Anak Genius : TWINS PEMBAWA KEBAHAGIAAN.

Anak Genius : TWINS PEMBAWA KEBAHAGIAAN.
KECURIGAAN ABIDZHAR.


__ADS_3

══ ✥.❖.✥ 💗Kalam Habaib 💗✥.❖.✥ ══


"Jadikan cinta yang bermuara dari hati sebagai cabang cinta kita kepada Allah. Cinta Allah adalah dasarnya. Apapun yang dicintai-Nya, maka akan kita cintai"


[ Abuya Prof. Al Habib Abdullah bin Muhammad Baharun ]


💠 ✥.❖.✥ ✥.❖.✥ ✥💗✥ ✥.❖.✥ ✥.❖.✥💠


"UMMAAA!!"


Mendengar jeritan anak kecil membuat Meira serta yang lainnya termasuk Abidzhar, menoleh kearah sumber suara jeritan tersebut, dan terlihatlah sepasang anak kecil berlari-lari menuju ke arah Meira dan teman-temannya.


"Azia, Azmy,?" gumam Meira dan di dengar oleh Abidzhar, hingga membuat ia mengerenyit.


"Anak siapa mereka?" gumam Abidzhar yang terdengar juga oleh Meira hingga spontan Meira pun menjawab.


"Anak-anak Ana!" katanya dengan tatapannya kearah si kecil sambil tersenyum pada mereka dengan tangannya ia rentangi seakan ingin menyambut kedatangan mereka, membuat Abidzhar tercengang setelah mendengar perkataan Meira, apa lagi saat ia melihat Meira seperti ingin menyambut kedatangan keduanya, halhasil ia hanya terdiam dan terpaku melihatnya.


Dan benar saja keduanya langsung memeluk Meira dan di sambut dengan hangat olehnya.


"Sayang, kenapa kalian datang kesini?" tanya Meira heran.


"Karena kami ingin tahu yang namanya reunian Umah" kata si kecil Azia dengan wajah polosnya.


"Kalian datang sama siapa sayang?" tanya Meira lagi


"Tentu saja sama Biyah, tuh Biyahnya " kata Azmy sembari menunjuk seorang pria tampan memasuki Aula Acara reunian tersebut, membuat tatapan mata yang ada di sana mengarah ke Daffin.



Termasuk Abidzhar ikut menoleh kearah yang di tunjuk oleh Azmy, dan terlihat juga dari tatapan Daffin yang membalas menatap Abidzhar kembali, dan saat Daffin sudah mendekati Istrinya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum sayang" salam Daffin yang kemudian ia langsung memberikan kecupan lembut di dahinya Meira, namun matanya masih mengarah ke Abidzhar yang sangat terlihat jelas ada kemarahan di matanya.


"Wa'alaikumus salam mas, loh kenapa mas nggak jadi pergi ke rumah Mama?" tanya Meira setelah Daffin melepaskan kecupannya.


"Anak-anak meminta mas untuk membawa mereka ke acara reunian Umahnya Sayang," kata Daffin dengan menekan kata Sayang agar di dengar oleh Abidzhar.


"Oh iya mas, ini kenalin ini teman Ira," kata Meira yang menunjukkan pada Abidzhar dan temannya. "Bidzar kenali ini suami Ana" Lanjutnya lagi kali ini pada Abidzhar.


Daffin pun mengulurkan tangannya kepada Abidzhar " Halo, saya Hanan Daffin Abhizar, dan saya suaminya Meira Aulia Aqsyah "katanya dengan menekan kata "Suaminya"


"Oh, maa syaa Allah, ternyata Meira sudah memiliki Imam toh, halo juga saya Muhamad Abidzhar" kata Abidzhar yang menyambut uluran tangannya Daffin dan akhirnya mereka saling berjabat tangan.


"Ya sudah sekarang kita pulang yuk mas." Ajak Meira yang sepertinya ia tak ingin berlama-lama di sana.


"Baiklah sayang, ayo kita pulang," bales Daffin yang langsung merangkul pundak istrinya


"Kalau begitu kami pamit pulang ya semuanya, Assalamu'alaikum" kata Daffin yang masih merangkul pundak istrinya, dan hendak berjalan, namun ia menoleh dulu ke arah Twins


"Alright Biyah, let's go home!" "Bales keduanya,


"Aunty, Cindy, Aunty Elsa, and Uncle Bidzar, kami pulang ya Assalamu'alaikum" pamit Twins secara bersamaan kepada teman-temannya Meira.


"Wa'alaikumus salam" bales mereka serentak,


Dan setelah mendapatkan jawaban dari mereka, akhirnya mereka pun melangkah pergi, dengan Daffin masih merangkul Meira serta menggedong Azia, sementara Azmy di gandeng oleh Meira, mereka berjalan hingga tak terlihat lagi oleh pandangan Abidzhar dan teman-temannya Meira.


"Berapa umur Anak-anaknya Meira?" tanya Abidzhar pada cindi dan Elsa setelah Meira tak terlihat lagi.


"Empat tahun, tapi kenapa pak ustadz malah tanya Anaknya?" tanya Cindy kembali.


"Empat tahun?, berati ia menikah sudah Lima tahun yang lalu, dan apa itu artinya kepergiannya hanya untuk menikah?" Ujar Abidzhar yang terlihat jelas ia sedang berpikir hingga begitu banyak pertanyaan-pertanyaan di dalam hatinya. "Apakah dia pernah bercerita pada kalian berdua?, mengapa ia menikah secepat itu?, kalau di hitung pada saat itu umurnya baru 16 tahun, apakah orang tuanya terlibat hutang atau apa gitu, hingga mengharuskan ia menikah secepat itu?" pertanyaan yang bertubi-tubi pada kedua temannya Meira, membuat keduanya saling berpandangan, tampak keduanya bingung.

__ADS_1


"Maaf Bidzar, kami juga kurang tahu, cuma Meira pergi di saat kami sedang merayakan ulang tahunku, kami kehilangan dia ketika kami sedang berada di kafe" ujar Elsa menceritakan akhir pertemuannya dengan Meira.


"Maksudnya kehilangan di mana?" tanya Abidzhar lagi karena ia belum begitu paham dengan apa yang di katakan oleh Elsa.


"Gini pak Ustadz, waktu itu Elsa ulang tahun, dan kami merayakannya di cafe xs, dan saat itu Meira pamit katanya mau ke toilet, tapi dia tidak kembali sampai kami mencarinya di sana tapi ternyata tidak ada, lalu kami ke rumahnya tapi sampai di sana rumahnya begitu gelap, ya sudah kami pulang, dan ke esokan harinya kami kesana lagi tapi tidak ada orangnya kata tetangganya ia pergi pagi-pagi sekali, kami juga bingung" jelas Cindy membuat Abidzhar mengerutkan keningnya.


"Tunggu dulu, aku baru ingat, waktu hari pertama Meira tidak datang ke sekolah bukankah ada pria berjas hitam mencarinya di sekolah kita?" sambung elsa teringat sesuatu.


"Ah iya, gue juga ingat, dan pantas saja saat aku melihat pak Rio pertama kali, merasa seperti pernah melihatnya dan ternyata dialah yang waktu itu mencari-cari Mei di sekolah kita dulu kita El" kata Cindy spontan karena teringat Rio adalah orang yang sama saat mencari Meira.


"Siapa Rio?" tanya Abidzhar singkat.


"Rio adalah Asisten pak Daffin, suaminya Meira." jawab Elsa.


"Berarti, ada yang tidak beres pada saat itu, dan mungkin saja yang namanya Rio itu mencari Meira, karena ia mau di paksa menikah oleh suaminya" kata Abidzhar sembari ia meremas tangannya sendiri, seperti ada kemarahan di sana, terlihat sekali kecurigaan Abidzhar terhadap Daffin, ia begitu yakin kalau Daffin sudah memaksa wanita yang ia cintai untuk menikah dengannya.


"Eh, masa sih, pak Daffin memaksa Meira, tidak mungkinlah, karena kami lihat ada cinta kok di mata Meira saat melihat suaminya, dan apalagi, pak Daffin begitu menyayanginya sampai-sampai ia di bikinin sekolah IT, untuknya loh, jadi Bidzar kamu tidak boleh su'uzon pada pak Daffin, karena kami melihat kalau teman kami Bahagia kok, iyakan Cin?." tutur Elsa, mematahkan kecurigaan Abidzhar.


"Iya benar, apalagi pak Daffin itu ternyata pria yang romantis, uukh hot banget terhadap Meira" Sambung Cindy, dengan wajah di seksiin karena ia teringat waktu ia memergoki saat Daffin dan Meira sedang bercumbu di ruangannya.


"Hus!, apaan sih Lo, ngelantur begitu!" bentak Elsa kemudian ia menarik tangan Cindy " ya sudah ayo kita pulang!" lanjutnya dan menarik tangannya Cindy dan pergi meninggalkan Abidzhar yang masih terdiam di sana.


"Riko, coba kamu selidiki apa yang terjadi lima tahun yang lalu dengan di awali di cafe xs, aku merasa dari sanalah awalnya" kata Abidzhar yang terlihat sekali kalau ia memiliki kecurigaan terhadap Daffin.


"Baik pak!" bales pria yang bernama Riko yang sejak tadi berdiri di belakang Abidzhar.


"Ya sudah ayo kita pulang sekarang!" kata Abidzhar yang kemudian ia pun langsung melangkahkan kakinya menuju keluar dari acara reunian yang belum selesai itu.


********


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 🙏😉.

__ADS_1


__ADS_2