
༺*༻༺🌸 Mutiara Hikmah 🌸༻༺*༻
"Ketika Allah memberi sesuatu bukan karena keinginan kita. Tetapi dikarenakan ketentuan-Nya saat itu adalah pilihan yang terbaik buat kita
Maka kita harus Ridho dengan segala ketentuan Allah, Ikhlaskan hati. Berhenti Mengeluh, Cemas dan Bersedih
Nikmati hidup dengan Usaha, Do'a dan rasa Syukur. In syaa Allah akan indah pada waktunya Nanti 😉.
_sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ_
*༻༺*༻༺*༻༺🌸༻༺*༻༺*༻༺*
Keesokan harinya.
Setelah melaksanakan kewajibannya. Nampak Cindy kembali merungkel di ranjang mereka, membuat Rio heran. Karena biasanya setelah sholat Cindy akan bersiap-siap karena akan berangkat kerja. Namun kali ini ia malah menarik selimutnya lagi, membuat Rio berprasangka Cindy sedang sakit.
"Sayang kamu kenapa? apa kamu sedang sakit Cha?" tanya Rio yang kini sudah duduk di samping ranjang mereka, bertepatan di sisi Cindy. Dan Rio juga langsung memegang dahi Cindy.
"Acha nggak papa kok kak, Acha cuma ingin tidur lagi" balas Cindy sembari menghalau tangan Rio yang berada di dahinya.
"Iya iya, suhu kamu normal kok, tapi kenapa kamu tidak bersiap-siap Cha? Nanti kamu terlambat loh kalau kamu tidur lagi," tanya Rio sedikit heran.
"Kak Bian gimana sih plin-plan banget! Katanya kemarin Acha di suruh berhenti kerja, kenapa sekarang Acha disuruh bersiap-siap untuk bekerja sih?" proses Cindy dengan memasang wajah datarnya.
Mendengar perkataan Cindy, Rio kaget, "Eh, benaran kamu ingin menuruti keinginan kak Bian Cha?" tanya Rio masih belum percaya
__ADS_1
"Udah deh kak, jangan bikin hati Acha meragu deh," balas Cindy sambil memiringkan tubuhnya membelakangi Rio.
"Hum, sayang Kak Bian makin cinta dah nih, karena bocah kecilku ini berubah jadi penurut" kata Rio sambil mengecup bagian tengkuk Cindy membuat tubuh Cindy seketika bergeliat.
"Ukh.. kak Bian, jangan mencium di situ!" protes Cindy tanpa sadar suara lenguhannya terlepas, membuat Rio semakin ingin menggodanya.
"Emang kenapa Sayang? kalau kak Bian cium di sini hm?" tanya Rio yang kini ia sudah membaringkan tubuhnya mensejajarkan Cindy agar ia lebih leluasa menciumi tengkuk Cindy bahkan menjalar ke leher mulunya membuat Cindy semakin seperti di sengat listrik.
"Aah..Kak Bian..ugh..kamukan hum..mau kerja! ough"
"Kerja bisa di tunda Sayang, humm..tapi urusan ini, kak Bian tidak bisa menahannya, siapa suruh kamu mengeluarkan suara menggoda itu humm?" kata Rio, dengan suara yang terdengar berat, karena sudah dikuasai oleh hasratnya.
"Aah kak Biaa..uhmm" Cindy kembali ingin protes, namun Bibir Rio sudah menguasai bibirnya.
Sehingga pertempuran bercinta nan panas di pagi itu pun tak dapat di hindari lagi. Hingga keduanya sama-sama menggapai puncak kenikmatan yang membuat keduanya terkulai lemas namun ada kebahagiaan tersendiri bagi keduanya.
"Terima kasih Sayang, kamu selalu bisa membuat aku terpuaskan" ucap Rio sembari mengecup lembut dahi Cindy, dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
"Hu'um, Sekarang sebaiknya Kak Bian lihat jam deh," balas Cindy lirih Karna ia juga masih mengatur nafasnya yang tadi sempat memburu juga.
Mendengar perkataan Cindy, seketika Rio melirik kearah jam yang ada di kamar mereka, "Hah! gawat Daffin bisa mengamuk ini, kata Rio yang langsung turun dari ranjang mereka, yang tanpa sadar ia tak memakai sehelai benang pun di tubuhnya.
"Hah! Kak Bian bukannya pakai baju dulu sih!" protes Cindy sembari ia menutup wajahnya dengan selimutnya.
"Ah sayang kenapa baru protes sekarang sih, padahal kamu juga sudah melihatnya berkali-kali juga"
__ADS_1
"Apaan sih kak, udah sana mandi, nanti bang Daffin keburu telpon lagi"
"Iya iya sayang ini juga mau mandi" kata Rio yang kemudian ia berjalan menuju kamar mandi dengan tubuh masih polos, membuat Cindy tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya, saat ia mengintip dari selimutnya.
"Huh! umur sudah tua tapi tingkah kaya Azmy" gumamnya setelah Rio tak terlihat lagi. Lalu ia kembali memejamkan matanya karena tubuhnya memang terasa lelah tak membutuhkan waktu lama ia pun langsung hanyut kedalam mimpinya.
Sementara Rio yang telah selesai mandi langsung bersiap-siap dengan memakai setelan kerjanya. Sambil ia melirik ke ranjang mereka, dan ia pun tersenyum puas saat melihat istri kecilnya yang sudah terlelap. Setelah selesai memakai dasi ia pun langsung menghampiri Cindy yang masih tertidur.
Rio tersenyum nakal saat melihat keringat yang masih tersisa di dahinya Cindy, dan kemudian ia mengelapnya seraya berkata, "Tidurlah sayang, istirahatlah yang cukup, karena nanti malam pertempuran yang lebih dahsyat akan menantimu" bisiknya sembari ia memberikan kecupan lembut pada dahi istri kecilnya itu.
Setelah puas memandangi wajah Cindy, Rio pun langsung beranjak meninggalkan kamar mereka, dan langsung mengarah ke mobilnya, karena sudah pasti ia akan mendapatkan teguran dari Daffin. Dan benar saja saat mobilnya memasuki gerbang Mansion milik Daffin, Rio langsung mendapatkan tatapan dingin dari bosnya itu.
"Dari mana Lo jam segini baru nongol hah?!" seru Daffin dengan tatapan yang mematikan membuat Rio bergidik melihatnya.
"Eh Bos, anu habis dari bertempur Bos!" jawab Rio asal.
"Apa! Dasar maniak pertempuran! jadi gue jadi kambing congek disini cuma nunggu Lo lagi bertempur hah!" Daffin terlihat kesal, hingga ia melempar Rio dengan tas yang ia pegang sejak tadi.
"Aduh!" pekik Rio karena tas Daffin mengenai wajahnya, "Tega banget sih bos, sakit tau" keluhnya sambil mengusap hidungnya yang paling terasa sakit.
"Mampoos Lo! siapa suruh bikin gue kesal!" kata Daffin sambil ia memasuki mobilnya, dengan wajah masih belum bersahabat.
"Haiiis, Nasib menjadi bawahan ya begini ini!" keluh Rio yang akhirnya ia menyusul Daffin dan duduk di belakang kemudinya, tanpa ingin berkata-kata lagi ia pun langsung melajukan mobilnya, menuju ke kantor mereka.
_________
__ADS_1