
◎❅❀❦💛 MUTIARA HIKMAH 💛❦❀❅◎
"Hapuslah rasa sedihmu,
kau tak perlu risau memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya, Karena Allah telah merencanakan takdir dengan sebaik baiknya takdir kepada hambaNya. Mungkin hari ini kau di uji, dan mungkin Tidak dengan di hari esok,
Mungkin saja bahagiamu datang di hari esok, tidak pada hari ini,
So intinya kita harus Bersabar selalu, dalam menjalankan hidup ini dan percayalah
Ada rencana takdir terbaik yang Allah mau berikan kepadamu,
___So Tetap Semangat 💪😉
ೋ๑୨୧๑ೋೋ๑୨୧๑ೋೋ๑୨୧๑ೋ
Mendengar suara keras yang di hasilkan oleh kursi yang terbanting, membuat ke tiga temannya Jarwo terkejut, mereka menyangka kalau bosnya itu sedang marah, dan itu membuat ketiganya spontan menjadi Diam.
" mengapa kalian jadi pada bengong begitu? Ya sudah ayo kita berangkat mengantar Ustadzah kecil itu pulang ke rumahnya" Ujar Jarwo membuat ketiganya malah terpelongo saat mendengar perkataannya.
Melihat ketiganya terpelongo Jarwo pun langsung memukul meja dengan keras, seraya berkata " Woy!!, kalian dengar gue nggak sih!" Bentaknya membuat ketiganya spontan berdiri.
"Kami dengar bos!" bales mereka secara serentak.
"Ya sudah Ayo kita berangkat sekarang!" Ajak Jarwo sembari ia melangkah menuju jalan keluar
*****
sementara di sisi lain yang masih berada di ayunan yang masih menangis hingga terisak-isak tiba-tiba ia dikejutkan oleh seseorang yang sedang berjongkok dengan satu lutut yang di tekuk kebawah hingga menyentuh tanah, dan yang satunya di tekuk setengah, sedangkan tangannya Ia rentangkan seakan ia ingin menyabut pelukan dari seseorang.
Azia yang melihat orang tersebut. seperti tidak percaya akan penglihatannya sehingga Ia mengucek-ngucek kedua bola matanya dengan kedua tangannya, meyakinkan bahwa penglihatannya tidak salah dan setelah ia melihat lagi ternyata orang tersebut masih berada di sana dan seketika Ia pun berdiri dan langsung berlari kearah orang tersebut, dan ia pun langsung memeluknya.
"Biyaah! hiks.heuhuhue.hiks..huhuhu hiks." tangis Azia pecah hingga ia tak bisa berkata-kata lagi, ia hanya menangis di dalam pelukan orang tersebut yang ternyata ia adalah Daffin.
Daffin menyambut pasukan Azia dengan penuh rasa sukacita ia langsung menciumi seluruh wajah anaknya yang selama ini ia rindukan.
__ADS_1
"Maafkan Biyah sayang, karena kelalaian Biyah kamu jadi menderita seperti ini maafkan Biyah ya sayang " Ujarnya yang tanpa terasa air matanya juga ikut mengalir begitu saja ke pipinya,
Azia yang sudah tidak mampu mengeluarkan kata-katanya Ya hanya menganggukkan kepalanya saja sembari Iya mempererat pelukannya dengan tangan kecilnya yang melingkar di leher Daffin.
Di saat bersamaan keempat preman yang tadi berada di dalam kini keempatnya sudah berada di luar dan mereka ikut menyaksikan pertemuan antara Daffin dan Azia, ternyata mereka juga ikut terharu menyaksikan Ustadzah kecil mereka sedang melepas rindu pada sang ayahnya.
"Maa syaa Allah, sungguh mengharukan hiks " kata Iwan yang tanpa sadar ia juga menitikkan air matanya.
"Hiks, bah! kenapa juga kau jadi ikutan menangis Wan?" tanya Gombloh, dengan logat orang Medannya, yang sebenarnya ia juga sedang menangis.
"Lah, lo sendiri Kenapa ikutan menangis? hiks" tanya Iwan Kembali.
"Ya itu karena aku terharu kalii lihat Ustadzah kecil kita nangis lek! hiks.." Kata Gombloh
"Ya sudah samalah gue terharu juga lihat Ustadzah kecil" Bales Iwan.
" Heey!, sudah sudah kalian bikin malu saja!, preman kok cengeng! hiks" Tegur Anton pada Iwan dan Gombloh, membuat keduanya langsung melihat ke Anton yang ternyata dia juga sudah meneteskan air matanya juga.
"Eh?, lah lo apa kabar? lo sendiri juga nangiskan?, Emang itu yang di pipi Lo itu apa bukan air mata ya?" celetuk Iwan dengan spontan.
"Sama aja dodol!, mau terharu mau menangis sama-sama ngeluarin air mata, yang artinya Lo juga termasuk preman cengeng sempruul !" Timpal Jarwo yang ternyata pipinya juga ikutan basah.
Anton, Gombloh juga Iwan langsung terpelongo melihat bos mereka yang ternyata ikut menangis "Haaaa? ternyata bus preman bisa menangis juga ya?" Ujar mereka secara bersamaan dengan pandangan mereka mengarah ke Jarwo semua.
"Kenapa kalian jadi pada ngeliatin gue?" tanya Jarwo dengan dahi yang mengernyit.
"Nggak nyangka aja ternyata hati bos Milo coklat juga ya,?, Maniiis" Ujar Gombloh dengan kedua tangannya yang ia letakkan di dagunya seperti group Cherrybelle.
"Itu artinya kalian sudah tidak pantas di panggil preman lagi " Ujar seorang pria tua yang tiba-tiba muncul dan langsung mendekati mereka.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" lanjut pria tua itu yang langsung memberikan salam kepada mereka.
Keempat preman itu sedikit kaget saat melihat pria tua tersebut, namun saat melihat senyumannya begitu teduh, membuat mereka langsung " Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh" Jawab mereka serentak.
"Alhamdulillah, Apakah sekarang kami sudah boleh membawa Ustadzah kecilnya?" tanya pria tua itu dengan lembut.
__ADS_1
"Ho'oh, sudah boleh hiks, tapi anda siapanya Ustadzah kecil?" tanya Gombloh yang nampak ia semakin sedih karena perkataan pria tua itu yang mengatakan "sudah boleh membawa Ustadzah kecil", antara rela dan tidak rela saat ini perasaan Gombloh.
pria tua itu tersenyum melihat Gombloh kelihatannya ia paham akan perasaan keempat preman itu " Saya aki Uyutnya, Ustadzah kecil, Kyai Abdur Rahman" ujar pria tua itu yang ternyata Adalah kyiai Abdur Rahman.
Mendengar sang Aki menyebut namanya spontan ke empatnya tersentak kaget.
"A.apakah, A-anda k-kyai Ab-Abdur Rahman Pemilik ka-kampung santri?" tanya Jarwo yang tiba-tiba suaranya terbata-bata.
Sang aki tersenyum kembali " Iya benar sekali saya Kyai Abdur Rahman, Pemilik kampung santri" ujarnya dengan tenang,
Spontan mereka bersimpuh dan bersujud, di hadapan kyai Abdur Rahman " M-Maaf Kyai, kami tidak tahu kalau Ustadzah kecil adalah cucu Kyai" Ujar Jarwo ada perasaan takut pada Kyai Abdur Rahman.
"Astaghfirullah Bangunlah kalian, saya bukan tuhan kamu, jadi jangan bersujud di hadapan saya" Ujar sang Kyai, mendengar ucapan sang Kyai mereka pun bangun kembali.
"Apakah pak kyai sudah memaafkan kami?" tanya Anton dan terlihat jelas kalau tubuhnya saat ini sedang bergetar karena ada rasa takut.
"Tentu saja nak, Allah saja Maha pemaaf, lalu siapa saya hingga tak mau memaafkan kalian " Ujar sang kyai lembut, dan tetap senyuman yang membikin hati teduh itu tak pernah lekang dari wajah tuanya.
"Alhamdulillah" spontan keempatnya mengucapkan rasa syukur dan itu membuat Kyai Abdur Rahman tersenyum mendengarnya.
"Tapi apakah setelah ini kami akan di penjara pak kyai?" tanya Gombloh dengan wajah polosnya.
"Apakah itu ke inginan kalian?" tanya Kyai Abdur Rahman kembali, mereka berempat spontan menggelengkan kepalanya.
"Sebenarnya kami tidak ingin kyai, tapi apabila keluarga Ustadzah kecil menginginkan kami di penjara kami akan terima dengan ikhlas" Ujar Jarwo dengan pasrah.
"Bagus kalau kalian menerimanya, karena aku memang ingin kalian di hukum!" mendengar suara Bass seorang Pria, membuat keempat preman itu menoleh ke sumber suara,
Bersambung dulu yaa😉
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 🙏😉
tetap Berikan dukungannya ya dengan cara memberikan
*VOTE LIKE SERTA KOMENTAR.
__ADS_1
JADI JANGAN LUPA OKE 😉**