Anak Genius : TWINS PEMBAWA KEBAHAGIAAN.

Anak Genius : TWINS PEMBAWA KEBAHAGIAAN.
RUANGAN BERCINTA.


__ADS_3

══ ✥.❖.✥ 💠 Kalam Habaib 💠 ✥.❖.✥ ══


Perindahkanlah kelakuanmu bersama Dia yang mengawasi dirimu, yang melihat qalbumu, melihat lintasan hatimu, memeriksa perasaanmu, mendengar kata kata hatimu.


🔹[ Al-Habib Umar bin Hafidz ]🔹


❤اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ❤


✥❖.✥✥💠.✥✥.❖.✥💠✥.❖.✥✥💠.✥✥.❖✥


"Ada apa ini?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba muncul, membuat Daffin dan Abidzhar langsung menoleh ke sumber suara.


"Meira?" gumam Abidzhar saat melihat sang pemilik suara.


"Sayang," sapa Daffin dan ia pun langsung mengecup lembut kepala bagian sampingnya Meira terlebih dahulu, sebelum ia menjawab pertanyaannya, dan itu membuat perasaan Abidzhar jadi tak menentu, ya maklumlah walau bagaimanapun, Meira adalah cinta pertama baginya, yang tak mungkin lagi ia memiliki.


Karena merasakan hatinya yang bergejolak tak menentu saat melihat kemesraan mereka Abidzhar pun memutuskan untuk pergi.


"Baiklah pak Daffin, terimakasih atas waktunya kalau begitu saya pamit pulang" kata Abidzhar sembari mengulurkan tangannya pada Daffin.


"Sama-sama pak Abidzhar, Terimakasih juga atas kunjungannya" jawab Daffin sembari menyambut uluran tangan Abidzhar dan mereka pun berjabatan tangan.


"Sama-sama juga pak baiklah saya permisi, oh iya Azia Terimakasih." kata Abidzhar, pada Daffin dan juga pada Azia dan bahkan habis mengucapkan terima kasih pada Azia, Abidzhar memberikan kecupan lembut pada pipi Azia.


"Sama-sama Uncle " bales Azia yang kemudian Azia juga memberikan kecupan pada pipi Abidzhar, membuat Abidzhar merasa bahagia.


"Terimakasih lagi Azia untuk kecupannya, ya sudah Uncle pamit ya, pak Daffin saya permisi Assalamu'alaikum" pamiit Abidzhar yang hanya berpamitan pada Azia dan Daffin saja tanpa ia menoleh sedikit pun pada Meira, membuat Meira sedikit heran.


"Wa'alaikumus salam" jawab mereka serentak,


Meira menjadi penasaran, " Ada apa si sebenarnya mas, kenapa sikap Bidzar begitu pada Ira?" tanyanya sambil menatap wajah Daffin dengan wajah penasarannya.


" Tidak ada apa-apa sayang, kami hanya mengobrol sedikit saja" jawab Daffin, yang masih mengendong Azia.


"Lalu kenapa Azia kamu gendong mas?, diakan masih mengikuti jam pelajaran?" tanya Meira yang terlihat heran melihat Azia yang berada di gendongannya Daffin.


" Emang nggak boleh putri kita manja sama Biyahnya?"


"Ya boleh tapi inikan masih jam pelajaran mas"


"Iya iya, kalau nyonya Daffin sudah berkata-kata, maka tak bisa di bantah, Ok sayang sekarang kamu masuk ya nak, belajar yang pintar Ok" kata Daffin pada Azia membuat Azia tertawa lucu.

__ADS_1


"Hihihi, Ho'oh, benar sekali Biyah, Ok deh kalau gitu Zia masuk kelas dulu ya Biyah, Assalamu'alaikum" pamiit Azia yang kemudian memberikan kecupan singkat pada sang Ayah.


"Wa'alaikumus salam nak, yang semangat belajarnya ya" kata Daffin membalas kecupan pada pipi gembulnya Azia kemudian ia pun menurunkan Azia dari gendongannya.


"Oke Biyah" kata Azia dan langsung berlari meninggalkan Daffin dan Meira.


"Jam segini mas kok kesini sih, emang lagi nggak ada kerjaan ya?" tanya Meira setelah Azia sudah masuk ke kelasnya.


" Banyak sih sayang, tapi mau gimana lagi, bayangan Nyonya Daffin yang kecil ini selalu muncul di otak emas, membuat mas tidak bisa berkonsentrasi untuk berkerja, jadi jangan salahkan emas kalau mas sekarang berada di sini." Ujar Daffin sembari ia merangkul pundak istrinya dan kemudian mereka berjalan menuju keruangannya Meira.


"Idih alasan apa itu?, kamu aja yang lebay mas." bales Meira sembari membuka pintu ruangannya saat mereka telah sampai di sana, dan kemudian ia pun duluan masuk.


"Kok lebay sih sayang?," Ujar Daffin yang kemudian ia pun ikut masuk dan kemudian ia mengunci ruangan tersebut. membuat Meira heran.


"Kok di kunci mas, nanti kalau ada orang ingin bertemu dengan Ira bagaimana." protes Meira yang mengabaikan perkataan Daffin tadi.


"Biarkan saja mereka sayang, kamu tak perlu memikirkan mereka, tapi pikirkan nasib suamimu ini yang sejak tadi menahan rindu" kata Daffin yang kemudian ia melingkarkan tangannya pada pinggang Meira.


"Rindu?, hmm lebay kamu mas, tiap hari bertemu jugaan. pakai rindu segala." protes Meira, dengan memanyunkan bibirnya membuat Daffin menelan Silvanya saat melihat bibir merah itu yang terlihat menggodanya.


"Kok lebay sih sayang?, rindu itu tidak lebay sayang, rindu itu berat, makanya aku tidak bisa menanggungnya, dan ingin selalu bersamamu" kata Daffin yang kemudian ia langsung meraih bibir ranum Istri kecilnya yang sejak tadi menjadi pusat perhatian dan ia pun bermain dengan penuh kelembutan, membuat Meira ikut terhanyut oleh permainan suaminya,


Daffin begitu senang karena istrinya sudah mulai mengimbangi permainan bibirnya dan bahkan ia suka menggodanya bila sang istri mulai terhanyut dalam permainan itu, maka ia pun akan melepaskan tautannya dan..


"Kamu menyukainya sayang?" tanya Daffin dengan lembut, sembari ia mengelus bibir merah alami Meira yang sebenarnya itu sudah menjadi candunya juga.


Mendengar perkataan Daffin wajah Meira menjadi merah karena malu, " Apaan sih mas?, udah akh Ira mau kerja lagi " katanya dan melepaskan diri dari lingkaran tangannya Daffin yang berada di pinggangnya dan hendak melangkah menuju ke meja kerjanya, namun tangannya langsung ditarik kembali oleh Daffin dan akhirnya ia kembali ke pelukan Suami.


"Sayang?, suamimu ini masih merindukan mu, tapi kamu malah memikirkan pekerjaan?" tanya Daffin dengan wajah di buat sendu.


"Ikh, tapi inikan memang jam kerja mas,kamu juga seharusnya bekerjakan?" Dalih Meira


"Tapi sayang, suamimu ini tidak bisa menahan rindu lagi, dan mas menginginkanmu sayang.'' Ujar Daffin yang kini suaranya sudah sedikit berbeda dan kemudian ia meraih kembali bibir Meira yang kali ini tautannya sudah berbeda, karena kini ia sudah di kuasai oleh hasrat birahinya.


Meira yang melihat suaminya sudah berbeda ia pun langsung melepaskan tautannya.


"Mas kuasai diri kamu, ini sekolah, bukan tempatnya mas" kata Meira sedikit tersengal, karena sebenar ia tadi sempat hanyut juga namun ia langsung menguasai dirinya.


"Oh, jadi kalau kita berada di tempatnya kamu maukan sayang?" tanya Daffin dengan tatapan yang sangat berharap karena mata itu sudah di kuasa sang hasrat, Karena tidak ingin mengecewakan suaminya Meira pun mengangguk.


"Baiklah kalau begitu, sekarang kita ketempatnya." kata Daffin yang kemudian ia langsung menggendong Meira, membuat Meira terkejut.

__ADS_1


"Aakh!," pekiknya dan langsung tangannya memegang pundak Daffin, " Kita mau kemana mas?" tanyanya yang terlihat bingung.


"Ketempat kita akan bercinta sayang." kata Daffin yang kemudian ia berjalan mendekat sebuah lemari buku yang berada di sudut ruangan Meira, lalu ia menekan sebuah tombol yang ada di lemari itu dan kemudian tiba-tiba lemari pun bergeser dan...



Terlihatlah sebuah ruangan yang membuat Meira yang masih berada di gendongan Daffin menjadi tercengang akan isi di dalamnya.


"Bagaimana, kamu suka sayang?" tanya Daffin membuyarkan ketercengangan Meira.


"Sejak kapan ruangan ini ada mas?" tanya Meira yang nampak penasaran.


"Sejak sekolah ini di bangun sayang, mas sengaja membuatnya agar kamu bisa beristirahat bila kamu capek sayang" kata sembari ia kembali memencet tombol yang ada di dinding dekat pintu masuk, dan kembali lagi lemari buku itu tergeser dan menutupi ruangan tersebut.


"Eh, tapi kenapa mas baru mengatakannya sekarang?"


"Karena waktu itu kita belum dekat sayang, dan kamu selalu menjaga jarak dari mas, jadi mas takut untuk memberitahu kamu, sayang" kata Daffin lagi yang kemudian ia pun membaringkan tubuh Meira keranjang di ruangan tersebut.


"Oh, jadi maksudnya mas, kamu akan tetap merahasiakan ruangan ini kalau kamu tidak ingin itu?" tanya Meira penasaran namun saat mengatakan "itu," sedikit malu.


Daffin Tersenyum melihat istrinya yang malu mengatakan itu, "Itu apa?" tanyanya sedikit menggoda.


"Ya itu itu " kata Meira sembari menyatukan jari telunjuknya, membuat Daffin Tersenyum lucu.


"Maksud kamu bercinta?"


"Hu'um" Balesnya malu.


Daffin Tertawa lagi, " Iya sayang, ruangan ini sekarang menjadi ruangan bercinta untuk kita." Ujar Daffin, sembari ia meraih bibir ranum Meira sembari tangannya membuka Bros pengait hijab Meira hingga hijab pun terbuka, dan terlihatlah leher jenjang nan putih itu membuat Daffin Ingin menelusurinya membuat, Meira mengeluarkan suara lenguhannya.


mendengar itu Daffin semakin semangat untuk ia pun langsung..


Klik!!


"Maaf ya Author, kami tak ingin di intip jadi silahkan Author pergi dari sini cepat!" kata Daffin dengan suara berat yang sepertinya sedang menahan hasratnya.


"Eh, siapa juga yang mau ngintip,🙄 GR, banget sih kamu Fin, para Readers tuh paling yang ingin tahu, 🙄 Author mah nggak 🙄." bales Author dengan kesal karena sebenarnya Author juga ingin tahu..wkwkwk..


*******


Ah, sudahlah bersambung saja...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 😉🙏 SYUKRON 🙏😊.


__ADS_2