Anak Genius : TWINS PEMBAWA KEBAHAGIAAN.

Anak Genius : TWINS PEMBAWA KEBAHAGIAAN.
MEIRA TERJATUH.


__ADS_3

══ ✥.❖⚛ ✨Kalam Habaib✨ ⚛.❖.✥ ══


Setiap kemaksiatan akan menambah kerasnya hati, gelapnya wajah, sempitnya rezeki dan menambah rasa benci di hati makhluk. Sedangkan ketaatan itu akan melembutkan hati, membuat wajah cerah berseri-seri, memudahkan rezeki dan menambah rasa cinta di hati makhluk.


__[ Al-Allamah Habib Umar bin Hafidz ]__


❤اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ❤


⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛🏵⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛


Pagi menjelang subuh..


Seperti biasa Daffin selalu terbangun terlebih dahulu, biasanya ia akan langsung tahajud dan langsung membacakan Ar-Rahman untuk Meira, sebagai terapi menghilangkan traumanya, tapi sebelum ia bangun ia memandangi wajah, Sambil ia tersenyum teringat akan malam indah yang mereka lewati tadi malam,


Setelah puas memandangi wajah istrinya ia pun memberikan kecupan lembut pada dahi Meira, namun kecupan itu malah membuat Meira tersentak hingga ia terbangun.


Sentakkan Meira malah membuat Daffin kaget juga, karena sentakkan itu biasanya awal trauma akan kumat dengan cepat Daffin langsung memberi salam sebelum Meira menjerit.


"Assalamu'alaikum istriku" salam Daffin dengan lembut, Awalnya ia hanya memandangi Daffin tanpa menjawab salamnya, dan itu membuat Daffin Deg. Dag, Dig, Dug,


"Ya Allah jangan lagi, semoga ia mengingat semua yang sudah kami lakukan tadi, itu berdasarkan izin darinya"_ Batin Daffin was-was karena salam belum juga di Bales.


"Assalamu'alaikum istriku?" Daffin mengulangi salamnya.


"Wa'alaikumus salam mas"


"Alhamdulillah ya Allah" Daffin langsung mengucapkan syukur saat mendengar Meira membalas salam, dan itu membuat Meira bingung.


"Ada apa Mas?", tanya Meira penasaran.


"Tidak papa, hmm Mei?"


"Hmm?"


"Terimakasih ya?"


"Buat apa mas?"


"Karena kamu sudah memaafkan aku, serta telah, menerimaku apa adanya" kata Daffin lembut.

__ADS_1


"Sama-sama Mas, Ira juga mau mengucapkan terimakasih juga"


"Buat apa Mei?"


"Buat semuanya" kata Meira yang sedikit malu, Daffin tertegun sesaat "Kenapa mas?"tanyanya lagi.


"Tidak ada apa-apa sayangku, ya sudah Sekarang kamu mandilah," ujar Daffin lembut, "Atau kamu ingin aku mandikan sayang" kata Daffin mencoba Menggoda Istrinya.


Meira yang mendengar perkataan Daffin langsung tersentak " Eh, tidak Ira bisa mandi sendiri kok mas " katanya dengan wajah yang sudah memerah, dan ia hendak turun dari ranjangnya, karena tubuhnya masih polos, ia pun berusaha menutupinya dengan selimut mereka dan bermaksud lari namun..


"Akh!!"


BRUUUK!!


"Meira?!" pekik Daffin, saat Meira sudah tersungkur di bawa dengan selimut yang sudah tersingkap separuh, hingga terlihat tubuh polos bagian punggungnya karena posisi Meira yang telungkup. Sebenarnya Daffin ingin tertawa karena Meira terlihat lucu, tapi ia tahan karena takut Meira marah, tapi ia langsung mendekat dan dengan cepat ia menutup tubuh Meira dan langsung menggendongnya.


"Aakh!, mas turunkan, Ira bisa sendiri mas!" pekik Meira saat tubuhnya sudah di dalam gendongan Daffin.


"Sssth Diamlah, sayang" kata Daffin, yang langsung membawa Meira ke kamar mandi Meira hanya diam dan cuma menundukan wajahnya saja.


Sesampainya di kamar mandi, Daffin pun langsung menurunkan Meira di bathtub.


setelah pergian Daffin.


"Astaghfirullah, kenapa ana jadi seperti ini sih, ya Allah Meira, dia suami anti, tidak bisakah anti bersikap biasa saja?, aiis sudahlah sebaiknya ana mandi" Gerutu Meira dalam Hati, dan kemudian ia pun memulai ritual mandinya.


Sementara Daffin yang tak ingin waktu subuhnya habis ia langsung melangkah keluar, karena ia berniat mandi di kamar yang lainnya.


Setelah semuanya pada selesai Daffin pun mengajak Meira sholat berjamaah di tempat ibadah di villa itu yang ternyata di sana sudah ada Twins yang sedang menunggu bersama mang Diman dan bi Rum.


"Huh, Biyah sama Umma lama sekali sih?!, kami sudah menunggu dari tadi tau" protes Azia yang nampak kesal.


"Maaf sayang, ya sudah ayo kita sholat ya" kata Daffin merasa bersalah, karena tak ingin anaknya protes lagi Daffin pun langsung mengambil posisi imamnya, yang di belakangnya sudah berdiri mang Diman serta Azmy, sementara di belakangnya lagi sudah berdiri Azia, Meira serta bi Rum, dan akhirnya sholat berjamaah pun di mulai.


Setelah selesai langsung di Lanjutkan Doa serta mengaji, sedangkan Bi Rum langsung ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk para majikannya, dengan di bantu oleh Meira.


"Loh neng apa yang terjadi kenapa jidadnya memerah gitu?" tanya bi rum saat melihat sebuah memar merah di kening Meira.


"Eh, iyakah bi?" tanyanya balik sembari memegang dahinya.

__ADS_1


"Iya Neng," Meira nampak berpikir.


"Ada apa bi?" Tiba-tiba terdengar suara Bass seorang Pria yang muncul secara tiba-tiba. membuat Mera dan no rum tersentak. kaget.


" Eh!, Aden, ini den, bibi bertanya pada neng Meira, kenapa dahinya terlihat merah " kata Bi Rum, membuat Daffin spontan melihat wajah istrinya.


"Astaghfirullah, kenapa kamu tidak bilang Mei?" tanya Daffin yang langsung menarik tangan istrinya.


"Eh, inikan hanya merah biasa mas" protes Meira namun ia tetap mengikuti Daffin yang sedang menarik tangannya, hingga di ruang keluarga ia pun menduduki Meira.


"Sssth Diamlah" katanya lalu ia mengambil kotak obat di sebuah laci.dan ia langsung mengambil obat pereda sakit.


"Loh Umma kenapa?" Tanya Azmy.


"Umma tidak papa sayang, hanya kejedot tadi " kata Meira menutupi kejadian yang sebenarnya.


"Kok bisa kejedut sih Umma?, itu tandanya Umma tidak hati-hati sih." timpal Azia yang juga langsung ingin tahu.


"Namanya kecelakaan sayang, itu tidak di sengaja" bela Daffin Sambil mengoles obat pada Meira, setelah selesai.


"Ya sudah ayo kita sarapan, dulu, biar kita langsung pulang" kata Daffin mengajak ketiganya untuk sarapan.


"Eh, kok pulang Biyah, Zia kan masih ingin bermain di pantai lagi biyah" bukan Azia namanya kalau tidak protes.


" Sayang inikan bukan hari libur, biyahkan harus kerja" jelas Daffin memberi pengertian pada buah hatinya, " Biyah janji deh, nanti saat liburan kita kesini lagi Ok?" lanjutnya lagi.


"Huh!, Biyah nggak Asik" kata Azia yang nampak merajuk dan ia pun langsung pergi ke ruang makan.


Melihat anaknya merajuk Meira merasa iba


"Mas, kalau tidak, kamu pergilah bekerja, biar Anak-anak bersama Ira di sini" usul Meira.


"Tapi Mai, aku nggak tenang ninggalin kalian di sini" ujar Daffin, yang sepertinya ia tak ingin meninggalkan mereka.


" Iya Ira tahu, tapi merekakan emang nggak pernah seperti mas" kata Meira lagi.


Daffin terdiam " Ya sudah, baiklah tapi jaga anak-, anak ya Mei


"Iya mas, In syaa Allah" Bales Meira dan langsung Azmy dan Azia bersorak-sorai, kesenangannya.

__ADS_1


*****


__ADS_2