
🔹🔷💠 MUTIARA ALFAQIROH 💠🔷🔹.
"Bukan kesulitan yang membuat kita takut, tapi ketakutan yang membuat kita sulit. Karena itu jangan pernah mencoba untuk menyerah dan jangan pernah menyerah untuk mencoba.
Jangan katakan pada Allah aku punya masalah, tapi katakan pada masalah, aku punya Allah yang Maha segalanya."
__[ Sayyidina Ali Bin Abi Thalib ]__
✥.❖.✥✥.❖.✥❅❀❦💠❦❀❅✥.❖.✥✥.❖.✥
"Assalamu'alaikum uncle ?!" Suara Azia yang sedikit nyaring, membuat seorang pria yang sedang menatap serius kesebuah ruangan, langsung tersentak dan langsung menoleh ke sumber suara Azia.
"Eh!, Wa'alaikumus salam nak." bales pria tersebut dan terlihat ia seperti mengingat sesuatu " kamu Azia anak Meira kan?" tanyanya lagi setelah ia mengingat Azia
"Benar sekali Uncle Bidzar, ana Azia, anak Umah Meira dan Biyah Daffin." kata Azia dengan menekan kata "Biyah Daffin", entah apa yang dipikirkannya namun sepertinya dia tak suka melihat Umahnya di lihat pria itu yang tak lain adalah Abidzhar.
Mendengar perkataan Azia membuat Abidzhar merasa aneh " Ya Om tahu itu kok, oh iya kenapa Zia nggak ikut belajar seperti teman-teman Zia?," tanya Abidzhar sembari ia berjongkok di hadapan Azia.
"Sebentar lagi Zia masuk kok Uncle, Zia cuma mau bilang sama uncle Ada ayat dalam Alquran yang memerintahkan laki-laki menahan pandangannya, terutama kepada wanita non mahram." Kata Azia dengan gaya melipatkan kedua tangannya di dadanya " Dan tahukah Uncle?, Perintah menahan pandangan itu bersumber dari ayat Alquran Surat An Nur ayat 30, " Lanjut Azia lagi dan kemudian ia pun melantunkan surah tersebut, membuat Abidzhar tercengang melihatnya.
قُل لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡۚ ذَٰلِكَ أَزۡكَىٰ لَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ ٣٠
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara ***********, yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."
[ QS. An-Nur ayat 30 ]
"Al-Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya, Al-Jami' li Ahkamil Quran menyebutkan, "Allah SWT tidak menyebutkan apa yang tidak boleh dilihat, namun sudah diketahui secara adat bahwa maksudnya adalah apa-apa yang diharamkan di luar yang dihalalkan."
"Dari tafsir ayat tersebut sudah jelaskan, maka Uncle tidak di perbolehkan memandang Umah Zia, karena Umah Zia bukan yang halal bagi Uncle!" kata Azia dengan tatapan yang terlihat jelas kalau ia tak menyukai perbuatan Abidzhar.
Mendengar perkataan Azia yang membuat Abidzhar menjadi malu sekaligus menjadi tamparan baginya " Astaghfirullah maaf Zia, Uncle tidak bermaksud.." perkataan Abidzhar langsung di potong oleh Azia.
"Uncle, pasti memasuki tempat ini tidak minta izinkan, padahal Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam menegaskan, alasan yang diminta izin adalah karena khawatir akan timbulnya fitnah atau menimbulkan hal yang di larang oleh Allah.
Beliau shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
اا ل الاستئذان ال البصر
__ADS_1
”Ditetapkan nya meminta izin (ketika masuk rumah orang lain) adalah untuk (menjaga) penglihatan”
(HR. Al Bukhari, dalam Fathul Baari , 24/11)
"Dan apa lagi bila pemilik rumah tidak halal untuk di lihat, itu amat bahaya dan akibat tindakan ini, syariat islam membolehkan mencongkel mata orang yang suka melongok dan melihat isi rumah orang lain.
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
الع ا ل لهم ان ا
“Barangsiapa melongok rumah suatu kaum dengan tanpa izin mereka, maka halal bagi mereka mencongkel mata orang tersebut”
(HR. Muslim, 3/1699).
Dalam riwayat lain dikatakan,
ا لا له لا اص
”Kemudian mereka mencongkel matanya, maka tidak ada diyat (ganti rugi) untuknya, juga tak ada qishash baginya” (HR. Imam Ahmad, 2/385; Shahihul Jami' , 6022).
"Tahukah Uncle?, Allah tidak menyukai orang yang suka ikut campur dengan urusan orang lain seperti ghibah dan tajassus seperti yang dikatakan di dalam Firman-Nya:
Allah Ta’ala berfirman tentang buruknya ghibah dan tajassus:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat ayat : 12)
"Di dalam Tafsirnya Imam Abu Hatim bin Hibban Al-Busthi rahimahullah mengatakan, “Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih, dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya.” (Raudhah al-‘Uqala wa Nuzhah al-Fudhala’)
"So Uncle, Zia saranin janganlah menghabiskan waktu dan umurnya dengan sia-sia, tersibukkan dengan urusan-urusan yang tidak penting. Padahal kehidupan di dunia ini adalah kehidupan yang sangat singkat, tetapi kebanyakan kita lalai memanfaatkan waktu yang telah Allah berikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2317)
Oleh karena itu, hendaknya Uncle mengamalkan wasiat Nabi di masa fitnah ini sebagai mana beliau bersabda,
__ADS_1
وَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ
“Hendaknya engkau sibuk dengan urusan privasimu.” (HR. Ath-Thabrani no. 13)
"Sekarang Uncle pahamkan dan sekarang sebaiknya Uncle, menyibukkan diri Uncle dengan kegiatan yang bermanfaat, agar tidak terjebak pada kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat seperti mencampuri urusan orang lain. Para ulama mengatakan suatu perkataan yang indah,
مَنِ اشْتَغَلَ بِمَا لا يَعْنِيهِ فَاتَهُ مَا يَعْنِيهِ
“Barangsiapa yang sibuk dengan perkara yang tidak bermanfaat bagi dia maka banyak perkara yang bermanfaat yang luput dari dia.”
Abidzhar tak mampu berkata-kata lagi ia begitu takjub mendengar dan melihat Anak yang di katakan baru empat tahun itu namun mampu membuat hatinya tak menentu, antara ia tadi mendapatkan tamparan, kini menjadi hangat karena, anak kecil itu mampu meluluhkan hatinya yang tadinya berkecamuk karena tidak menerima kenyataan, kini karena nasehat Azia menimbulkan rasa ikhlas dan mulai menerima keputusan Allah.
Ketakjuban Abidzhar terhadap Azia membuatnya tak menyadari akan kehadiran seseorang yang sejak tadi ikut mendengarkan pembicaraan mereka, dan bahkan terlihat jelas sekali dari raut wajahnya yang tersempil senyum kebanggaan terhadap si kecil.
Melihat Abidzhar tak mampu berkata-kata lagi orang tersebut pun langsung menghampiri mereka. " Bagaimana Uncle Bidzar?, apakah perkataan Azia benar atau apakah perkataannya salah?" mendengar suara Bass seorang Pria, membuat Abidzhar dan Azia langsung menoleh ke sumber suara tersebut.
"Biyah!." pekik Azia yang langsung menghampiri pria tersebut yang ternyata adalah Daffin,
"Iya sayang." Daffin pun langsung menggendong Azia dan kemudian menciumi pipi gembulnya, membuat Abidzhar sedikit iri melihat kehangatan keduanya.
Setelah menciumi anaknya Daffin pun kembali menatap Abidzhar " Bagaimana pak Bidzar?, apakah perkataan anak saya sudah menyinggung Anda?" tanya Daffin dengan Azia yang masih berada di dalam gendongannya.
"Tidak pak Daffin, justru anak anda telah menyadari saya, dan saya sangat berterima kasih padanya" kata Abidzhar yang kini terlihat jelas kalau ia pun mulai ikhlas dan itu terlihat dari senyumnya yang tampak ikhlas.
"Alhamdulillah, semoga ini awal yang baik buat pak Abidzhar " kata Daffin yang terlihat lega, dan di saat bersamaan terdengar suara seorang wanita yang nampak bingung melihat mereka berkumpul.
"Ada apa ini?"
*************
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 🙏😉.
Berikan VOTE, sebagai hadiah buat Author bila para Readers menyukai bab ini 🙏😉
dan Berikan LIKE DAN KOMENTAR, sebagai Penyemangatnya Author agar Author semangat untuk update kembali oke guys 🙏😉.
Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 SYUKRON 🙏😊
__ADS_1