
──⊱◈◈⊰🌷MUTIARA HIKMAH🌷⊱◈◈⊰──
"Jangan Menikah Hanya Karena Jatuh Cinta
Namun Menikahlah Karena Kamu Yakin Surga Allah Lebih Dekat Bersamanya"
____💗Quotes of the day 💗___
══ ✥.❖.✥ ══ ══ ✥💗✥ ══ ══ ✥.❖.✥ ══
Azia dan Azmy sudah berada di kursi santai di bawah payung besar berwarna-warni.
"Sekarang Dede sudah ingat?, sekarang sudah waktunya kita menjalani misi ini apa Dede siap?" tanya Azmy yang kini ia duduk di kursi santai sambil meminum jus buahnya.
"Oke Dd siap, Aa, lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Azia yang ikut duduk di kursi santai di sebelah kursi milik Azmy.
"Langkah pertama, kita harus memberikan waktu buat Ummah dan Biyah untuk mereka berdua" kata Azmy yang kini ia duduk bersandar di kursi santai panjang dengan kaki di luruskan di atas kursi santai tersebut dan dengan tangan ia jadikan bantal di sandaran kursi tersebut.
"Oke, berati kita tidak perlu kembali kesana biar Ummah dan Biyah bisa berduaan kan Aa" ujar Azia dan ia melakukan hal yang sama seperti Azmy, ia membaringkan tubuhnya di atas kursi santai juga, tapi tiba-tiba mereka di kagetkan dengan suara Daffin yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Kalian berdua tidak apa-apa kan nak?" tanya Daffin, merasa cemas karena melihat kedua Anaknya yang berbaring setengah duduk di kursi santai panjang itu.
"Hah?, kenapa Biyah, di sini juga?" bukannya menjawab pertanyaan Biyahnya Azia malah kembali bertanya pada Daffin.
"Yah Biyah kemari ingin mengajak kalian bermain kembalilah nak. " jawab Daffin polos.
"Peuk!" Azmy menepuk dahinya seraya berkata " Aiih, Biyah memang tidak peka yaa!" Ucapnya sambil menggelengkan kepalanya dengan tatapan matanya mengarah ke Daffin dengan tatapan yang tidak bisa di artikan oleh Daffin.
"Biyah tidak Peka?, Apa maksud kamu Nak " tanya Daffin bingung.
"Haiis" keluhan Azia yang ikut meletakkan tangannya pada dahinya tapi ia tak menepuknya, dan kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya, sudah persis seperti orang dewasa
" Biyaah, kami kesini, bermaksud ingin memberikan kesempatan untuk Biyah dan Ummah berduaan, kenapa Biyah malah ikutan kesini sih" katanya yang kini tangannya sudah ia lipatkan dan ia letakkan di dada.
Daffin tersentak kaget dengan perkataan Azia.
"Maa syaa Allah, jadi anak Biyah, ingin Biyah berduaan saja sama Umma ?" tanyanya sembari ia menatap kedua buah hatinya itu.
__ADS_1
"Iya dong Biyah, kan biar kami secepatnya memiliki Dede bayi.."
"Dede!" Bentak Azmy.
"Ups!" Azia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Daffin langsung Tersenyum saat mendengar keceplosannya Azia yang menginginkan seorang Adik, lalu Daffin pun langsung duduk di kursi santainya Azia dan kemudian ia membelai rambut Azia yang masih basah akibat ia bermain di pantai tadi.
"Hmm, jadi Anak-anak Biyah sudah kepingin punya adik bayi rupanya, iyakah?" tanya Daffin pada twins dan dengan cepat keduanya langsung mengangguk
"Iya Biyah, teman Zia sudah punya Adik bayi, jadi Zia juga ingin punya adik bayi juga Biyah" kata Azia yang matanya sangat berbinar saat mengatakan adik bayi,
Daffin, Tersenyum lalu ia mengusap puncak kepala Anak-anaknya. "Oke kalau begitu Biyah akan berusaha untuk merayu umma kalian agar ia mau memberikan adik untuk kalian, tapi dengan syarat kalian harus membantu Biyah apa kalian mau?" tanya Daffin lagi pada kedua anaknya itu.
"Tentu Biyah, dengan senang hati kami akan membantu Biyah." kata keduanya dengan penuh semangat,
"Bagus Sekarang kalian pergilah masuk, minta bantuan bi rum untuk mandi setelah itu kalian istirahat ya nak " kata Daffin sembari mengelus lembut kepala kedua anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Yes, sir!" kata keduanya sambil tangannya memberi hormat pada Daffin, bak seorang prajurit yang baru menerima perintah dari komandannya.
"Okay Biyah, kami masuk ya Assalamu'alaikum" pamiit Azia dan Azmy, lalu keduanya berlari menuju ke Villa dan hilang di balik pintunya.
Kemudian Daffin memandangi istrinya dari tempat duduknya dan kemudian ia pun bangkit dan berjalan menuju tempat Meira
___
Sementara di sisi lain, setelah kepergian Azmy dan Azia, Meira langsung mendudukan dirinya di pepasiran di tepi pantai, dengan lutut ia tekukan lalu kedua tangannya ia tumpangkan di atas lutut tersebut dan kemudian ia juga menumpangkan dagunya di atas tangannya juga, sementara tatapannya jauh ke depan ke tengah-tengah lautan, di tambah lagi angin laut yang begitu sejuk membuat ia semakin hanyut dalam lamunannya, hingga ia menyadari kalau Daffin juga sudah duduk di sampingnya.
"Mei, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Daffin lembut, dengan posisi duduk yang hampir sama dengan Meira hanya saja ia tak meletakkan dagunya di atas tangan yang ia letakkan di atas lututnya.
Mendengar suara.Daffin spontan mengagetkan Meira dan Iya langsung menoleh kearah Davin dan otomatis mata mereka pun saling bertemu.
Tuk sesaat mereka saling bertatapan, dengan posisi Meira yang kini menompangkan pipihnya di atas tangannya yang sedang berada di lututnya, sedangkan Daffin masih posisi semula., mereka bertatapan hingga angin menerpa hijab Meira yang tiba-tiba mengenai wajanya.
"Eh, Maaf ?!" ucapnya dan ia langsung membuang tatapannya kembali ke tengah-tengah laut.
"Apa yang sedang kamu pikirkan Mei?" Daffin mengulangi pertanyaannya lagi.
__ADS_1
"Ti.tidak ada mas." Jawab Meira gugup, dengan pandangan masih menatap hamparan lautan.
dan ia tiba-tiba teringat pada anak-anaknya.
"Eh, ke mana Twins mas?" tanyanya dengan mata melihat sekeliling pantai seperti mencari sesuatu.
"Twins sudah di Villa Mei, katanya mereka ingin istirahat" kata Daffin menjawab pertanyaan Meira.
"Oh, kalau gitu Ira masuk juga deh " kata Meira yang kemudian ia hendak bangkit tapi, dengan cepat tangan Daffin sudah menariknya dan..
"Akh!" pekikkan Meira kaget karena tangannya di tarik oleh Daffin hingga ia terduduk tepat di pangkuan Daffin yang kini posisi kakinya sedang bersila,
"Maaf!" kata Daffin dengan tangan sudah melingkar di pinggang Meira, membuat mata Meira membulat. " Jangan marah Mei, aku hanya ingin bicara padamu, bolehkah?" katanya dengan tatapan yang sendu dan berharap kepada Meira,
Meira yang mendapatkan tatapan seperti itu membuat ia tak sampai hati untuk menolaknya dan akhirnya ia menganggukkan kepalanya.
"Tapi bisakah Ira turun, ini tidak nyaman mas " kata Meira dengan wajah yang tertunduk malu.
Daffin Tersenyum tipis melihat istrinya yang sedang tersipu malu. " Kenapa tidak nyaman, akukan suami kamu Mei, jadi kamu tidak perlu malu terhadapku" kata Daffin lembut sembari membenarkan beberapa rambut yang lancang keluar dari hijabnya Meira.
"Tapi Mas..." perkataannya langsung terputus tatkala jari telunjuk Daffin yang sudah mendarat ke bibir merah meronanya.
"Sssth, dengarkan aku Mei," katanya yang tangannya masih di bibir Istrinya, dengan wajah yang sedikit mendongak karena posisi Meira yang ada di pangkuannya terlihat lebih tinggi darinya. seperti itu juga Meira menatap Daffin dengan wajah sedikit menunduk.
Tuk sesaat mereka saling bertatapan mata, dan sudah pasti Jantung mereka saling memburu karena posisi mereka yang terbilang sangat dekat sekali, deruan ombak dan angin yang menerpa seakan tak terdengar oleh mereka karena mereka masih terhanyut dalam pemikirannya masing-masing.
*******
Terus dukung Author ya, 🙏😊
Dan apabila Dalam waktu 2 jam Like tembus 200, maka Author akan kembali Update 😉
jadi kalau ingin Author Update lagi hayo
LIKE, VOTE DAN KOMENTAR
Biar Author Semangat oke guys?"😉
__ADS_1