Anak Genius : TWINS PEMBAWA KEBAHAGIAAN.

Anak Genius : TWINS PEMBAWA KEBAHAGIAAN.
MAAF ACHA.


__ADS_3

β—Žβ…β€β¦πŸŒΈ MUTIARA HIKMAHπŸŒΈβ¦β€β…β—Ž


"Apapun yang terjadi hari ini, tetaplah memiliki senyuman yang membuat kita terlihat lebih baik dan bahagia..


SO, Tetap Tersenyum OkπŸ˜‰


Jangan lupa sertakan doa yang akan membuat kita lebih kuat menjalani hidup selanjutnya.


Ayo semangat πŸ’ͺ πŸ˜‰


___Happy Reading__


β…β€β¦β—Žβ…β€β¦β—Žβ…β€β¦πŸ’œβ¦β€β…β—Žβ¦β€β…β—Žβ¦β€β…


Cindy tidak melihat baju pilihan Sahabatnya itu, karena ia hanya tertunduk malu tanpa ingin melihat apapun, setelah di rasa semua yang di butuhkan sudah terpenuhi, Rio pun langsung membayarnya dan kemudian mereka langsung keluar dari butik.


Seperti saat mereka pergi, mobil begitu Hening, seperti itu jugalah, saat mereka akan pulang,


Rio juga masih sering mencuri pandang pada Cindy lewat kaca spion tengahnya, dan dia masih melihat, Cindy dengan pandangan yang kosong tetap setia melihat keluar jendela, hingga akhirnya mobil Rio terparkir di rumah Dila ternyata Rio pengantar Dila terlebih dahulu.


"Cindy, aku turun ya, dan jangan lupa besok kamu hadir di pernikahan ku dan harus berdandan dengan cantik, OK!." Kata Dila yang mengingatkan Cindy.


"Iya Dila in syaa Allah" bales Cindy dengan senyum keterpaksanya.


"Ya sudah kalau gitu aku pamit ya" kata Dila lagi pada Cindy.


"Iya Dila." bales Cindy singkat


"Mas aku pamit ya kamu hati-hati di jalan." ujar Dila lembut pada Rio.


"iya sayang, kamu juga ya, harus tidur yang cukup agar besok kamu menjadi fresh." balas Rio dengan lembut juga, membuat hati Cindy bergejolak saat mendengar Rio memanggil Dila "sayang"


"iya Mas, kamu juga ya?, Ya sudah aku pamit Assalamu'alaikum." pamit Dila yang kemudian ia menyalami tangan ria serta menciumnya,


"iya sayang, wa'alaikumus salam" balas Rio yang juga ikut mencium tangan Dila, Mereka terlihat begitu romantis.


Melihat adegan itu Cindy memalingkan wajahnya, karena ia tak ingin melihat keromantisan mereka, yang membuat hatinya menjadi sakit.


Setelah Dila dan Rio saling salam perpisahan.


bila pun langsung turun dari mobil Rio dan kemudian ia langsung memasuki rumahnya setelah Dila tidak terlihat lagi, pandangan Rio langsung beralih ke Cindy.


"Sekarang kamu pindah ke depan Cindy!." Titah Rio pada Cindy dengan tegas.


"Tidak pak, Saya di sini saja." bantah Cindy Yang sepertinya ia tak ingin duduk bersebelahan pada Rio.


"Aku bukan sopir kamu!, jadi cepet kamu pindah di sini!." Bentak Rio lagi.


"Saya tahu Pak, tapi Saya rasa lebih baik disini saja Pak saya tidak menganggap Bapak sopir saya kok." Ujar Cindy yang masih membantah perintah dari Rio.

__ADS_1


"kamu masih membantah saya Hah?!, di sini Siapa yang atasan kamu atau kamu...." Ucapan yang terlihat ia menjadi kesal karena Cindy selalu membantah padanya. namun perkataannya langsung dipotong oleh Cindy.


"Iya iya iya Saya pindah ke depan!." bales Cindy dengan pasrah." Huh!, masih aja galak!, Untung saja bukan gue yang jadi di calon istrinya kalau tidak iiikh.. seram!.." Gerutu Cindy lirih, saat ia hendak membuka pintu mobil bagian belakangnya.


Ternyata gerutuan Cindy, walaupun lirih Rio masih mendengarnya dan itu membuat Rio mengernyit kesal.


"Apa kamu bilang hah?!" bentak Rio dengan tatapan dinginnya.


"Eh!, tidak pak, Saya tidak bilang apa-apa" sengkel Cindy yang kemudian ia secepatnya turun dari mobil bagian belakang dan terlihat ragu saat ia ingin membuka pintu mobil bagian depan.


Sementara Rio masih memperhatikan Cindy dari tempat duduknya di belakang kemudinya.


"Apakah ia benar-benar tak menginginkan aku menjadi suaminya?, hingga ia berkata seperti itu ?" _Batin Rio. dengan perasaan yang bercampur aduk, antara sedih dan kesal saat mendengar gerutuan Cindy tadi


Sementara Cindy yang ragu untuk membuka pintu bagian depan..


"Ya Allah kenapa perasaanku jadi tak menentu sih?, kuatkan aku ya Allah" _ Batin Cindy.


kemudian Ia pun membuka pintu mobil tersebut.


"lama sekali sih kamu?!." Tegur Rio, saat melihat Cindy yang akhirnya masuk juga


"Maaf Pak." bales Cindy singkat sambil menundukkan wajahnya.


"Ya sudah cepet ikat sabuk pengaman mu! " titah Rio, yang kemudian Ia pun mulai menjalankan kan mobilnya Dan Kamu nunggu balesan dari Cindy dan Cindy pun mengikuti perintah Rio untuk mengikat sabuk pengamannya.


Suasana di dalam mobil kembali hening, hingga Cindy menyadari bahwa arah mobil Rio tidak mengarah ke rumahnya.


"Menurut kamu kemana?." tanya Rio Balik, Mendengar pertanyaan Rio, Cindy langsung mengamati jalan yang di lalui oleh mobil mereka.


"Apakah ini mau kerumah Meira pak?" Tanya Cindy yang sudah mengenal jalan tersebut.


"Sudah tahu kenapa bertanya lagi?" kata Rio datar.


" Tapi pak, saya ingin pulang ke rumah saya saja pak, atau bapak turunkan saja saya di sini biar saya naik taksi saja Pak." Ujar Cindy, yang sepertinya ia tak ingin Rio membawanya kerumah Sahabatnya itu.


Rio mengerenyit mendengar perkataan Cindy. "Kenapa Cindy?, apa itu artinya kamu ingin berhenti dari pekerjaan kamu hah?" tanya Rio, yang terlihat tidak mendengar perkataan Cindy.


"Eh, bukan seperti itu pak, saya hanya.."


"Sssth, Diamlah!, Jangan membantah Aku lagi Cindy!" Tegas Rio memotong perkataan Cindy, membuat Cindy Langsung terdiam dan secara bersamaan mobil mereka memasuki gerbang Mansionnya Daffin dan mobil Rio langsung berhenti tepat didepan Mansion tersebut.


"Sekarang turunlah, Azia sudah menunggu kamu" Kata Rio dan di bales Anggukkan oleh Cindy sembari ia membuka pintu mobilnya dan di saat ia hendak turun..


"Cindy tunggu!" panggilan Rio membuat Cindy menghentikan kakinya yang hendak turun.


"Ada apa pak?" Tanya Cindy penasaran.


"Besok pagi akan ada seorang yang datang untuk mendandani kamu, dan ingat jangan membuat calon istri saya kecewa karena melihat penampilan kamu yang biasa-biasa saja kamu paham?! Ujar Rio, dengan suara datarnya,

__ADS_1


Mendengar ucapan Rio yang apalagi saat ia mengatakan "calon istri saya" hati Cindy seakan teriris oleh sembilu begitu sakit mendengarnya.


"Baik pak, Anda tidak perlu khawatirkan itu." Bales Cindy dengan tatapan yang tak ingin memandang wajah Rio, dan setelah mengatakan itu Cindy langsung turun dan meninggalkan Rio yang masih berada di dalam mobilnya, dengan tatapan mata yang terlihat sedih saat melihat Cindy yang masih berjalan menuju pintu masuk Mansionnya Daffin.


"Maaf Acha'' Ucapnya lirih.


Dan setelah Cindy sudah tidak terlihat lagi, ia juga ikut turun dari mobilnya tersebut dan kemudian ia berjalan dengan langkah gontai memasuki Mansion Daffin.


"Kenapa Lo jadi muram gitu?, Bukankah ini adalah pilihan Lo?" tanya Seorang pria yang sedang berada di ruang tamu.


"Hati gue sakit nyakitin dia Fin" Bales Rio yang kemudian ia menjatuhkan tubuhnya di sebuah sofa di samping pria tersebut yang ternyata Daffin.


"Ya mau gimana lagi, Bukankah ini perminta di sendiri, jadi ya udah Lo jalanin aja Bro, sesuai keinginan dia" Bales Daffin yang menjadi iba melihat kesedihan Sahabatnya itu.


"Ya sudah jangan sedih lagi sekarang sebaiknya lu pulang aja Bukankah besok hari pernikahan lo" kata Daffin lagi.


"Okelah kalau begitu gue pamit ya Assalamu'alaikum." galeri balas Rio yang kemudian dia pun bangkit dari duduknya dan langsung berjalan menuju arah keluar.


"Wa'alaikumus salam hati-hati Bro" jawab Daffin yang masih melihat kepergian sahabat itu.


_____


Sementara Cindy yang berada di paviliunnya, terlihat termenung di sebuah sofa yang berada di sana.


"Boleh aku masuk Cindy?" Tanya seseorang, yang membuat iya tersadar dari lamunannya dan kemudian ia Langsung menoleh ke pintu paviliunnya.


"Lo Mei, masuk aja ini jugakan bagian rumah lo juga." bales Cindy setelah melihat ternyata Meira yang datang.


Mira tidak menggubris perkataan Cindy ia malah duduk disamping Cindy. " kamu baik-baik sajakan Cin?" Tanyanya lagi sambil menatap wajah Cindy.


"Emang gue kenapa?" tanya Cindy Balik.


"Kamu jangan menutupi lagi Cin, karena aku sudah tahu kisah kamu dengan Bang Rio." kata Meira dengan tatapan iba pada Cindy.


"Hehehe, tragis banget ya kisah gue Mei." Kata Cindy sambil terkekeh menutupi kesedihannya. namun Meira kalau tertawanya hanya menutupi hatinya yang sedang berduka.


"Cindy Apa kamu yakin untuk memberi kak Brian kamu pada Dila?" Tanya Meira, membuat Cindy langsung menatap Wajah Meira.


"Terus gue harus apa Mei?, harus bilang gitu, sama Dila Kalau Pak Rio adalah kak Brian ku?, gitu, Heh, Lo enggak ingat perjanjian kita?" Kata Cindy yang terlihat sekali matanya sudah mulai berkaca-kaca.


"Tapi Cindy.."


"Sudah Mei, lupakan saja," potong Cindy dan kemudian ia bangkit dari sofa ia duduk." Maaf Mei, kepala gue pusing, gue tidur dulu ya." lanjutnya lagi dan kemudian Ia pun memasuki sebuah kamar yang ada di paviliun itu.


Sementara Meira hanya geleng-geleng kepala saja melihat kekeras kepalaan Cindy. karena sudah tidak ada lawan bicaranya Meira bangkit dan kemudian ia berlalu meninggalkan paviliun Cindy


********


jangan lupa tinggalkan penyemangat buat Author ya guys..πŸ™πŸ˜‰ dan Author akan kasih bonus update kembali bila LIKE mencapai 200, dan Apalagi kalau VOTE bertambah maka Author akan semakin semangat untuk update kembali. So jangan lupa ya guys πŸ™πŸ˜Š

__ADS_1


Syukron πŸ™πŸ˜˜


__ADS_2