Anak Genius : TWINS PEMBAWA KEBAHAGIAAN.

Anak Genius : TWINS PEMBAWA KEBAHAGIAAN.
TERJEBAK DI DALAM LEMARI.


__ADS_3

πŸƒπŸŒΈ MUTIARA ALFAQIROH πŸŒΈπŸƒ


" Jika ada kata yang melukai mu,


Menunduklah biarkan ia melewatimu.


Jangan dimasukkan ke dalam hati


Agar hatimu tidak lelah."


___( Ali bin Abi Thalib )__


#############################


Anzani Kembali keluar, lalu ia masuk kembali Sambil mengucapkan salamnya.


"Assalamu'alaikum?" ucapnya namun ia tak mendengar satu pun yang menjawab salamnya.


"Assalamu'alaikum?" Anzani Kembali mengucapkan salamnya, namun lagi-lagi tidak ada jawaban dari orang yang ia harapkan, malah dia mendapatkan jawaban dari pembantu di rumahnya.


"Wa'alaikumus salam neng" bales seorang wanita paruh baya yang tersenyum padanya.


"Kok bi Asih sih, kedua keponakan ku mana?" tanya Anzani dan ia pun langsung melangkah menuju ruang keluarga,


"Hah?, pada kemana mereka?" ucap Anzani saat tak melihat satupun dari mereka di ruangan itu..


"Ikh, Twiiiiins, kalian mulai jahil ya sama Aunty, Awas aja kalau ketemu!!" Ancam Anzani karena kesal telah di jahili oleh si Twins.


*****


Sementara Azmy yang tadi menarik kedua Eyangnya, membawa mereka ke kamar sang Eyang, lalu ia membawa kedua eyangnya bersembunyi di ruang pakaian, dan keduanya hanya menurut dengan apa yang di aba-abai Azmy.


"Hehehe, ternyata cucu kamu jahil juga ya mah?" bisik Adi Nugraha saat mereka di dalam ruangan pakaian.


"Iis, itukan cucu papa juga " Bisik Nur Aini juga..


"Seeesht!, jangan berisik eyang kung, eyang tri, nanti kita ketahuan sama Aunty zani" Bisik Azmy, dengan menaruh jari telunjuknya di bibirnya.


"Eh, iya maaf sayang" kata sang eyang kung dan di Anggukkan oleh Azmy dan ia kembali menaruh jari telunjuknya di bibirnya tanda mereka harus diam.


******

__ADS_1


Sementara Azia yang tadi menarik Daffin dan Meira, ia membawa mereka ke kamar Daffin dan ia juga menyuruh Daffin dan Meira masuk kedalam lemari pakaian yang memang nampak besar bisa muat lebih dari dua orang.


"Biyah dan Ummah masuk sini cepat," Titah Azia dengan suara berbisik,


"Tapi nak, masa Biyah dan Ummah harus masuk lemari sih?" protes Daffin namun dengan suara biasa hingga Azia menaruh jari telunjuknya di bibirnya.


"Sssth, Biyah!, nanti kedengaran sama Aunty Zani Biyah!" tegur Azia tapi dengan suara berbisik lagi.


"Eh, maaf sayang" bales Daffin dan kali ini suaranya di buat berbisik.


"Ya udah sekarang Biyah sama ummah masuk sekarang nanti Aunty Zani keburu datang" titah Azia lagi yang masih berbisik.


"Iya sayang, sekarang Biyah masuk deh" bales Daffin dan Akhirnya ia pun masuk ke lemari besar itu, sementara Meira nampak ragu untuk ikutan masuk ke lemari itu.


"Sekarang giliran ummah, cepatan dong Umma nanti keburu ketahuan Aunty.


"Tapi Ziah, masa Ummah ikutan sih?" kali ini Meira yang protes.


"Iiikh, ummah nggak seru akh, ya harus ikut dong Umma kita harus kompak" Ujar Azia dengan gaya melipat tangan ke dadanya.


"Iya iya Ummah masuk, " bales Meira pasrah dan akhirnya ia pun ikutan masuk kedalam lemari tersebut dan duduk tepat di samping Daffin.


"Iiikh, kok sempit sih,?" keluhnya, dengan gaya tangan bertolak pinggang, membuat Daffin dan Meira Tertawa geli, " Iiss kenapa Umma dan Biyah jadi ketawain Zia sih," ujarnya lagi sambil ia memanyunkan bibirnya, membuat pipi semakin nampak tembam, jadi terlihat sangat lucu.


"Hehehe habis kamu lucu sih nak, ya sudah sini Biyah pangku ya, " ujar Daffin sambil terkekeh karena melihat tingkah anaknya yang sangat lucu menurutnya.


"Nggak mau akh Zia berat Biyah"


"Tuh, makanya kalau minum susu jangan banyak-banyak, jadinya kamu gendutkan? " kata Meira, yang teringat kalau Azia memang sedari kecil kalau minum susu bisa berkali-kali, karena susu bagi Azia sudah seperti candunya, malahan ia tidak masalah tidak makan, yang penting susu harus no satu.


"Hm, ya udah deh besok Zia nggak mau minum susu lagi"


"Eh, tidak gitu juga nak, tetap minum susu tapi porsinya di kurangi ya"


"Oke deh Biyah"


"Ya sudah cepat masuk nanti keburu Aunty datang loh" kali ini Daffin yang mengingatkan Azia untuk masuk ke dalam lemari.


" Zia nggak muat di sini Biyah, ya sudah Zia ngumpet di sana saja, Biyah dan Ummah di sini aja ya" ujar Azia sembari ia menunjuk sebuah lemari juga di seberang lemari yang di tempati oleh Meira dan Daffin.


"Baiklah nak tapi..." ucapan Daffin terpotong karena Azia sudah keburu menutup pintu lemari tersebut, bahkan ia mengunci mereka dari luar.

__ADS_1


CKlek, CKlek..suara pintu lemari di kunci, membuat Daffin dan Meira terkejut.


"Eh, Zia kenapa harus di kunci nak?!" seru Daffin dari Dalam,


"Ssuuth, jangan Berisik Biyah entar di dengar Aunty'" ujar Azia dari luar, membuat Akhirnya Daffin pun terdiam.


Suasana menjadi canggung, bak anak ABG yang belum saling kenal Daffin dan Meira hanya diam saja, dan sesekali Daffin melirik Meira, namun tidak berani bertanya atau pun menyentuhnya karena ia takut, kalau-kalau trauma Meira kumat lagi.


Suasana semakin hening, membuat Meira memberanikan diri melirik Daffin, saat pandangan Daffin kearah pintu lemari, dan itu membuat jantungnya tiba-tiba bergemuruh.


"Astaghfirullah, Kenapa jadi terjebak dalam lemari sih?, dan ini kenapa jantung ana tiba-tiba berdetak kencang, saat melihat mas Daffin, ada apa ini"_ Batin Meira. dan ia pun mengalihkan pandangannya ke pintu lemari.


Kini giliran Daffin yang melirik Meira, ada perasaan takut di dirinya..


"Ya Allah, semoga dalam keadaan seperti ini, Meira tidak kumat lagi trauma, dan hamba berharap trauma itu hilang dari dirinya ya Rabb dan berganti dengan rasa cinta, terhadap hamba, agar ibadah ini menjadi lengkap" _Batin Daffin yang di iringinya dengan doa yang tulus untuk Meira.


Begitulah seterusnya mereka saling lirik secara bergantian, hingga pada akhirnya, mereka melirik secara bersamaan, membuat mereka sama-sama tersentak, Namun pandangan mereka tak langsung beralih, dan otomatis mereka menjadi saling bertatapan dan tenggelam dalam pemikiran mereka masing-masing.


"*Maa syaa Allah, ternyata istriku cantik sekali, apakah ini di dalam mimpi?, biasanya Meira akan ketakutan setiap melihatku?, apakah ini berarti ia telah mulai menerimaku?" _Batin Daffin, yang begitu banyak pertanyaan di dalam hatinya, dengan tatapan yang masih tertuju pada Meira.


"Maa syaa Allah, ternyata mas Daffin sangat tampan ya, eh, Astaghfirullah jantung ana kumat lagi" _Batin Meira yang langsung tersadar dan ia langsung mengalihkan pandangannya dari Daffin*.


Dan otomatis Daffin pun juga tersadar dari lamunannya, dan ia juga mengalihkan pandangannya juga.


"Eh, kenapa Azia lama sekali sih?" keluh Meira, karena ia merasa sudah cukup lama berada di dalam lemari itu.


"Sabar, mungkin Zani belum mendapatkannya Mei" Bales Daffin menenangkan Meira, dan akhirnya mereka kembali terdiam. suasana kembali hening, Daffin tidak berani melirik Meira lagi, hingga tiba-tiba kepala Meira tersender di bahunya, membuat ia sedikit tersentak, dan saat ia melihat Meira ternyata istrinya itu telah tertidur. dan ia pun membenarkan kepala Meira agar sedikit nyaman berada di bahunya, setelah itu ia pun memberikan kecupan lembut pada puncak kepala Meira. yaa hanya ketika Meira tertidurlah Daffin bisa menyentuh istri kecilnya itu.


"Selamat tidur sayang, Semoga kamu bermimpi indah" ucapnya dengan suara berbisik,


********


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys.


VOTE: Bonusin Author ya.


LIKE' END KOMENTAR


Selalu menjadi pemicu semangat Author.


so, jangan lupa oke πŸ™πŸ˜‰ SYUKRON πŸ™πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2