
πΏπΈπΏ MUTIARA HIKMAH πΏπΈπΏ
"Bila Allah sayang sama kita ia akan selalu memberikan kita ujian,,
Saat kita ikhlas dengan ujian yang Allah berikan,, Maka Allah akan tambah ujiannya lebih berat lagi, kita ikhlas lagi, maka di tambah yang lebih berat lagi, Akan terus seperti itu Sampai diri kita terbiasa dan menyadari bahwa sebaik-baiknya pegangan adalah Allah,,
Semoga Allah senantiasa memberikan kita kesabaran tuk menerima setiap ujiannya dan keikhlasan hati agar bisa melewati ketentuan-Nya,,, Aamiin,,
__Happy reading__
βπΉπ·π π·πΉπΉπ·π π·πΉπΉπ·π π·πΉβ
Hari-hari telah berlalu, kini Daffin berserta keluarga kecilnya, juga sudah kembali ke rumah mereka di kota J dan juga sudah memulai aktivitas mereka masing masing, seperti saat ini Meira dan anak-anaknya juga sudah kembali mengikuti aktivitas sekolah.
Dan semenjak Azia hilang penjaga di sekolah di perketat oleh Daffin, dan semenjak itu juga Daffin memberikan istri dan putrinya sebuah kalung berlian yang di dalamnya sudah di berikan alat GPS, sedangkan Azmy ia memberikan Jam yang canggih dan di dalamnya juga sudah di isi GPS, walaupun mereka sudah di jaga ketat oleh para bodyguard pilihan tapi tetap Daffin selalu waspada karena ia tak ingin kejadian Azia terulang kembali..
Hari ini mereka sedang melakukan kegiatan autdoor study yang artinya melakukan kegiatan belajar dan mengajar di luar kelas, atau di Alam bebas, sama seperti Daffin yang selalu waspada, Meira pun melakukan hal yang sama, seperti saat ini padahal si Twins sudah memiliki bodyguard masing-masing, tetap saja Meira selalu ikut mengawasi kegiatan mereka hari ini, dan lama kelamaan membuat Twins jadi risih karena melakukan apapun Selalu di ikuti, apa lagi teman-teman mereka sudah pada mulai usil.
"Hay, anak mami, jangan dekat-dekat dengan kami, sana jauh-jauh, nanti gara-gara kalian kami bisa kenak skor lagi?" kata para teman-teman sekolah Azia dan Azmy.
"Iya benar, kalian jangan bermain-main dengan kami, soal kami takut pada pengawal-pengawal kalian!" ujar salah satunya juga, dan bahkan teman akrab mereka juga ikut menjauhi Azia dan Azmy, dan itu membuat keduanya terlihat sedih.
"Nggak Asik, nggak punya teman!, gara-gara Biyah dan Umah kita jadi nggak punya teman!" kata Azia dengan wajah yang nampak kesal, dengan tangan yang ia lipatkan di dadanya, di sebuah taman yang terlihat sepi dan hanya ada dia, Azmy dan ke empat bodyguardnya.
"Dede, Zia nggak boleh ngomong begitu, Biyah dan Umah melakukan itukan karena mereka sayang dengan kita, Dede, dan mereka melakukan itu karena mereka tidak mau kejadian Dede di culik terulang lagi" kata Azmy memberikan pengertian pada adiknya itu.
"Iya iya, Zia tahu, udah akh, Zia bosen!, Zia mau ke perpus aja!" kata Azia dengan sedikit menyentakkan kakinya lalu ia pergi dengan wajah di penuhi kekesalan
Dan di saat Azia hendak pergi, kedua bodyguardnya pun mengikutinya membuat ia semakin kesal melihat keduanya.
__ADS_1
"Iss!, paman Jarwo, paman Gombloh! bisa nggak sih tidak ngikutin Zia !" bentaknya karena ia kini mulai risih di ikuti mulu dan gara-gara mereka juga dia dan Azmy jadi tersisih dari teman-temannya.
"Maaf Ustadzah kecil, tapi ini perintah dari pak Daffin untuk menjaga Ustadzah kecil" jelas Jarwo.
Azia mengerenyitaya "Huh!, Biyah lagi?!," katanya dan tak ingin membantah Akhirnya ia pergi begitu saja ke ruangan perpustakaan yang ternyata, Dila teman Meira menjadi penjaga di perpustakaan itu.
"Loh, ada apa dengan wajah Tuan Putri?, biasanya wajahnya cantik, kenapa hari ini, wajahnya berubah jadi manyun gitu ya?" goda Dilla saat melihat anak dari sahabatnya memasuki perpustakaan.
"Nggak lucu tau Aunty!" Bales Azia ketus.
"Hai, apa yang terjadi pada ponakan Aunty yang cantik ini?, kelihatannya kok seperti ia sedang marah ya?" kata Dilla yang masih ingin Menggoda Azia, namun Azia malah diam.
Melihat Azia hanya diam dengan tangan yang di lipat di dada, Dilla pun menekukkan lututnya agar ia bisa berdiri sejajar dengan Azia "Sayang ada apa?, cerita sama Aunty, kenapa Azia marah? siapa tau Aunty bisa bantu Zia" katanya sembari mengelus pipi gembulnya Azia.
"Maaf Aunty, Zia tuh kesal banget sama Biyah dan Umah, karena mereka Zia di jauhi teman-teman Zia Aunty" Kata Azia yang akhirnya menceritakan kekesalannya.
"Iyakah Aunty?"
"Iya sayang, makanya, kamu tidak usah mengambil pusing karena tidak dapat berteman pada mereka, karena teman yang selalu ada itu hanya keluarga sayang, dan kamu juga bisa berteman pada Aunty Dila, Aunty, Elsa, Aunty, Santi dan Aunty Cindy, dan paman-paman preman itu jugakan mau berteman pada Zia, jadi Zia jngan sedih dan marah lagi ya " kata Dilla dengan lembut.
"Baiklah Aunty, terima kasih, ya Aunty" kata Azia yang kini ia kembali tersenyum lagi.
"Sama-sama sayang" bales Dilla sembari ia memberikan kecupan di pipi gembulnya Azia dengan gemas, setelah itu Dila langsung memeluk Azia dengan rasa kasih sayangnya.
Sementara di depan pintu perpustakaan ternyata ada seseorang yang sedang mengintip dan mendengar percakapan antara Azia dan Dilla dan saat melihat Azia dan Dilla saling berpelukan terlihat ia bernafas lega melihat itu, dan di saat dia masih menyaksikan adegan di dalam tiba-tiba seseorang mengejutkan dia.
"Kamu sedang apa Mei?" suara bariton seorang pria membuat orang itu yang ternyata adalah Meira, terlihat sangat terkejut bukan main.
"Astaghfirullah mas Daffin!, sssth!" katanya dan ia langsung menarik tangan pria yang ternyata Daffin, dan membawanya meninggalkan perpustakaan tersebut, menuju ke ruangannya.
__ADS_1
Daffin yang tangannya di tarik oleh Meira ia hanya tersenyum, karena walaupun ia sudah memiliki Meira seutuhnya tapi tetap Meira masih sering berjaga jarak olehnya, sesampainya di ruangan Meira.
"Ada apa sih Mei, kamu buat mas penasaran saja?" kata Daffin mengalihkan rasa canggung Meira yang tersadar bahwa ia sudah menarik Daffin, dan benar saja mendengar pertanyaan Daffin rasa canggung Meira pun hilang.
" Itu mas, semenjak kita memberi bodyguard pada Azia dan Azmy, mereka saat ini jadi di jauhi oleh teman-temannya, dan itu membuat Azia marah dan sedih, tapi untungnya tadi Dilla memberikan pengertian padanya dan Alhamdulillah, akhirnya sekarang ia tak sedih lagi kok mas" kata Meira menceritakan apa yang telah terjadi pada anak-anaknya.
"Alhamdulillah kalau gitu, kita juga melakukan ini untuk kebaikannya kok Mei, biar saja mereka tak mempunyai teman, karena kita yang akan menjadi teman Mei" Bales Daffin.
"Iya mas Ira juga berpikir begitu, karena Ira nggak sampai hati juga melihatnya saat teman-teman menjauh darinya" kata Meira yang terlihat juga ada sedih di raut wajahnya.
"Kamu jangan sedih ya sayang, karena kita akan menjadi teman mereka oke, hmm atau.. bagaimana kalau kita kasih mereka teman yang lucu Mei." kata Daffin sembari mengedipkan matanya, membuat Meira tidak paham dengan perkataan suaminya itu.
"Eh, apaan sih mas?, hmm maksudnya mas apa?" tanya Meira sedikit salah tingkah karena kedipan nakal sang suami.
Melihat istri kecilnya kini terlihat memerah wajahnya membuat Daffin menjadi gemas dan ia pun mendekati dirinya ke telinga Meira.
"Maksudnya mas, kita buatkan mereka Adik yang lucu sayang" bisik Daffin membuat mata Meira membulat kaget dan malu..
"Eh, hmm.." terlihat Meira bingung untuk membalas perkataan Daffin, ia hanya menggigit bibir bawahnya saja, membuat Daffin yang melihatnya menelan Silvanya dengan paksa.
Tak tahan melihat bibir meronanya yang terlihat enak Daffin pun mendekati bibir itu Daan...
Bersambung Akh πππ
β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys..
Author akan kembali Update apa bila dalam waktu dua jam bisa tembus berapa yaa hmmπ€π€π€ pokoknya lebih 200 maka Author secepatnya akan update Ok so jangan lupa ya guys π
__ADS_1