Anak Genius : TWINS PEMBAWA KEBAHAGIAAN.

Anak Genius : TWINS PEMBAWA KEBAHAGIAAN.
UNGKAPAN PERASAAN ABIDZHAR.


__ADS_3

เณ‹เน‘เญจ๐ŸŒธ MUTIARA HIKMAH ๐Ÿ’ เญงเน‘เณ‹


"Terkadang Allah selalu menguji kita dengan orang yang kita sayangi. Namun tetaplah sabar walaupun memang itu sedikit kecewa ketika ada perselisihan dengan nya. Namun Percayalah kesabaran itu akan berbuah manis, sehingga rasa kecewa itu akan berganti dengan rasa bahagia"


__sแด›แดส€ษชแด‡s แดา“ แด›สœแด‡ แด…แด€ส__


๐Ÿ”นโ—Žโ…โ€โฆ๐ŸŒธโฆโ€โ…โ—Žโ‡๐ŸŒธโ‡โ—Žโ…โ€โฆ๐ŸŒธโฆโ€โ…โ—Ž๐Ÿ”น


Maira sempat tertegun melihat Abidzhar, namun ia langsung tersadar.


"Eh, Astaghfirullah!" Gumamnya, dan ia pun langsung mengalih pandangannya.


Mendengar gumaman Meira yang beristighfar, Abidzhar mengerenyit heran, namun ia abaikan dan kemudian ia mendekati Meira.


"Assalamu'alaikum Mei?" salamnya saat ia sudah berhadapan dengan Meira.


Sekali lagi Meira tersentak lagi saat Abidzhar sudah di hadapannya, " Eh!, W.wa'alaikumus salam" Balesnya sedikit gugup. " eh, anu, maaf aku permisi sebentar mau ke toilet" lanjut Meira lagi yang masih gugup, lalu ia langsung melangkah pergi dengan menarik tangan Cindy yang kebenaran tinggal dia yang bersama dengannya sedangkan yang lainnya sudah berbaur pada teman-temannya yang lain.


"Lo yang gugup!, kenapa gue yang ditarik sih?!" Tanya Cindy saat mereka sudah berada di toilet.


"sorry sorry, tapi Ana bener-bener gugup nih, apa sebaiknya ana pulang aja ya " kata Mei yang masih terlihat kegugupannya


"enak aja pulang! baru juga kita sampai, lo kenapa sih Mei, santai aja ngapa!" ujar Cindy saat melihat kegugupan Meira. "atau jangan-jangan Lo masih suka ya sama Abidzhar?" tanya Cindy lagi, dengan tatapan yang begitu intens.


"Eh, Apaan sih kamu?, ya nggak mungkinlah ana kan sudah punya anak dan suami Jangan ngawur deh!" tegur Meira yang nampak kesal.


"lah kenapa lo gugup tadi di depan Abhizar?." tanya Cindy penasaran


"gugup Ana karena takut sama Allah tahu! karena ana sudah bertatap mata bahkan bicara pada yang bukan muhrimnya ana!" jelas Meira.


"Eh, gue pikir lo tadi ada perasaan CBLK pada Abidzhar, " kata Cindy.


"Maksudnya?" tanya Meira Seraya ia mengerutkan keningnya.


" Ya itu, cinta lama bersemi kembali pada si pak ustadz itu, " goda Cindy sembari ia mengedipkan sebelah matanya.


"Hah! Astaghfirullah!, sembarangan banget sih kamu ngomongnya!, ya nggak mungkinlah karena cinta ana hanya untuk anak dan suami Ana tau!" protes Meira yang terlihat kesal.


"Eh, sorry Sorry, gue kan cuma bercanda jangan Mei jangan marah atuh neng," dalih Cindy, karena melihat ada kekesalan pada wajah Meira.


"Ya sudah ayo kita pulang saja sekarang! " kata Meira yang langsung melangkah menuju pintu keluar toilet tersebut.


"Eh, kok pulang sih Mei kita kan belum bertemu dengan teman-teman kita yang dulu Bukankah Lo bilang kangen dengan mereka?, " kata Cindy Lia mengikuti Meira dari belakang.


"Ya sudah kalau begitu kita menyapa mereka sebentar Setelah itu kita pulang ya?." Balas Meira yang akhirnya mengalah.


"Ya udah deh nggak papa yang penting bisa menyapa mereka Ya sudah sekarang kita masuk lagi yuk," ajak Cindy sembari menggandeng tangan merah menuju ke ruangan tempat acara reuni berlangsung.

__ADS_1


"Iya, tapi jangan tarik Ana seperti ini dong cin!" protes Meira, karena memang Cindy menggandeng Meira sedikit menariknya agar mereka secepatnya sampai di acara reunian tersebut


"Maaf, kan biar cepat sampai!" kata Cindy polos, dan akhirnya Meira hanya diam dan pasrah saja.


sesampainya mereka di ruang acara reunian tiba-tiba seseorang menepuk pundak Meira dan dengan spontan Meira pun menoleh dan ternyata Elsa yang menepuknya


"kalian ke mana aja sih!, Aku mencari-cari kalian dari tadi jugaan!" tegur Elsa yang terlihat kesal.


" Sorry, ini loh tadi tuh Nyonya Daffin ingin mengecek toilet di sekolah ini apakah masih sama seperti dulu atau tidak,?, katanya," jawab Cindy ngasal.


"Apaan sih cin, nggak lucu tau! " kata Meira yang terlihat kesal.


" Aduh!, kaan Nyonya Daffin marah lagi sama gue!, lo sih El pake tanya segala!, jadi mulut gue gatel Deh nih ingin jawab!" kata Cindy yang kelihatan sekali


" lah gue yang di salahkan?" tanya Elsa yang terlihat bingung.


"Ya iyalah!, yang tadi nanya siapa coba?, lo kan?" tanya Cindy yang terlihat tak mau mengalah.


"sudah-sudah apaan sih kalian kok malah berdebat sih!" tegur Meira menengahi mereka. dan saat bersamaan lagi-lagi mereka dikejutkan dengan suara seorang pria.


"permisi bisakah saya bicara dengan Meira?" tanya pria tersebut membuat tiga sekawan itu menoleh ke sumber datangnya suara.


"Eh, Pak ustaz silakan Pak kalau ingin bicara dengan mayora ujar Cindy yang terlihat ingin beranjak dari sana namun tangannya langsung ditarik oleh Meira.


"kalian tetaplah disini!" Ujar Meira, yang juga menahan Elsa agar tidak pergi.


"Eh, tapi kan pak ustad mau ngomong sama Lo Mai," protes Cindy


"iya iya gue diam" bales Cindy pasrah.


"sekarang silahkan kamu bicara bidzar" ujar Meira pada Abidzhar.


"Apakah kita tidak bisa bicara berdua saja Mei?," tanya abijar yang terlihat sangat berharap sekali.


"tidak bisa Bidzar, kalau hanya berdua maka yang ketiganya adalah syetan." bales Meira apa adanya.


"Eh, berarti kami berdua syetan dong?!" Celetuk Cindy dengan wajah polosnya


"Enak aja! Lo aja kali syetan, gue mah nggak !" protes Elsa spontan.


"kalian berdua bisa diam enggak sih!" tegur Meira kepada kedua temannya itu.


"Maaf Mei" males mereka dengan serentak.


"sekarang lanjutkanlah Bidzar kamu mau bicara apa sama Ana?" tanya merah yang kini pandangannya beralih ke Abidzhar


"Mei, Apakah kamu marah padaku karena tak membalas isi surat kamu?" tanya Abidzhar yang terlihat penasaran.

__ADS_1


"Apa?! Lo pernah ngasih surat sama Pak ustad Mai ?" tanya Cindy spontan setelah mendengar perkataan Abidzhar,


Terlihat Meira mulai kesal sama Cindy, yang selalu menyeletuk pembicaraannya dengan Abidzhar. " kamu bisa diam gak sih!" bales Meira sembari meremas tangan Cindy yang memang sejak tadi ia pegang.


"Au, Au Au, iya iya gue diam!" kata Cindy sambil meringis. " Iiss, kejam banget Nyonya Daffin!" gumamnya lirih yang terdengar oleh Meira saja, mendengar itu Meira langsung memberikan pelototan pada Cindy. " Eh, Atut celaam, iyaa maaf gue diam kok" Sambung Cindy lagi yang akhirnya ia pun diam


"Aku tidak marah kok sama kamu Bidzar" kata Meira membalas pertanyaan Abidzhar.


"Lalu kenapa kamu pergi setelah itu?," tanya Abidzhar lagi pada Meira, namun tak dijawab oleh Meira karena ia bingung untuk harus memberikan jawaban apa.


"Mei, waktu itu aku tak memberi jawaban waktu itu, karena saat itu kita masih seorang pelajar Mei, tapi sejujurnya aku senang kamu jujur dengan perasaan kamu terhadapku karena sebenarnya aku juga menyukai kamu juga Mei," ujar Abidzhar dengan wajah seriusnya.


"makanya setelah kamu tidak muncul lagi di kelas kita hatiku terasa kosong, tapi aku tetap terus berjuang dan berdoa agar kita bisa bertemu kembali dan Alhamdulillah Allah mengijabah doaku, Mei dan sekarang aku minta kamu maukah kamu menjadi makmum ku Mei?" ungkapan perasaan Abidzhar terhadap Meira, membuat Meira dan kedua temannya tersentak kaget.


"Eh, apakah ini artinya lamaran?" celetuk Cindy spontan.


"Diamlah Cindy!" tegur Elsa.


"Eh, Maaf!" bales Cindy yang langsung menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.


Mendengar perkataan Abidzhar, Meira terdiam seribu bahasa, hingga Abidzhar mengulangi pertanyaannya yang terakhir tadi.


"Mei, apakah kamu bersedia, menjadi makmum ku, dan beribadah bersama-sama dalam Ridho Allah Mei?" tanya Abidzhar lembut.


Meira pun tertunduk setelah mendengar pertanyaan kedua Abidzhar sembari mengatupkan kedua tangannya seraya berkata "Maaf. Bidzar, aku tidak bisa!" katanya tegas.


Abidzhar tersentak kaget mendengar jawaban Meira yang sangat tegas, " Tapi kenapa Mei?, bukankah kamu suka juga dengan ku?" tanya Abidzhar yang sangat penasaran.


"Karena aku sudah..." perkataannya Meira langsung terputus karena tiba-tiba terdengar teriakan anak kecil memanggilnya.


"UMMAAH!!"


BERSAMBUNG


**************


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys ๐Ÿ™๐Ÿ˜‰..


Oh iya Author ingat kayak kemarin ada yang protes, soal visual Daffin dan Meira, Author jadi heran, Bukankah Author sudah memberikan visual Mereka,๐Ÿค”๐Ÿค”


Visual Twins ada di Bab 3.(Anak yang luar biasa).


Visual Meira ada Di bab 8 (Akhirnya aku menemukanmu)


Dan Visual Daffin ada di Bab, (22)( Di Imami dengan calon Imam).


Apakah para Readers tidak lihat yaa๐Ÿค”๐Ÿค”.

__ADS_1


Tapi saat Author cek ada kok, ๐Ÿค”


Dimana letak salahnya yaa๐Ÿค”๐Ÿค”.


__ADS_2