
══ ✥.❖.✥ 💠Kalam Habaib 💠✥.❖.✥ ══
"Berdoa saja tanpa adanya usaha untuk mewujudkannya itu tidak bermanfaat. Melangkahlah (untuk mencapai tujuan) walaupun langkahmu itu terlihat remeh. Dan percayalah, Allah Swt. akan memberikan apa yang menjadi cita-citamu"
[ Habib Abdullah bin Muhammad Baharun ]
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹💠🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Rio terlihat kaget saat melihat seorang wanita yang tertidur di salah satu makam, dengan langkah cepat ia menghampiri wanita tersebut, dan benar saja ternyata memang istrinya yang berada disana.
"Astaghfirullah Acha!" sentak Rio saat jarak mereka semakin dekat, "Acha.. Sayang.. bangun Cha" panggil Rio membangunkan istrinya. Namun panggilan Rio seperti tak terdengar oleh Cindy, membuat Rio menjadi cemas.
"Sayang, bangunlah, ini kak Bian Sayang" Rio masih berusaha membangunkan istrinya, ia juga sudah menarik Cindy yang tidur berbantalkan lengannya dengan posisi duduk bersimpuh, kini beralih kepelukannya. Membuat Cindy akhirnya membuka matanya.
"Umm.. kak Bian?!" Cindy terlihat kaget saat melihat Rio.
"Iya Sayang ini kak Bian" Rio kembali memeluk istrinya dengan perasaan lega, "Syukurlah kamu tidak kenapa-kenapa Sayang" lanjutnya sambil mencium dahi dan pipii Cindy berkali-kali.
"Bagaimana Kak Bian bisa tahu kalau Acha disini?" tanya Cindy heran. Karena seingatnya ia belum pernah mengajak Suaminya ke makam orang tuanya.
"Itu tidak penting Sayang, yang terpenting adalah kamu harus memperkenalkan Kak Bian pada ayah dan bunda kamu dulukan?" ujar Rio mengalihkan pertanyaan Cindy.
"Oh iya ya... Eh tapi bukankah Kak Bian sudah kenal ya sama Ayah dan Bunda?" tanya Cindy heran.
"Iya sih sayang, tapi itukan dulu, sewaktu Kak Bian masih kecil. Sekarangkan sudah berbeda sayang. Memangnya kamu tidak ingin memperkenalkan suami kamu ini hm?" ujar Rio sembari ia membersihkan rerumputan kering yang menempel di hijab Cindy akibat ia tertidur di atas pusaran sang Ibu.
"Eh iya, Maaf Acha lupa Kak"
__ADS_1
"Iya nggak apa-apa, ya kak Bian saja ya yang menyapa Bunda dan ayah kamu" kata Rio dan di anggukkan oleh Cindy.
Setelah dapat persetujuan dari Cindy, Rio diam sejenak, sepertinya ia sedang merafalkan doa untuk kedua orang tuanya Cindy, yang sekarang menjadi mertuanya, setelah selesai berdo'a.
"Assalamu'alaikum Tante, Om" kata Rio memberikan salamnya dengan tatapan matanya melihat kedua nisan yang berdampingan.
"Loh kok Tante dan Om sih kak?" protes Cindy setelah mendengar salam Rio.
"Ooh iya, maaf maaf Sayang, kak Bian lupa, ya sudah Kak Bian ulangi lagi ya" ujar Rio dan kembali di anggukkan oleh Cindy.
Rio kembali menatap kedua nisan yang ada di hadapannya, "Assalamu'alaikum Ayah, Bunda," ucapnya lagi mengulangi salamnya.
"Ayah, Bunda sebelum Brian mau minta maaf, karena baru sekarang Brian datang," ucap Rio yang kemudian ia diam sejenak karena ia teringat dengan kenangannya dimasa kecilnya bersama kedua orang tua Cindy.
"Bunda, dulu Bunda meminta Brian berjanji untuk menjaga Achakan? Brian tidak bisa menjaga Acha bila tidak mengikatnya dalam sebuah hubungan Bunda, maka dari itu, Brian menikahi Acha, agar Acha selalu berada di samping Brian. Maaf ya Ayah, Bunda Brian menikahi Acha tanpa meminta izin terlebih dahulu pada Ayah dan Bunda. Tapi Brian janji akan selalu menyayangi dan mencintai Acha dengan segenap jiwa dan raga Brian," tutur Rio, sembari ia memandang wajah istrinya dengan penuh kasih, ia juga memberikan kecupan sayang pada dahinya Cindy.
"Jadi Brian berharap Ayah dan Bunda akan memberikan restu untuk kami, dan Brian juga berharap kalian berdua bisa tenang disana, karena putri kecilnya Ayah dan Bunda akan menjadi tanggung jawab Brian. Dan Brian juga mau mengucapkan terima kasih, karena telah melahirkan bidadari cantik untuk Brian sekali lagi terima kasih Bunda, terima kasih Ayah," tutur Rio lagi yang kali ini ia sambil merangkul pundak istri kecilnya.
"Aamiin ya Allah" ucapnya.
"Sudah Sayang, sekarang kita pulang ya, kamu pasti lelahkan," ajak Rio dengan suara lembutnya pada Cindy. dan di anggukkan oleh Cindy.
Setelah mendapatkan anggukan dari Cindy, Rio membantu istrinya untuk berdiri, setelah keduanya sudah berdiri, Rio kembali menatap kedua nisan yang di hadapan mereka.
"Baiklah Ayah, Bunda, sekarang Brian dan Acha pamit pulang ya, In syaa Allah bila ada waktu kami akan menjenguk kalian kembali, dan Ayah, Bunda jangan sedih kalau kami jarang datang, karena in syaa Allah do'a kami akan setiap hari datang untuk kalian. Ya sudah kalau begitu kami Pamit ya Assalamu'alaikum" ujar Rio lagi, dan Cindy juga langsung menyambungnya juga.
"Acha Pamit Bun,Yah, Assalamu'alaikum"
__ADS_1
Setelah mengucapkan salam Rio pun menuntun Cindy, beranjak dari pemakam umum tersebut. Dan sebelum mereka melangkah keluar dari gerbang pemakaman, Rio kembali menghampiri penjaga pemakam ia juga terlihat memberikan beberapa lembar uang merah kepada penjaga tersebut, setelah itu Ia kembali menggandeng istrinya menuju ke mobilnya yang terparkir di depan gerbang makam.
Setelah keduanya masuk mobil, Rio pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Di sepanjang jalan suasana di dalam mobil begitu hening. Karena sepertinya Cindy enggan sekali buka suara, dan pandangan juga terlihat kosong walaupun ia sedang menatap keluar jendela. Rio sesekali meliriknya Ia baru menyadari kalau mata Cindy terlihat bengkak, ada perasaan bersalah di dalam hatinya.
"Cha? kita makan dulu ya" Rio mulai buka suara, namun sepertinya tidak di dengar oleh Cindy. Karena sepertinya Cindy masih hanyut dalam lamunannya.
"Acha?" Rio kembali memanggil istrinya kali ini sambil menyentuh tangannya Cindy membuat Cindy sedikit tersentak.
"Eh, I-iya Kak, ada apa?" tanya Cindy sedikit kaget hingga ia gugup.
"Kamu kenapa Cha, apa sedang kamu pikirkan hm?" tanya Rio dengan lembut.
"Tidak ada apa-apa kok" sangkal Cindy yang kemudian ia kembali mengalihkan pandangan ke jendela mobil.
"Cha, maafkan Kak Bian ya"
Cindy kembali menatap Suaminya, "Maaf untuk apa?" tanyanya dengan wajah sendunya.
"Maaf, untuk yang tadi pagi, karena Kak Bian sudah egois sama kamu," jelas Rio dengan menatap Cindy singkat lalu kembali fokus dalam menyetirnya.
Mendengar perkataan Rio Cindy terdiam matanya juga langsung beralih kedepan, entah kenapa ia enggan sekali membalas perkataan suaminya.
"Cha kenapa Diam? kamu tidak ingin memaafkan Suami kamu ini hm?" tanya Rio kembali karena melihat istrinya yang hanya diam. Bukannya menjawab Cindy malah meminta Rio untuk menghentikan mobilnya.
"Stop! Hentikan mobilnya Kak!" teriaknya Cindy, membuat Rio kaget dan.
__ADS_1
CHIIIIKTT...
_________