
❇❇🌿🌹 MUTIARA HIKMAH 🌹🌿❇❇
"Jika hatimu ingin selalu bahagia, janganlah bergantung pada siapapun, selain pada Allah. Karena siapapun yang sepenuhnya bergantung kepada Allah, maka tentu Allah akan selalu menjamin bahagia untuknya.
Allah akan selalu menyandingkannya dengan kebaikan. Sebab, Allah takkan pernah mengecewakan hamba-hambanya yang selalu menaruh pengharapan pada-Nya.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
ೋ๑୨୧๑ೋೋ๑୨୧๑ೋೋ๑୨୧๑ೋ
Daffin yang melihat Meira menggigit-gigit bibir Ranum bawahnya membuat ia tak tahan ingin menggapainya, dan tanpa basa-basi lagi ia pun langsung meraih bibir merah merona milik istrinya itu,
Meira yang mendapatkan serangan secara mendadak membuat matanya membulat kaget "emmh?" lenguhan kekagetannya namun itu hanya sesaat, karena pada akhirnya ia pun ikut menikmati permainan Daffin yang begitu lembut, hingga saat Daffin melepaskan tautannya..
"Aakh?!" terlihat jelas sekali kalau ia seperti tidak rela Daffin melepaskan tautan itu, Daffin merasa senang melihat raut wajah Meira, saat terlihat ketidak relaannya, karena akan mudah baginya untuk meraihnya Kembali.
Daffin melingkari tangannya ke pinggang Meira kemudian ia menyatukan dahinya ke dahi Meira, tampak mata Meira masih tertuju pada bibir merah suaminya dengan tatapan yang berhasrat ingin meraihnya, dan itu terlihat oleh Daffin, membuat ia jadi ingin melakukan yang lebih pada istrinya.
"Sayang?" panggil Daffin lembut..
"Hmm?"
"Emas menginginkannya " kata Daffin dengan suara lirihnya namun masih terdengar jelas oleh Meira, dan belum sempat lagi Meira membalasnya, Daffin sudah kembali meraih lembut bibir ranumnya, sembari ia mendorong tubuh Meira ke sofa yang ada di ruangannya, Meira yang di perlakukan itu hanya pasrah dan ia tak mampu menolaknya lagi karena memang sejak tadi ia juga sudah berhasrat pada bibir Daffin.
Dan ketika tautan itu mulai memanas tiba-tiba pintu ruangan Meira terbuka, nampak seorang wanita hendak masuk sembari berkata
"Mei, aku...eh astaghfirullah maaf.." kaget wanita itu dan karena terkejut ia langsung berbalik keluar..
Sementara itu Daffin dan Meira juga sama-sama kaget membuat Meira langsung melepaskan tautannya, dan mendorong dada Suaminya itu."Mas ada Cindy!" katanya dengan wajah memerahnya antara kaget dan malu.
"CK, ganggu saja!" gerutu Daffin terlihat kesal.
"Iss mas!, kan kamu yang salah inikan masih di sekolah, mas." kata Meira sembari ia membenarkan hijabnya yang tadi agak berantakan akibat tangan Daffin yang sempat nakal karena tangan itu sempet bertualang ke perbukitan milik Meira.
"Tapi itukan bukan salah mas sayang, itukan salah istri kecilku ini yang selalu mengusik pikiran mas, hingga membuat mas jadi tidak bisa konsentrasi untuk bekerja, jadi karna itu mas mau minta pertanggung jawaban dari kamu sayang" ujar Daffin dengan suara yang sudah berhasrat, dan bahkan ia sampai ingin meraih kembali bibir Meira,
Meira yang melihat suaminya sudah berhasrat, sebenarnya tak sampai hati untuk menolaknya tapi karena posisi mereka bukan pada tempatnya ia pun langsung mendorong dada Suaminya dengan pelan.
"Iis , mas!, jangan di sini malu mas, tadi saja Cindy sudah melihat kita" tolak Meira lembut,
"Tapi sayang, mas sudah sangat menginginkannya" kata Daffin yang nampak tak putus asa Meminta haknya pada Meira.
__ADS_1
"Nanti saja ya mas, kalau kita sudah di rumah Ok" kata Meira lembut.
"Hum, baiklah sayang, kalau begitu mas akan sabar menantinya," kata Daffin yang akhirnya menyerah juga.
"Alhamdulillah, kalau gitu Ira susul Cindy dulu ya mas, "kata Meira dan ia bermaksud melangkah namun di cegah oleh Daffin.
"Kamu di sini saja Mei, hubungi saja dia, karena mas juga mau kembali ke kantor" kata Daffin yang kemudian ia bangkit dari sofa.
"Oh, ya sudah kalau gitu, mas hati-hati di jalan ya" kata Meira yang ikut bangkit juga dari sofa bermaksud ingin mengantar sang suami
"Iya sayang, kamu juga ya, jaga Anak-anak, nanti Rio yang akan jemput kalian ya, " kata Daffin Sambil ia memberikan kecupan lembut pada dahi Meira.
"Ya sudah mas berangkat ya Sampai jumpa di rumah sayang " katanya lagi sembari mengedipkan matanya..
Mata Meira membulat " Iiss mas!, genit banget sih matanya!" protes Meira dengan bibir cemberutnya, membuat Daffin Tertawa karena merasa lucu.
"Hahahaha, kamu lucu sekali sih sayang, tapi kamu jangan khawatir mas, genit hanya sama kamu saja kok sayang" kata Daffin sambil terkekeh.
"Hu'um, iya iya Ira percaya, ya sudah mas pergi sana"
"Loh kamu ngusir mas nih?"
"Oh iya ya.., ya sudah kalau gitu mas Pergi ya, Assalamu'alaikum istri kecilku" pamiit Daffin sembari ia mengecup kembali Dahi Meira.
"Wa'alaikumus salam mas"
setelah mendapatkan balesan dari istri kecilnya Daffin pun langsung melangkah keluar dari ruangan Meira dan langsung menuju tempat mobilnya terparkir,
Sementara Meira, yang masih melihat Kepergian suaminya dari lantai dua, tiba-tiba dia di kejutkan dengan suara seseorang.
"Uluh, uluh uluh, segitu amat sih neng lihatnya, padahal baru juga di ehem ehem" goda seorang wanita yang muncul dari belakang Meira.
"Eh, apaan sih kamu cin?!" sentak Meira kaget juga sedikit malu, dan ia pun langsung berjalan menuju keruangan.
"Uluh, uluh, uluh, ada yang lagi merona malu nih Yee?" goda Wanita itu lagi yang ternyata adalah teman Meira si Cindy.
"Diam kamu cin!," bentak Meira sedikit kesal karena di goda terus oleh Cindy." Oh iya ada apa kamu mencari ku tadi?" tanyanya lagi mengalihkan pembicaraan agar Cindy tidak Menggodanya lagi.
"Hmm, apa ya aku juga lupa nih, mungkin karena mataku telah ternoda tadi, jadi aku lupa deh" ujar Cindy asal, membuat Meira tidak paham akan perkataannya.
"Matamu ternoda?, maksudnya apa sih?" tanya Meira tidak mengerti.
__ADS_1
"Hehehe, masa kamu nggak paham sih Mei, yang itu tuh yang tadi loh, kamu sama pak Daffin.." kata Cindy sambil cengengesan.
"Eh, Iis apa sih kamu!" bentak Meira menutupi rasa malunya.
"Tapi nggak nyangka loh, pak Daffin itukan terkenal dinginnya Mei, tapi ternyata sama kamu dia pria yang romantis juga ya, kamu beruntung banget ya mei, kami nggak nyangka banget loh, ternyata istri misterius CEO dingin itu ternya kamu ya, luar biasa kamu hebat Mei.. memang benar ya ternyata jodoh itu penuh misteri, tidak ada yang bisa menebak kita bakalan berjodoh dengan siapa, apalagi aku gambarannya aja belum kelihatan" Ujar Cindy panjang lebar.
"Hmm, kayaknya ada yang curhat nih, ingin cepat dapat jodoh" goda Meira yang hanya menanggapi perkataan Cindy di bagian Akhirnya aja.
"Cindyah, bukan curhat bu, tapi emang dah kepingin kawin dia mah," kata seorang wanita yang tiba-tiba masuk juga ke ruangan Meira.
"Elsa?, ah nguping aja sih Lo!," protes Cindy saat melihat siapa yang datang.
" Nggak nguping, cuma kebetulan aja tadi mau masuk ke dengar Bu" dalih Elsa.
"Hmm, sama aja itu mah!" kata Cindy dengan memutarkan bola mata malasnya.
"Sudah sudah sudah, kok jadi pada ribut sih?" tegur Meira meleraikan perdebatan sahabatnya itu. "Ngomong-ngomong ada apa kamu kesini El?" tanya Meira lagi pada Elsa.
"ini Mei, aku mau menyampaikan sama kamu, kalau teman-teman kita dari sekolah xx, mau ngadain reunian, dan mereka meminta kamu untuk dayang Mei" Ujar Elsa Sembari menyerahkan sebuah undangan pada Meira.
"Eh, akukan nggak sampai tamat di sana El" bales Meira sedikit heran.
"Ya mana aku tahu, pokoknya aku hanya di suruh sampaikan doang, oh iya kamu ingat Abhizar nggak?" kata Elsa lagi.
Meira mengerutkan dahinya, "Abhizar yang mana?, aku nggak ingat El?" balesnya.
"Itu loh, yang dulu kita selalu memanggilnya Ustadz, Mei " sambung Cindy mengingatkan.
"Oh, iya iya aku ingat, emang ada apa sama dia?" tanya Meira penasaran.
"Ternyata dia suka loh sama kamu Mei, dia sempat loh tanya-tanya tentang kamu dan Asal Kamu tahu ini yang ngundang kamu dia loh Mei" kata Elsa membuat Meira kaget.
"Oh iya bukankah saat itu kamu juga sukakan Mei, dengan dia kamu sering loh kami pergoki suka curi pandang sama dia" Sambung Cindy tanpa basa-basi.
"Eh?"
********
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 😉🙏
Biar Author Semangat untuk update kembali.
__ADS_1