
βββπ» MUTIARA ALFAQIROH π»βββ
"Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan."
-----βAli bin Abi Thalibβ-----
VVVVVVVVVVVVVVVVVVVVVVVVVVVVV
Di ruang keluarga,
Anzani yang telah di kerjain oleh Twins, akhirnya ia menemukan keduanya dan ia juga nampak gemes pada keduanya hingga akhirnya ia pun memberi hukuman kepada Twins dengan cara mengelitik mereka.
"Berani ya ngerjain Aunty sekarang Terimalah balesan dari Aunty nih rasakan sekarang" kata Anzani sembari Ia menggelitiki kedua keponakannya itu dengan gemas, hingga tawa twins pun pecah.
"Hahahaha," Tawa Azmy
"Hahahaha" Tawa Azia..
"Hahahaha, ampun Aunty Hahahaha" seru Azmy, dibarengi dengan tawanya
"Hahahaha, Ampun hahaha, Zia janji hahaha Nggak ngulangi hahahaha lagi Aunty" Sambung Azia yang juga masih tertawa geli, dengan tubuh yang bergeliatan karena ke gelian,
"Rasakan itu, Siapa suruh menjahili Aunty sekarang Terima akibatnya " bales aja nih yang masih memiliki kedua keponakannya
"I am sorry Aunty, hahahaha Amy, janji tidak mengulanginya hahaha lagi" kata Azmy lagi yang masih Tertawa kegelian.
"Sudah, sudah nak, kasihan mereka" tegur Adi Nugraha pada Anzani. hingga Anjani pun menghentikan kelitikannya kepada Twins
"Baiklah hari ini, hukuman telah selesai dan ingat kalau kalian mengulangi lagi maka Aunty akan memberi hukuman yang lebih dari ini " ujar Anjani sedikit mengancam.
"Iya kami tidak akan mengulangi lagi Aunty" bales Twins secara bersamaan.
"bagus! itu baru anak pintar" kata Anzani
"Kamikan memang pintar nanti baru tahu ya? wajar si gembul Azia.
"Ya ya ya, kalian berdua memang pintar bahkan sangat cerdas, Aunty mengakui itu" ujar Anzani berkata jujur.
"Sudahlah Zani, sebaiknya kamu ganti pakaian dulu, lihat itu baju seragam kamu sudah kotor" kata Nuraini yang akhirnya buka suara juga.
__ADS_1
"Baiklah mah, Ya sudah Zani ke kamar dulu ya mah, pah, bye Twins, Assalamu'alaikum " pamit Anzani.
"Wa'alaikumus salam" jawab mereka secara persamaan, dan setelah mendapat jawaban Anjani pun melangkah pergi menuju kamarnya.
setelah ia tak terlihat lagi, Nur Aini pun teringat pada Daffin dan Meira.
"Eh, ngomong-ngomong Umah dan biyah kalian ke mana Kok tidak terlihat?" tanya Nuraini kepada kedua cucunya
"Astaghfirullah!" seru Azia sembari Ia menepuk jidatnya,
"Ada apa nak?!" tanya Nuraini penasaran.
" Zia lupa Eyang, tadi Zia sudah mengunci lemari tempat umah dan Biyah bersembunyi Eyang " jawab Azia menjelaskan pada eyangnya membuat sang Eyang kaget mendengarnya.
"Astaghfirullah, Zia, kenapa nggak bilang dari tadi nak?" tanya Nuraini yang nampak panik,
"Maaf Eyang Zia lupa" kata Azia dengan kedua tangannya memegang kedua kupingnya.
"Sudah sudah sudah mah, sebaiknya Ayo kita lihat mereka sekarang" Ajak Adi Nugraha yang langsung berjalan duluan menuju kamarnya Daffin, dan di ikuti oleh Nuraini berserta kedua cucunya.
sesampainya mereka di kamar Davin dengan cepat Adi Nugraha menuju keruangan ganti dan langsung ke lemari pakaian tempat Daffin dan Meira terjebak' di dalamnya, Adi Nugraha pun langsung membuka kunci dan langsung membuka pintu lemarinya dan terlihatlah ternyata Daffin dan Meira sedang tertidur dengan kepala saling menyenderkan, kepala Meira bersender di bahu Daffin sedangkan kepala Daffin bersenderkan di kepala Meira.
"Subhanallah, mereka sampai tertidur Seperti ini " ujar Adi Nugraha sedikit terkejut.
"Baiklah mah" Adi Nugraha pun langsung menepuk-nepuk pipi Daffin agar ia terbangun dari tidurnya." Daffin, bangun nak?," panggil Adi Nugraha yang berusaha membangunkan Daffin namun tak direspon oleh Davin membuat Adi Nugraha semakin cemas.
" Daffin kamu sedang tertidur atau pingsan sih, bangun nak, Jangan bikin Mama takut nak" kata Nuraini yang ikut membangunkan Daffin, dan tak lama Daffin pun membuka matanya.
"Eh, Mah, pah?" nampak Daffin tersentak kaget karena mama dan papanya sudah berada di hadapannya.
"Alhamdulillah, ternyata kamu hanya tertidur ya nak, mama pikir kamu pingsan karena kehabisan udara nak" ujar Nuraini yang nampak bersyukur.
" Maaf mah, tadi karena bingung mau ngapain akhirnya Afin tertidur deh" jelas Daffin apa adanya.
"Ya sudah angkat Meira ke tempat tidurnya sana, kasihan dia sampai tertidur Seperti itu" titah Adi Nugraha pada Daffin.
"Baik pah,"
"Ya sudah ayo mah kita keluar, Bawak cucu-cucu kita juga" Ajak Adi Nugraha pada istrinya.
__ADS_1
"Iya pah, Ayo Twins kita keluar " Ajak Nuraini pada Twins Sambil menggandeng tangan keduanya.
"Sebentar eyang Zia mau minta maaf sama Biyah dulu" kata Azia yang melepaskan gandengan sang Eyang.
"Ya sudah minta maaflah sama Biyah kamu" titah Sang Eyang dan di Anggukkan oleh Azia.
"Biyah, Ziah minta maaf ya, karena Zia sudah mengunci Biyah dan Ummah, bahkan Zia sampai lupa " kata Azia dengan mata yang sudah berkaca-kaca, karena merasa bersalah.
"Iya nak, Biyah sudah memaafkan kamu kok, sekarang pergilah istirahat sama eyang ya" bales Daffin dengan lembut sembari ia mengelus kepala Azia.
"Baiklah Biyah" setelah ayahnya sudah memberikan maaf, Azia Kembali memegang tangan sang Eyang.
"Ya sudah, mama Bawak mereka istirahat ya nak, kamu juga tuh, angkat istri kamu, kasihan dia badannya tertekuk gitu" ujar Sang mama.
"Iya mah, ini Affin juga mau mengangkat Meira kok mah"
"Ya sudah kalau begitu mama keluar ya Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumus salam mah" setelah mendapatkan jawaban dari Daffin, Nuraini pun melangkah keluar sambil membawa kedua cucunya
Sedangkan Daffin langsung menggendong Meira dan hendak membawanya ke tempat tidurnya. namun belum lagi ia sampai di tempat tidur Meira sudah membuka matanya.
"Anda mau apa tuan?!" seru Meira dengan wajah yang terlihat ketakutan.
"Astaghfirullah,!" sentak Daffin kaget.
"Lepaskan aku!" teriak Meira sembari ia meronta-ronta di dalam gendongan Daffin.
"Mei, jangan begini, aku hanya mau memindahkan kamu ketempat tidur, karena tadi kamu tidur di dalam lemari Mei" ujar Daffin yang mulai panik, karena trauma Meira kumat lagi.
"Turunkan aku!" bentak Meira lagi, yang masih berusaha melepaskan diri dari gendongan Daffin, yang memang Daffin memegang menjadi erat karena ia takut Meira akan terjatuh, dan dengan langkah cepat ia menghampiri ranjang mereka dan ia pun langsung menurunkan Meira, tetapi masih ia belum melepaskan pegangannya.
"Mei, Istighfarlah, aku mohon, lawan penyakit ini Mei, karena itu sama saja kamu sudah di kuasai syetan Mei, istighfarlah " kata Daffin yang terus berusaha agar Meira terlepas dari rasa traumanya.
"Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah Astaghfirullah Astaghfirullah, Ayo Mei ikuti aku, Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah " Daffin terus beristighfar agar Meira mau mengikutinya, tapi ternyata usahanya tak sia-sia, Meira pun akhirnya ikut beristighfar.
"Astaghfirullah, Astaghfirullah Astaghfirullah Astaghfirullah Astaghfirullah Astaghfirullah" Akhirnya mereka beristighfar secara bersamaan, dan karena di lihatnya Istrinya sudah mulai tenang ia pun langsung melepaskan Meira dari gendongannya tadi.
Bersambung.
__ADS_1
"''""""""""""""""""""""""
jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys π