
┈••✾•◆❀🤍 Mutiara Hikmah.🤍❀◆•✾••┈
"Bahagia itu seserhana, sesederhana dalam menyikapi hidup ini. Meski hidup penuh kesederhanaan, bisa membuat seseorang merasa bahagia selama ia terus merasa bersyukur. Sederhana tak melulu berarti miskin, sederhana disini bisa diartikan dengan sikap yang menerima keadaan dirinya, dan bisa memaksimalkan potensi dirinya. So, ingin Bahagia maka Bersyukurlah."
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🤍❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈•
Pada awalnya Cindy amat kaget, dengan serangan dari Rio yang secara tiba-tiba. Namun karena rasa rindu yang memang sudah memuncak, akhirnya ia pun ikut menikmati tautan yang diciptakan oleh Rio.
"Jangan berpikir sembarangan sayang," ucap Rio, seraya ia menghapuskan air matanya Cindy. "Dan bukan hanya kamu saja yang sangat kangen, Kak Bian juga amat-amat kangen sama kamu Sayang" lanjutnya lagi, yang kemudian ia pun mengecup lembut dahi Cindy, setelah itu ia pun memeluknya dengan rasa rindunya juga.
"Sayang?" panggil Rio masih dengan posisi mereka yang berpelukan.
"Iya Kak?" sahut Cindy dengan lembut.
"Perut kamu kok besar banget sih? Pelukan kita jadi nggak bisa rapat nih," goda Rio, Karena posisi ia memeluk Cindy mengharuskan dia membungkuk tubuhnya, agar ia tidak menekan perut Cindy yang memang amat besar.
Mendengar perkataan Rio, spontan mata Cindy membulat, ia pun langsung mendorong tubuh Rio, dari pelukannya. "Iiikh.. Kak Bian! Perut Acha besar juga, karena ulah kak Biankan! Ingat perut besar Acha isinya anak kak Bian tau!" pungkas Cindy kesal, yang kemudian ia langsung masuk kedalam rumah mereka. Dengan wajah yang terlihat merajuk.
Melihat istrinya yang merajuk masuk, Rio langsung menepuk jidatnya. "Haiiis.. kenapa kamu lupa Rio! Istri kecil kamukan nggak bisa diajak bercanda? Huh! Dasar Rio bodoh! Cepat berikan rayuan maut padanya" batin Rio, membodohi dan mentitahkan dirinya sendiri, sembari ia menoyor kepalanya sendiri. Yang kemudian ia pun ikut masuk ke rumahnya.
"Loh, mana Acha? kok nggak ada?" gumamnya setelah ia sudah berada di ruang keluarga. "Apa dia pergi ke kamar yaa? Ya sudah langsung kamar aja dah," lanjutnya yang kemudian ia pun langsung pergi menuju ke kamar mereka yang berada di lantai dua.
Setibanya didepan kamar, Rio berbasa-basi mengetuk pintu kamarnya sendiri, berharap Cindy mau menyautnya. Namun harapannya pupus karena tidak ada jawaban dari dalam kamar. Karena penasaran akhirnya Rio membuka pintu kamarnya.
Setelah pintu terbuka, terlihatlah Cindy yang sedang berbaring miring diranjang berukuran besar, tempat biasa mereka bermadu kasih sebelum ia menghilang. Rio tersenyum tipisl, saat ia teringat masa-masa yang pernah ia lewati bersama istri tercintanya dikamar tersebut.
__ADS_1
Rio berjalan masuk, sembari ia kembali menutup pintu kamarnya. Setelah itu ia pun berjalan menuju ke ranjang mereka, yang diatasnya terdapat Cindy yang sedang merajuk. Rio naik keatas tempat tidurnya, dan membaringkan tubuhnya disisi Cindy yang sedang membelakanginya.
Kemudian Rio menumpangkan kepalanya ke tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya ia lingkarkan ke perut besar Cindy, sembari mengelus-elus perut Cindy dengan penuh kasih.
"Sayang, maafin Kak Bian ya? Tadi Kak Bian cuma bercanda kok. Ayolah Sayang, jangan merajuk lagi," ucap Rio dengan lembut. Namun tak di respon oleh Cindy, ia hanya memejamkan matanya saja.
Karena tak mendapatkan respon dari istrinya Rio beralih ke perut Cindy, yang kemudian ia memberikan kecupan pada perut nya. "Hai, anak Ayah? Gimana kabarnya kamu Nak di perut Bunda? Kamu tidak nakalkan disana?" tanya Rio, masih mengelus perut Cindy yang didalamnya ada buah hatinya.
Biasa bila Rio bertanya pada anaknya, Cindy akan menjawabnya dengan menirukan suara anak kecil. Namun karena saat ini ia sedang merajuk, ia hanya diam. Dan masih berpura-pura memejamkan matanya. Namun sepertinya Rio tak kehabisan akal, ia masih saja, mengoceh pada anaknya, yang entah didengar atau pun tidak, oleh buah hatinya itu.
"Sayang, Ayah kangen banget deh sama kamu. Ayah pingin banget jenguk kamu didalam. Sudah lamakan kita tidak berjumpa sayang?" kata Rio lagi yang posisinya kini sudah berpindah, yang tadinya ia berada di belakang Cindy kini ia berada didepan Cindy. Dengan posisi telungkup dan kedua tangannya menopangkan wajahnya, lalu ia berhadapan dengan perut Cindy. Yang seolah ia sedang berbicara pada perut itu.
"Sayang, kamu kangen juga nggak sama Ayah?" tanya Rio pada perut Cindy.
"Kangen banget Ayah" kata Rio yang menirukan suara Anak kecil.
"Benarkah Sayang?" kata Rio dengan suara biasanya.
"Ayah kepingin sih Nak, tapi mau bagaimana lagi, Bunda kamu, lagi marah sama Ayah. Coba deh kamu yang rayu Bunda, siapa tahu saja Bunda mengizinkan kita bertemu Sayang." kata Rio dengan suara biasa lalu ia memasang wajah sedihnya, karena ia tahu, kalau Cindy selalu mengintip kearahnya.
Melihat tingkah Rio yang seolah sedang bicara pada anaknya, Cindy tersenyum lucu, sebenarnya ia juga kangen dengan belaian kasih sayang Suaminya itu Namun gengsinya terlalu besar membuat ia masih bertahan dengan merajuknya.
Namun anehnya, saat Rio, meminta anaknya untuk merayu Bundanya tiba-tiba, perut Cindy bergejolak, membuat ia terpekik.
"Aaakh!" Cindy pun langsung menduduki dirinya sembari ia memegang perutnya.
Rio juga terkejut saat Cindy menjerit. "Kamu kenapa sayang? Apakah perut kamu sakit?" tanyanya terlihat panik.
__ADS_1
"Nggak tahu, kayaknya bayinya menendangi perut Acha, Kak," keluh Cindy, dengan wajah yang terlihat meringis.
"Apakah sudah waktunya kamu akan melahirkan sayang?" tanya Rio masih cemas.
"Nggak tahu tapi belum ada tanda-tandanya kok"
"Hmm.. Apakah Sekarang masih sakit?" tanya Rio Karena ia melihat ekspresi wajah Cindy kini sudah terlihat biasa lagi.
"Eh, sudah hilang Kak," kata Cindy yang wajahnya terlihat heran.
"Humm, Kak Bian tahu tuh sayang, sepertinya anak kita memberikan kode pada kamu, kalau mereka ingin dijenguk oleh Ayahnya tuh Sayang," Ucap Rio sembari ia mengedipkan sebelah matanya sebagai kode pada Cindy.
Cindy yang melihat kodeannya Rio, membuat matanya langsung membulat, karena sepertinya ia paham akan maksud suaminya itu.
"Iiikh.. Apaan sih Kak Bian!" balas Cindy sedikit tersipu-sipu malu.
"Boleh ya sayang, Kak Bian sudah kangen banget sama kamu dan anak kita," ucapnya dengan wajah terlihat mengharap. Membuat Cindy nggak sampai hati melihat Suaminya yang terlihat sudah menginginkan haknya. Dan akhirnya ia pun mengangguk kepalanya, sembari tersenyum manis pada Rio.
"Ahay.. Cus gaspoool!" seru Rio terlihat kesenangan. Namun malah dapat pelototan dari Cindy.
"Eh.. hehehe...Maaf Sayang.."
┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰
Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.
__ADS_1
dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊🙏