
━━━•⊰❁🌸 Mutiara Hikmah 🌸❁⊱•━━━
"Mengejar waktu sama hal nya
Dengan mengejar bayangan sendiri
Karena waktu tak kan pernah mau menunggu..
Begitu juga dengan Hidayah, ia tidak akan datang sebelum kita menjemputnya.
So Kejarlah sebelum ia melesat semakin jauh. Jangan pernah berhenti. Karena penghentianmu akan menjadi satu titik penyesalan yang panjang"
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
━━━━━━━━•⊰❁🌸❁⊱•━━━━━━━━
Keesokan harinya, sesuai dengan perintah Daffin yang mengharuskan Rio berangkat pagi. Membuat Rio sedikit tergesa-gesa, karena ia sedikit terlambat bangun. Sehingga ia selalu memburu Cindy agar membantunya bersiap-siap.
"Sayang cepat dong mandinya, bantuin kak Bian!" teriak Rio sambil memakai baju dan celananya yang terlihat terburu-buru.
"Iiiss Achakan baru masuk kak! belum juga mandi!" balas Cindy dengan berteriak juga dari dalam kamar mandinya.
"Iya kak Bian tau! Tapi cepat ya sayang, biar Suami kamu ini tidak di kirim ke kutub Utara oke!" teriak Rio lagi.
"Huh! Biar saja! Siapa suruh bercinta nggak mau berhenti! Sudah begini saja, orang juga yang dikejar-kejar. Huh sebal sama kak Bian!" seru Cindy terdengar kesal.
"Maaf Sayang, kitakan bakalan nggak ketemu selama satu Minggu. Nah makanya tadi malam Kak Bian harus mengambil jatah untuk satu Minggu kedepan, Sayang." terang Rio memberikan alasan.
"Au akh! Banyak banget alasannya! Dasar mania bercinta!" cetus Cindy kesal, bersamaan ia keluar dari kamar mandi. Karena terburu-buru ia tak sempat memakai handuk kimononya. Akhirnya Cindy hanya memakai handuk biasa yang melilit tubuhnya di bagian dada hingga pahanya saja. Sedangkan rambutnya hanya terlilit dengan handuk kecil saja sehingga handuk itu tidak sepenuhnya menutupi seluruh rambutnya.
Riio yang sedang mengikat dasi pada kerah bajunya langsung terhenti. Saat melihat istri kecilnya, yang terlihat menggoda di matanya setelah keluar dari kamar mandinya.
"Sayang kamu menggoda kak Bian lagi loh," ujarmya sembari ia mendekati Cindy dan langsung menariknya kedalam pelukannya.
"Akh.. iiss.. Kak Bian! Siapa yang menggoda sih?!" pekik Cindy karena Rio memberikan gigitan kecil pada lehernya yang terlihat menggoda bagi Rio. Dan dengan spontan Cindy memukul dada bidangnya Rio kesal.
__ADS_1
"Ugh.. Tubuh kamu yang menggoda sayang. Siapa suruh kamu keluar dari kamar mandi seperti ini hm? Jadi bukan salah kak Bian dong.. kalau kak Bian Ingin memakanmu lagi sayang, hum.." kata Rio yang mulai menelusuri leher jenjang Cindy, serta meninggalkan jejaknya di sana.
Tubuh Cindy yang memang sedikit sensitif, terlihat hampir terbuai dengan sentuhan yang di berikan oleh suaminya itu. Sehingga tanpa sadar ia mulai mengeluarkan lenguhan kenikmatannya. Namun untungnya ia langsung menyadari dirinya, karena teringat kalau suaminya harus segera berangkat.
"Ukh..hum..hah..Kak Bian! Berhenti! Kamu harus segera berangkat kak!" bentak Cindy sembari ia mendorong tubuh Suaminya dengan kuat. Sehingga pelukan mereka pun terlepas.
"Tapi Sayang, Kak Bian lagi ingin.. tuh lihat dia sudah berontak ingin keluar Sayang," kata Rio dengan suara yang terdengar berat. Sambil mata memberi Isyarat kebawah yang tertuju kecelana hitamnya.
"Iiss apaan sih Kak Bian! Nggak boleh! Karena kak Bian harus segera berangkat! Nanti bang Daffin akan marah!" balas Cindy ketus. "Lagian tadi malam kamu sudah berapa kali melakukannya. Masa nggak puas-puas sih!" lanjut Cindy sembari ia mengambil baju di lemarinya setelah itu ia berlari ke kamar mandi karena ia takut suaminya akan menyerangnya kembali.
"Huh! Sayang mah tega! Lagiankan sebentar lagi Bian junior juga harus puasa setelah ini Sayang." rengek Rio yang tadi mengikuti Cindy. Dan kini ia berdiri tepat di depan pintu kamar mandi. Dengan wajah terlihat frustasi, karena harus menahan hasratnya.
"Jangan manja deh Kak Bian! Kayak nggak bisa ketemu lagi aja sih! Nantikan setelah pulang dari luar kota kamu bisa melakukan sepuasnyakan?" balas Cindy dari dalam kamar mandi. Memberikan pengertian pada Suaminya.
"Hmm..ya sudah deh apa katamu saja Sayang," kata Rio sambil berjalan lemas meninggalkan pintu kamar mandi, "Bian junior sabar ya dan kamu harus berpuasa selama satu Minggu. Jadi jangan protes paham!" gumam Rio dengan mata mengarah kecelana hitamnya.
Sepuluh menit kemudian Cindy kembali keluar dari kamar mandi. Dan terlihat tubuhnya sudah berpakaian lengkap dengan memakai baju gamis berwarna hijau muda. Bahkan ia juga sudah memakai hijab dengan warna senada dengan bajunya. Walaupun wajahnya masih terlihat polos tanpa make up, tetapi ia masih terlihat cantik.
"Kak, Acha sudah selesai nih, Kak Bian sudah siap jugakan? Kalau sudah ayo cepat kita berangkat, nanti Kak Bian terlambat lagi." ujar Cindy sembari ia memoles wajah dengan bedak hanya sekedarnya saja. Setelah itu ia mengambil koper yang akan di bawa oleh Rio dan menyeretnya kehadapan Rio.
Melihat Rio tak memberikan respon pada perkataannya. Cindy langsung melihat wajah suaminya, yang terlihat wajah itu sedang tidak bersahabat.
"Hum!" balasnya sambil ia menarik koper yang tadi di bawa oleh Cindy. Dan Rio langsung berjalan menuju ke pintu kamarnya dan langsung keluar tanpa menoleh sedikitpun pada Cindy.
Cindy yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya saja, seraya bergumam. "Haiiis.. Sekarang kak Bian mudah banget merajuk sih? Huh, sudahlah biarkan saja." gumamnya lalu ia pun menyusul suaminya setelah ia mengambil tas milik.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil Rio. Suasana mobil begitu hening, karena sejak mereka menaiki mobil. Rio masih memasang wajah merajuknya pada Cindy. Cindy tersenyum lucu melihat wajah suaminya yang sedang merajuk.
Rio mengerenyitkan dahinya, saat ia menangkap istrinya yang sedang menahan senyum lucunya.
"Kenapa kamu menahan senyum begitu? Apa ada yang lucu?" tanyanya dengan memasang wajah datarnya.
"Humm enggak kok" balas Cindy masih menahan tawanya.
"Enggak? Kenapa kamu mau tertawa gitu hm?"
__ADS_1
"Lucu aja? jawab Cindy singkat.
"Apanya yang lucu?" Rio terlihat semakin penasaran, melihat Cindy yang semakin ingin tertawa.
"Lucu aja, habis Acha punya suami rasa Anak kecil. Hahahaha.." jawab Cindy yang akhirnya tawanya pecah. Membuat Rio kesal, sehingga ia memijak pedal remnya secara mendadak. Membuat mobil seketika berhenti.
"Ooh.. sudah mulai berani ya.. mengatain suaminya!" ujar Rio geram dan langsung menarik Cindy hingga Cindy mendekat padanya. Lalu ia pun langsung meraih bibirnya sambil menahan tengkuk Cindy. Sehingga bibir Cindy tidak bisa menghindar dari serangan bibirnya Rio. Dengan rakusnya Rio melalap bibir Cindy. Hingga Cindy memukuli dada bidangnya karena ia merasa kehabisan nafas.
"Umm..umm..uummm! Hah..hah..Kak Bian apaan sih! " protes Cindy dengan nafas yang memburu.
"Itu hukuman karena sudah mengatain suaminya!" balas Rio datar.
"Huh! Dasar suami kejam!" umpat Cindy terlihat kesal.
"Apa kamu bilang?"
"Au akh sebal!" balas Cindy dan kali ini Cindy yang memasang wajah cemberutnya.
"Waduh! Sesi kebalik nih?"
Bersambung...
_____________
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰
Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.
dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊.
Oh iya sambil menunggu author update kunjungi Novel terbaru Author ya yang berjudul.
*Cinta Si Gadis Tomboi* In syaa Allah Nggak kalah serunya kok dengan novel Author lainnya 😉
__ADS_1
cus kepoin ya guys dan berikan dukungan juga oke ini novel terbaru Author.👇👇