dengan nafas yang ngos-ngosan ia langsung naik keranjang bundanya dan kemudian ia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Hah..hah..hah.. haiis, sebenarnya gue kenapa sih?, Kenapa begitu sulit untuk mengatakan kalau Rio adalah suamiku, aduuhkan membayangkannya saja jantung gue sudah berdisko gimana kalau mengatakan langsung padanya.huaaa, maluuu!" Gumam Cindy di bawah selimutnya, ia juga menghentak-hentakkan kakinya di bawah selimutnya karena kesal pada dirinya sendiri.
"Lalu sekarang gue harus bagaimana ini, oh bunda, ternyata seperti ini memiliki suami, apa yang harus Cindy lakukan bunda, rasanya lebih enak berantam dengan sepuluh preman dari pada menghadapi pak Rio, membuat jantung berpicu tanpa harus berlari." Gumam Cindy lagi sambil memegang dadanya, yang masih berdendang karena ia teringat saat wajahnya dan wajah Rio saling berdekatan.
"Aduh Cindy, kenapa kamu bodoh sekali sih?, apa gue harus les privat menjadi seorang istri nih, sama Meira yang sudah berpengalaman, kayaknya memang harus seperti itu deh," gumamnya lagi dan saat ini posisinya sedang duduk.." Aduh, kenapa gue kayak orang gila sih, ngomong sendiri jawab sendiri, haiis dasar Cindy semplak!" Gumamnya Cindy lagi dan kini ia menjatuhkan lagi tubuhnya dengan posisi terlentang.
Dan saat bersamaan terdengar ketukan pintu dari luar, membuat jantung Cindy kembali terpicu.
"Acha, aku sudah membelikan pembalut untukmu kutaruh di atas meja ya Dan aku juga sudah membelikan sarapan untukmu jangan lupa dimakan ya Cha, Oh iya aku mau berangkat kerja, kamu masih ingin dsinikan kalau gitu aku pamit ya Assalamu'alaikum." Seru, Rio dari luar kamarnya.
"Iya terima kasih pak, Wa'alaikumus salam." Bales Cindy sembari ia perlahan mulai turun, dan kemudian ia berjalan menuju pintu, dan kemudian ia menempelkan telinganya di daun pintu tersebut.
"Sudah tidak ada suaranya deh kayaknya, mungkin pak Rio sudah berangkat kali ya.?" Gumam Cindy dengan kuping yang masih menempel pada pintu.
"Kayaknya iya deh, sebaiknya aku keluar deh." Gumam Cindy lagi dan kemudian ia pun membuka kunci pintu kamar tersebut dan kemudian dengan perlahan ia membuka pintu, dan bermaksud ingin melongok wajahnya keluar namun, tiba-tiba...
"Muach!" Cindy di kagetkan dengan ciuman singkat di bibir Cindy, membuat mata Cindy membulat kaget..
"Akh, pak Rio curang!, sembarang aja sih mencium orang!" protes Cindy sambil memukul-mukuli dada bidang Rio, dengan wajah yang terlihat memerah antara kesal dan malu.
Rio, yang melihat wajah istrinya yang nampak mengemaskann itu malah tertawa dan kemudian ia juga menangkap kedua tangan Cindy yang lagi memukulinya dan kemudian ia naikkan kedua tangannya itu keatas sedangkan tangan yang satunya lagi ia lingkari di pinggang Cindy dengan tubuhnya yang sudah merapat dinding dekat pintu kamarnya.
"Hahaha, itu balasan, karena istri kecilku yang nakal ini sudah membuat aku kesal, karena mengatakan aku hanya atasan, jadi ciuman itu menjadi bukti, hanya seorang suami yang bisa melakukan itu Acha." Kata Rio lagi yang kemudian ia kembali meraih bibir ranum Cindy dengan lembut membuat mata Cindy kembali membulat.
"Umm..humm!." Cindy seperti hendak protes namun tidak di hiraukan oleh Rio, ia malah semakin hanyut dalam ciuman itu, dan setelah merasa puas ia pun melepaskan tautannya.
"Ini adalah hukuman, karena kamu tidak mau mengakui bahwa aku adalah suami kamu, " Kata Rio setelah melepaskan tautannya. " Apakah kamu sekarang sudah paham?, jadi ingatlah mulai sekarang harus mengingatnya kalau Rio Febrian adalah suami kamu, kamu mengerti?!" Sambung Rio lagi dan hanya di anggukkan oleh Cindy.
"Bagus!, ya sudah sekarang kamu pakailah pembalut kamu, dan setelah itu kamu sarapan ya," Kata Rio dengan lembut.dan hanya di anggukkan saja oleh Cindy. " Ya sudah aku berangkat kerja ya, kamu di baik-baik ya sayang." lanjut Rio lagi sembari ia memberikan kecupan lembut pada dahinya Cindy, sementara Cindy hanya terdiam kaku.
"Assalamu'alaikum sayang." salam Rio yang membuat jantung Cindy berdebar tidak menentu mendengar kata sayang dari Rio.
"Wa'alaikumus salam" Jawabnya lirih, dan setelah itu Rio pun berlalu meninggalkan Cindy yang masih terdiam terpaku, terlihat sekali kalau ia sedang syok karena mendapatkan serangan mendadak.
*********
Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys..🙏😉
Terus dukung author dengan memberikan VOTEnya, agar novel Author terpilih jadi pemenang.. hehehe, mimpi kamu Thor🤣🤣
__ADS_1
ya sudahlah serahkan pada Allah dan para Readers saja,🙏😉 Syukron.