
*βββ’β₯π Mutiara Hikmah.πβ₯β’ββ*
"Penilaian manusia tentangmu sama sekali tak akan memengaruhi penilaian Allah tentangmu. Teruslah mencoba menjadi baik, walau mereka merendahkanmu.''
__π₯° So keep Semangatπ₯°___
*βββββββββ’β₯πβ₯β’ββββββββ*
Setelah mendengar pencerahan dari twins, Rio langsung merubah mimik wajahnya, dengan memasang wajah senyum namun senyuman yang terlihat di paksakan.
"Udah nih, Uncle sudah senyum..ehehe.." ucapnya sambil menyengir.
"Huh! Senyum apa itu Uncle? Uncle mah senyumnya tidak ikhlas!" tegur Azmy, sambil mengerutkan keningnya.
"Ho'oh.. kelihatan mah, kalau uncle tersenyum sangat terpaksa. Senyum ikhlas itu seperti ini Uncle, hmm.." sambung Azia sambil tersenyum ikhlas, memberi contoh pada Rio.
"Nah itu baru benar Uncle, tidak seperti uncle yang tersenyum kayak dedek Azam lagi pup sih hihihi" ledek Azmy sambil terkikik di ikuti juga oleh Daffin dan Aziah yang ikut tertawa mendengar perkataan Azmy.
Rio mendengus kesal, mendengar perkataan kedua bocah tersebut. "Haiiis... hihihi..gue salah Mulu ya bro, di depan anak-anak lo!" bisik Rio pada Daffin, dengan gigi rapat, tapi masih menunjukkan senyum paksa di depan twist.
"Kan emang Lo salah.. makanya kalau nggak mau di protes ma anak-anak gue. Lo jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh deh." tegur Daffin mengingatkan sahabatnya.
"Ya sebenernya gue...." ucap Rio namun perkataannya terhenti karena mendengar teguran dari seorang wanita.
"Kalian sedang apa sih di luar? Bukannya masuk dulu gitu! Kalau mau ngobrol jugakan nyamanya di dalam" tegur wanita tersebut.
''Ini loh Aunty Cindy, kata Biyah Uncle Rio tidak bisa tersenyum. Jadi kami mengajarkan Uncle Rio biar bisa tersenyum Aunty" sahut Azia dengan wajah polosnya. Wanita itu yang ternyata Cindy kaget mendengar perkataan Azia.
"Eh! Sejak kapan Uncle Rio nggak bisa tersenyum?" tanya Cindy dengan menatap wajah Rio dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, membuat Rio malah bergidik mendapatkan tatapan dari istri kecilnya itu.
"Nggak tahu Aunty, mungkin sejak lama kali. Tapi apakah Aunty akan membantu Uncle Rio biar bisa tersenyum lagi?" tanya si kecil begitu polos, membuat Cindy menjadi geram melihat Rio.
"Tentu sayang, aunty akan mengajarkan Uncle agar tetap tersenyum. Bahkan nanti aunty akan buat Uncle tersenyum 24 jam!" kata Cindy dengan tatapan yang masih sama. Lagi-lagi Rio bergidik mendengar kata 24 jam.
"Eh, kok gitu sih sayang?" protes Rio, Namun tak di hiraukan oleh Cindy, ia malah langsung menggandeng tangan Azmy dan Azia.
"Ayo twins sayang, kita masuk." ajak Cindy, yang kemudian ia pun berjalan sambil menggandeng tangan twins memasuki rumahnya.
__ADS_1
"Mampoos Lo! Hahaha.. siap-siap aja dah di buat nyengir sama bini Lo!" ledek Daffin sembari ia berjalan ikut memasuki rumah Rio dan Cindy.
Rio menepuk dahinya sendiri, "Haiiis..apa itu artinya gue nggak bisa main mantap-mantap nanti malam? Tapi besok gue mau keluar kota." gumam Rio setelah Daffin menjauh.
"Ah sudahlah itu pikirkan nanti! Semoga saja nanti Acha tidak ingat soal ini" gumam Rio lagi yang kemudian ia pun ikut memasuki rumahnya.
Sesampainya di dalam rupanya Cindy sudah menyiapkan makanan untuk mereka. Padahal maksudnya Meira mereka mau langsung pulang setelah Daffin menjemput mereka. Tapi Cindy tak mengizinkan pulang kalau mereka tidak makan.
Akhirnya mereka pun makan bersama. Setelah mereka menyelesaikan makanannya Daffin langsung buka suara.
"Mei, Cindy, besok kami akan keluar kota, selama satu Minggu. Jadi selama itu sebaiknya Cindy tinggallah di rumah, biar kamu tidak kesepian." ujar Daffin, belum sempat Cindy membalasnya Twins sudah bersorak kegirangan mendengar perkataan sang ayahnya.
"Horree.. horree.. Aunty Cindy mau tinggal di rumah kita" sorak keduanya kesenangan. Membuat Cindy, Meira, dan Daffin tersenyum melihat tingkah keduanya. Tidak dengan Rio, ia seperti tidak menyukai perkataan Daffin.
"Kenapa? Lo nggak suka kalau bini Lo tinggal di rumah gue, saat kita pergi hah?" tanya Daffin yang ternyata memperhatikan ketidak sukaan wajah Rio.
"Eh, kata siapa gue nggak suka?" sangkal Rio.
"Ya Kata gue! Habis wajah lo kayak nggak senang gitu gue lihat!" balas Daffin apa adanya.
Daffin mendesis kesal, mendapatkan sindiran dari Rio, "Iss.. banyak omong Lo! Sekarang Lo setuju nggak bini Lo tinggal di rumah gue, selama kita pergi?" tanyanya dengan nada ketus.
"Ya setuju bangetlah! Kan biar Cindy juga nggak kesepian" jawab Rio, dan spotan mereka yang mendengarnya langsung mengucapkan..
"Alhamdulillah.." ucap mereka secara bersamaan.
"Ya sudah kalau begitu, kami langsung pulang saja ya? Jangan lupa besok kita berangkat pagi sekali. Jadi awas aja Lo terlambat, gue langsung kirim Lo ke kutub Utara. Paham Lo!" ancam Daffin sembari ia beranjak dari duduknya.
"Haiiis.. tahunya cuma ngancam aja sih Lo!" protes Rio kesal.
"Bodo amat emang gue pikirin!" balas Daffin "Ayo sayang kita pulang" ajak Daffin pada keluarga. Sambil ia mendorong kereta bayinya.
"Oke Biyah" balas Twins, sambil menggandeng tangan Meira.
"Kami pulang ya Cin, terimakasih atas jamuannya" ucap Meira sembari ia memeluk sahabatnya dan di sertakan dengan cipika-cipiki.
"Iya Mei sama-sama, dan hati-hati ya di jalan" balas Cindy
__ADS_1
"In syaa Allah, ya sudah kami pamit Assalamu'alaikum" pamit Meira lagi, karena Daffin sudah membawa Anak-anaknya kedalam mobilnya.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu." Setelah mendapatkan jawaban Meira pun menyusul keluarganya yang sudah berada di dalam mobil. Sedangkan Cindy hanya memperhatikan kepergian mereka sambil melambaikan tangannya.
"Ayo sayang kita masuk, merekakan sudah pergi." ajak Rio, sambil merangkul pundak istrinya, setelah mobil Daffin keluar dari gerbang rumahnya.
"Hu'um.. Oh iya kenapa kak Bian nggak ngomong dari kemarin mau keluar kota? Apakah bang Daffin ngajak secara mendadak?" tanya Cindy ketika mereka memasuki rumah mereka, dan kini menuju ke kamarnya.
"Udah dari kemarin-kemarin sih sayang. Cuma kak Bian mau mengatakannya waktu itu kamu sedang merajukkan? Di tambah kak Bian lihat akhir-akhir ini moodnya kamu lagi nggak baik. Jadi kak Bian takut menambah pikiran buat kamu sayang" jelas Rio lembut. Cindy yang mendengarnya jadi merasa tidak enak hati pada Rio. Karena ternyata ia kurang peduli dengan suami itu.
"Maafin Acha ya kak, karena Acha sering mengabaikan kak Bian" ucap Cindy merasa bersalah.
"Nggak apa-apa sayang, kak Bian ngerti kok, lagian kamu seperti itu juga karena kamu sedang hamilkan" balas Rio sambil memeluk istrinya
"Makasih ya kak,"
"Sama-sama sayang" balas Rio sembari mengecup lembut pada puncak kepala Cindy dengan penuh kasih sayang.
"Ya sudah Acha siapkan baju-baju yang mau di bawa kak Bian ya?"
"Itu nanti saja sayang, bagaimana kalau sekarang kita melanjutkan pertempuran kita yang tadi pagi hm?" goda Rio sembari mengedipkan sebelah matanya. Membuat mata Cindy membulat.
"Hah?! Lagi? Iiss..dasar si rakus bercinta!"
Bersambung lagi ya..
_________________
Jangan lupa dukung author terus ya, kasih Like, Vote dan Hadiahnya Ok π π₯°
Oh iya Sambil menunggu Author update, yuk kepoin novel teman Author, Phopo Nira. Pasti kalian kenal dong π Nah Sekarang Author Phopo Nira punya novel baru.ππ
Cus akh kepoin, di jamin keren deh ceritanya.π
So jangan lupa kepoin ya guys ππ
__ADS_1