Anak Genius : TWINS PEMBAWA KEBAHAGIAAN.

Anak Genius : TWINS PEMBAWA KEBAHAGIAAN.
MENAGIH JANJI.


__ADS_3

┈••✾•◆❀🤍 Mutiara Hikmah🤍❀◆•✾••┈


"YAKINLAH, ada sesuatu yang menantimu setelah sekian banyak kesabaran (yang kau jalani).


Yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit."


~Ali Bin Abi Thalib~


•┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🤍❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈•


Setelah mereka berdoa bersama, Cindy pun mengajak mereka untuk masuk ke villa. Dan semenjak ia dapat pencerahan dari twins, ia juga terlihat lebih rileks. Bahkan, kini wajahnya terlihat lebih cerah. Dan itu tergambar dari senyumannya yang selalu tersungging manis dari bibirnya.


Melihat perubahan wajah Cindy, membuat Daffin maupun Meira, merasa lega. Pasalnya, semenjak hilangnya Rio, senyuman Cindy pun ikut menghilang, dan bahkan ia jarang sekali mau berbicara, terkecuali dengan twins dan pembantunya. Dan itupun sangat jarang sekali, karena ia lebih senang menyendiri.


"Bagaimana keadaanmu sekarang Cindy?" tanya Daffin setelah mereka telah berada di ruang keluarga villa.


"Alhamdulillah, sekarang saya merasa lebih baik Bang, setelah mendapatkan pencerahan dari kedua anak Bang Daffin." balas Cindy, sambil menyunggingkan senyumnya.


"Alhamdulillah.." sambut Daffin dan Meira secara bersamaan.


"Ana ikut senang mendengarnya Cin. Semoga setelah ini akan menjadi lebih baik lagi dan In shaa Allah kesabaran serta keikhlasan anti akan berbuah manis nantinya." ucap Meira menyelipkan sebuah doa untuk sahabat kesayangannya itu.


"Aamiin.. Aamiin ya Allah.." balas Cindy seraya ia menyapukan kedua tangannya kewajahnya.


"Terima kasih ya Mai, Bang Daffin, terima kasih, karena Sudah mensuport saya selama ini." ucap Cindy lagi pada Daffin dan Meira. "Apalagi para keponakan Aunty, yang cantik dan ganteng ini. Yang selalu membuat Aunty bertambah kuat. terimakasih ya sayang-sayangku" ucapnya lagi pada Twins, sembari ia memberikan kecupan lembut pada kedua bocah yang kebetulan duduk disampingnya Cindy.


"Sama-sama Aunty. Kami berdua sangat sayang banget sama Aunty." balas Twins secara bersamaan. dan keduanya juga ikut memberikan kecupan lembut pada pipihnya Cindy secara bersamaan.

__ADS_1


"Sama-sama Cindy, jangan sungkan begitu! Kitakan sudah menjadi satu kelurga, jadi sudah sewajarnya kita saling mendukung satu sama lainnya. Jadi kamu tidak berterima kasih segala, apakah kamu paham hm?" timpal Daffin


"Iya Cindy benar yang dikatakan Mas Daffin. Anti jangan sungkan begitu dong, kita ini keluarga kalau ada apa-apa, bicarakanlah pada kami, in shaa Allah kami akan selalu ada untuk anti." sambung Meira juga.


"Baiklah in shaa Allah ana tidak akan sungkan kok, dan terimakasih untuk segalanya" balas Cindy.


"Aiis tadi dibilang tidak usah pakai terimakasih segala jugaan" ucap Meira.


"Hehehe, maaf dah kebiasaan mah" balas Cindy sambil cengengesan.


"Sudah sudah, nanti kalau diteruskan bakalan panjang terimakasihnya. Sekarang aku mau menagih janji kamu Cindy, apa kamu masih ingat dengan janji kamu?" tanya Daffin, membuat Cindy mengerutkan keningnya, karena bingung.


"Eh, janji apa ya Bang?" tanya Cindy penasaran.


"Kamu tidak ingat hm?" tanya Daffin lagi. Dan di balas Cindy dengan gelengan kepalanya saja.


"Baiklah saya akan mengingatkan kamu. Sekarang saya mau tanya sudah berapa bulan kandungan kamu Cindy?" tanya Daffin.


"Kamu sudah ingat sekarang?" tanya Daffin lagi, yang sepertinya ia tadi sempat melihat, Cindy tersentak saat mengingat janjinya.


"Iya saya sudah ingat Bang," balas Cindy.


"Bagus! Sekarang pergilah berkemas, kita akan langsung kembali ke kota!" ujar Daffin terdengar tegas.


"Baiklah saya akan kembali ke kota Bang! Tapi saya hanya ingin tetap tinggal di rumah saya dan kak Bian saja, bisakan?" balas Cindy, yang seperti ia enggan untuk tinggal di rumah sahabatnya itu.


"Tidak ada bantahan Cindy! Sesuai janji, begitu kamu kembali ke kota, makanya kamu harus tinggal bersama saya! Jadi jangan bernegosiasi lagi dengan saya kamu paham!" tegas Daffin. Membuat Cindy langsung memandang Meira, seakan ia meminta pembelaan dari sahabatnya.

__ADS_1


"Maaf Cindy, Ana tidak bisa membantu kamu, jadi penuhilah janji kamu. Ingat loh janji itu adalah hutang, jadi tidak boleh mengingkarinya." ujar Meira, yang ternyata ia memahami akan tatapannya Cindy.


"Tapi Ana..."


"Tidak ada tapi-tapian Cindy! Cepatlah berkemas! Ingat saya sudah pernah menuruti keinginan kamu tinggal disini! Sekarang giliran kamu memenuhi inginan kami!" potong Daffin yang tak ingin memberikan kesempatan Cindy untuk mencari-cari alasan lagi. Mendengar perkataan Daffin yang terdengar tegas, membuat Cindy kaget dan sedikit takut.


Meria yang melihat wajah sahabatnya berubah ia pun langsung menghampiri Cindy, dan lalu ia memegang kedua tangan Cindy. "Cindy Anti jangan salah paham ya. Ana bang bang Daffin melakukan ini, karena kami sangat menyayangi Anti. Dan Mas Daffin berkata tegas itu, karena dia sudah menganggap kamu seperti adiknya sendiri. Jadi please ikutlah bersama kami Cindy." tuturnya terdengar lembut. Membuat Cindy akhirnya luluh dan ia pun mengangguk kepalanya.


"Alhamdulillah, ya sudah ayo ana bantu Anti untuk berkemas."ajak Meira sambil menarik tangan Cindy, dan mereka pun beranjak meninggalkan Daffin yang masih berada diruang keluarga.


*******


Sementara di daerah pesisir pantai lainnya.


Disebuah rumah yang terlihat sederhana, nampak seorang gadis sedang duduk di sebuah pembaringan yang diatasnya, terdapat tubuh seorang pria yang sedang memejamkan matanya.


"Mengapa Abang ini, tak bangun-bangun sih? Padahal sudah tiga bulan ia seperti ini!" gumam gadis itu, sambil menatap pria yang berada di pembaringan tersebut.


"Anyaaa? Kamu dimana?" teriak seorang pria.


"Eh, Bapak! Aku harus cepat keluar dari sini!"


┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰


Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.

__ADS_1


dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.


"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊🙏


__ADS_2