
♥︎♡♥︎❣MUTIARA HIKMAH ❣♥︎♡♥︎
"Kehidupan sulit ditebak bagaimana kelanjutannya. Jalan kecil yang semakin sempit dan sempit...
Tapi kesabaran dalam perjalanan pernikahan akan menemukan jalan lebar."
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
❅━━━━━❀━•⊰❁❣️❁⊱•━❀━━━━━❅
Setelah semuanya berkumpul Rio pun mulai melajukan mobilnya menuju arah pulang ke Mansion Daffin, di dalam perjalanan mereka mobil tak pernah hening, karena sudah pasti celotehan Azia selalu memenuhi ruang dalam mobil mereka. ada saja pertanyaan atau ceritanya yang membuat suasana mobil menjadi Hangat.
"Biyah, puncak itu dimana?, teman Zia katanya habis dari sana Biyah, katanya di sana enak loh, tempatnya indah dan dingin Biyah, Zia jadi ingin ke sana juga." Ujar Azia dengan mimik wajah yang terlihat lucu ditambah dengan tatapan keinginan tahunya membuat Daffin menjadi gemas melihatnya.
"Itu lumayan jauh sayang, tapi baiklah demi keinginan Putri kecil Biyah, yang lucu ini, akhir pekan nanti, kita akan ke sana, dan kita akan berangkat di hari Jumat sore agar kita bisa bermalam di sana selama 2 hari. "Balas Daffin sembari menoel ujung hidung Azia.
mendengar perkataan sang ayah si kecil aja langsung bersorak kesenangan." Horee, Asiik kita ke puncak!, " Sorak Azia kesenangan. " Biyah apakah Autiy Cindy akan ikut?" Tanya Azia saat ia melihat Cindy ikut tersenyum padanya, yang sebenarnya Cindy ikut seneng karena melihat, kegembiraannya.
"Tentu saja Aunty Cindy dan Uncle Rio ikut, kan biar mereka sekalian berbulan madu di sana." Balas Daffin ngasal, membuat Rio yang sedang menyetir kaget dan dengan spontan ia melihat Daffin lewat kaca spionnya, dan ia bermaksud mau protes namun Keduluan oleh Meira.
"Eh, Emas!, kok ngomong gitu sih sama Zia?" tegur Meira, karena ia takut Azia pasti akan bertanya dengan detail, dan belum sempat lagi Daffin berkata-kata, yang di takutkan Meira akhirnya terjadi..
"Berbulan madu itu apa Biyah?" Tanya Azia dengan wajah penasarannya.
"Ukh, Mampos lo!" gumam Rio, merutukki Daffin, membuat Daffin yang ternyata mendengarnya langsung mempelototi matanya ke Rio, karena kesal.
"Eh bukan apa-apa sayang," Kata Daffin yang terlihat bingung untuk menjawab pertanyaan Azia.
"Masa sih bukan apa-apa, emang bulan madu itu apa Biyah?" Tanya Azia lagi yang terlihat masih tak mau menyerah, rasa ingin tahunya, begitu besar, itulah kenapa Meira selalu mengingatkan Daffin agar berkata tidak sembarangan.
"Eh, itu sayang..."
"Alhamdulillah, kita sudah sampai!" Seru Rio, yang sengaja mengalihkan pembicaraannya, mendapatkan pertolongan dari Rio, Daffin bernapas lega, karena pada akhirnya ia tak harus menjawab pertanyaan dari putri kecilnya yang terlalu ingin tahu itu.
"Alhamdulillah, ya sudah ayo kita turun, soalnya Uncle Rio sama Aunty Cindy mau, segera pulang." Kata Daffin yang ikut beralih, dan dengan cepat ia pun turun dari mobil dan di ikuti dengan Meira dan twins.
Karena Rio yang juga nggak ingin terlibat dengan cepat ia pun berpamitan pada Daffin.
"Iya nih, Uncle dan Aunty Cindy mau cepat pulang, jadi kami pamit ya Assalamu'alaikum" Pamit Rio yang kemudian ia langsung menarik tangan Cindy menuju ke tempat mobil Rio terparkir.
"Wa'alaikumus salam." Jawab mereka serentak, dan setelah mobil Rio telah pergi ternyata Azia masih teringat akan pertanyaannya.
"Biyah, yang tadikan belum Biyah jawab?."
DEGH!..
"Astaghfirullah, ini anakku, turunan siapa sih keinginan tahunya?" Gumam Daffin lirih.
__ADS_1
Ternyata di dengar oleh Meira dan ia pun mendekati wajahnya ke telinga Daffin.
"Bukankah turunan mas ya, Mas kan selalu ingin tahu." Bisik Meira, membuat Daffin jadi cengengesan sambil menunjuk tengkuknya yang tidak gatal.
"Eh, sayang.. hehehe..iya juga ya." katanya sambil cengengesan malu.
"Kok Biyah malah cengengesan sih?" protes Azia sambil ia melipatkan kedua tangan kecilnya di dadanya.
Melihat kebingungan Daffin, Meira pun berinisiatif untuk mengalihkan keingin tahuan Azia.
"Biyah, bukankah tadi Biyah bilang kita mau ke rumah eyang?" Ujar Meira sembari ia mengedipkan matanya pada Daffin, seperti ia sedang memberikan kode pada suaminya itu.
"Eh, Benarkah Biyah?!" Tanya Azia langsung dengan antusias.
"Eh, iya sayang kita mau ke rumah eyang, sekarang kalian pergilah bersiap." Ujar Daffin pasrah.
"Horee kita mau ke rumah eyang," Sorak Azia kegirangan " Ya udah, kalau begitu Zia siap-siap ya Biyah." Katanya lagi.
"Iya sayang pergilah."
"Assalamu'alaikum Biyah, " kata Azia lagi yang kemudian ia langsung berlari memasuki mansion mereka.
"huft!," Daffin bernafas lega.
"Makanya, kalau ada Twins, jangan ngomong sembarangan mas," Tegur Meira setelah kepergian twins.
"Ayo mas, " Bales Meira yang kemudian mereka pun melangkah secara berbarengan memasuki Mansion mereka.
______
Sementara di sisi lain..
Rio dan Cindy yang beada di dalam mobilnya..
"Acha kita sudah seminggu lebih tinggal di rumah bunda, apakah tidak sebaiknya kita pulang ke rumah sendiri, apa kata bunda nanti bila kita terus-menerus tinggal di sana Acha, bukankah seorang istri sudah seharusnya ikut di mana suaminya tinggal." Ujar Rio dengan lembut dengan tatapan matanya yang masih fokus dengan menyetirnya.
"Eh, tapi pak.."
"Acha, aku nggak mau di cap orang, tidak bertanggung jawab terhadap kamu, karena aku lihat para tetangga kamu, selalu menatap sinis terhadapku, karena mereka berpikir aku numpang tinggal dengan kamu, dan lagian kamu emang nggak takut Allah, marah karena selama kita tinggal di sana kita tidur secara terpisah, itu sama saja kamu sudah mengabaikan suami kamu Acha." Potong Rio, yang tak memberikan Cindy berbicara.
Mendengar perkataan Rio, dengan menyebut nama Rabb nya, membuat hati Cindy bergetar.
"Astaghfirullah, benar kata kak Bian, selama ini aku tidak memikirkan hal itu, ya Allah Cindy, percuma kamu tunggang-tungging kalau di mata Allah kamu adalah seorang istri yang durhaka pada suami kamu."_Batin Cindy yang mulai berkecamuk.
Melihat istrinya yang tidak merespon perkataannya membuat Rio mengerenyitkan dahinya dan kemudian ia memandangnya sesaat dan kemudian ia kembali lagi fokus ke depan.
"Kenapa Diam Acha?, apakah perkataanku ini salah?, atau selama ini kamu tidak pernah menganggap aku sebagai suami kamu hm?" Tanya Rio yang membuat Cindy tersadar dari lamunannya, dan kemudian ia menatap singkat wajah Rio yang kemudian ia kembali menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Maaf pak, saya tak bermaksud seperti itu, hum.. baiklah saya ikut kerumah bapak sekarang." Ujar Cindy yang akhirnya hatinya mulai luluh karena ia takut menjadi seorang istri durhaka karena tidak perduli dengan perkataan suaminya.
"Alhamdulillah, ya sudah kalau begitu kita langsung kerumah kita ya." Balas Rio yang terlihat senang.
"Eh, tapi pakaian saya masih di rumah bunda pak." Kata Cindy, sedikit kaget karena Rio dengan spontan memutar balikkan mobilnya menuju ke arah yang berbeda dari rumah Cindy.
"Kamu Tidak usah khawatir, aku sudah mempersiapkan kebutuhan kamu di rumah kita, sekarang tinggal nyonya saja yang belum ada di sana." Ujar Rio sembari mengedipkan matanya, membuat mata Cindy langsung membulat kaget.
"Eh, Iis, bapak genit!" ucapnya dengan spontan, membuat Rio yang mendengarnya langsung terbahak.
"Hahahaha, Genit sama istri sendiri tidak berdosakan Acha?" Rio tertawa sambil bertanya pada Cindy dan hanya di balas Cindy dengan mengangkat kedua bahunya saja.
"Kamu selalu bikin aku gemas sih Acha?."
"Iis, apaan sih pak,?"
"Tidak apa-apa sayang." Ucap Rio, membuat wajah Cindy memerah karena mendengar kata sayang dari mulut Rio, membuat Rio semakin ingin menggoda istri kecilnya itu, Namun ia tunda karena mobilnya telah memasuki gerbang rumahnya yang terlihat cukup besar, namun tak sebesar Rumah Daffin.
"Loh, ini rumah siapa pak?, apakah kita bukan tinggal di rumah Papa Harun?" Tanya Cindy heran, karena memang Rio tidak pernah membawa Cindy kerumahnya, makanya Cindy berpikir ia akan di bawa ke rumah orang tua Rio.
"Ini rumah kita Acha, kita nggak mungkinkan campur dengan Papa," Jelas Rio. " Apakah kamu suka Acha?" tanyanya lagi.
"Suka kok pak." jawab Cindy dengan mata masih melihat sekitar rumah barunya.
"Syukurlah, Kalau begitu sekarang ayo kita masuk nyonya Brian." Ajak Rio, yang kemudian ia merangkul pundak Cindy, mendengar kata nyonya membuat dada Cindy berdesir.
"Eh." seketika Cindy menatap wajah Rio.
"Ada apa nyonya Brian?, apakah di wajah suami kamu terlalu tampan, sehingga kamu menatapnya begitu instens?" tanya Rio yang ikut membalas tatapan Cindy.
Mendengar perkataan Rio kembali lagi mata Cindy membulat namun kali ini ia putar malas.
"Iis, bapak narsis sekali.!" Ucapnya malas..
"Hahaha, aku jadi ingin selalu menggoda kamu Acha, You look very funny." ujar Rio sembari mengecup pipi Cindy singkat, membuat Cindy kaget.
"Eh!, Bapak!" Bentak Cindy..
"Iya sayang?, apakah tidak boleh suamimu ini mengecup istrinya hm?" Tanya Rio yang terlihat sekali ada senyum kepuasan di wajahnya.
"Bukan begitu pak, ini masih di luar, nanti kalau ada yang lihat gimana?" Balas Cindy dengan wajah yang terlihat malu.
"Oh'hoo..humm, Apakah itu berarti akan tidak apa-apa kalau di dalam?"_Batin Rio dengan tersenyum miringnya..
_________
Ah-ha.. apakah yang akan terjadi selanjutnya..😉
__ADS_1
Terus ikuti Author ya, dan jangan lupa tinggalkan jejaknya Ok 🙏😉 Syukron 🙏🥰