Antara 2 Billionaire

Antara 2 Billionaire
Berat Arsen, berat


__ADS_3

Gabriel mengikuti Airin yang membawa nampan ke dapur, dia tak perduli kalau kini dia berada di rumah Arsen yang dia pedulikan hanya Airin.


"Airin" panggil Gabriel.


"Tangan kamu kenapa?" tanya Gabriel dengan panik.


Dengan segera Airin menyembunyikan tangannya lalu meminta Gabriel untuk pergi.


"Tidak apa, jangan buat masalah Gabriel please, pergilah," usir Airin.


Gabriel menuruti kata Airin untuk pergi, setelah kepergian Gabriel Airin pergi ke kamarnya dia menangis karena hatinya masih sakit karena Arsen mempermalukannya di depan A4 dan Gabriel tadi apalagi tangannya juga sakit karena terkena kopi panas.


Di ruang kerja nampak A4 saling diam, ketua geng yang galau membuat anak buahnya juga ikutan galau.


"Arcelo buat berkasnya lagi dan untuk meeting malam ini kita sudahi saja," kata Arsen


"Ok," sahut Arcelo, Aaron dan Arthur.


Mereka semua pamit pulang karena pasti Arsen ingin menyelesaikan masalahnya dengan Airin. Arsen dengan amarah di dadanya masuk ke dalam kamar untuk menemui sang istri.


"Ada hubungan apa kamu dengan Gabriel?" tanya Arsen dengan marah.


Airin hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Arsen.


"Aku bertanya padamu?" teriak Arsen.


Airin menatap Arsen dengan kilatan kemarahan juga.


"Apa perlu aku menjawab pertanyaan kamu hah?" teriak Airin juga.


"Perlu, apa jangan-jangan kamu selingkuh dengan Gabriel di belakang aku!" Arsen kini sudah dipenuhi amarah.


"Iya kan kamu selingkuh dengannya!" teriak Arsen.


Arsen meremas tangan Airin yang tadi kena air kopi yang panas.


"Sakit Arsen," kata Airin dengan menangis.


Tangan Airin yang merah kena air panas tadi kini terkelupas kulitnya karena cengkeraman Arsen yang sangat kuat.


Arsen yang melihat Airin kesakitan pun segera melepas cengkeramannya.


Segera mungkin Airin menyembunyikan tangannya dari Arsen.


Dia menangis menahan sakit sedangkan Arsen yang menyesal mencoba menarik tangan Airin kembali namun Airin menghindar.


"Tetap di tempatmu atau aku akan pergi," ancam Airin.


"Tapi luka kamu," sahut Arsen.


"Peduli apa kamu dengan luka di tanganku, luka ini tak sebanding dengan sakitnya hatiku yang kamu permalukan di depan teman-teman kamu Arsen," timpal Airin.


"Dan kini dengan tega kamu menuduhku memiliki hubungan dengan Gabriel," imbuh Airin.


Arsen nampak terdiam dengan menatap Airin.


"Aku sama sekali tidak ada hubungan apa-apa dengan Gabriel, aku bertemu dengannya tiga kali pertama di kafe, kedua di kantor kamu dan yang ketiga di minimarket," jelas Airin.


"Bisa-bisanya kamu menuduh aku selingkuh Arsen," imbuh Airin dengan terisak.


Airin duduk di depan meja rias sambil meniup lukanya yang terasa semakin perih.


"Maafkan aku," kata Arsen.


"Kalau maaf berguna untuk apa ada polisi," sahut Airin yang menirukan gaya Arsen saat di kampus dulu.


Airin mengambil kotak p3k dan mengobati lukanya sendiri lalu dia pergi tidur.


Airin tidur dengan membawa kekecewaan pada sang suami.


Arsen memandangi istrinya yang tidur, dia mengamati nafasnya, setengah jam kemudian nampak nafas Airin yang teratur ini tandanya kalau sudah terlelap.


Dengan langkah pelan Arsen mendekati Airin yang meringkuk sengaja memegangi tangannya yang sakit.

__ADS_1


Nampak sisa-sisa air mata di mata Airin, lalu Arsen melihat luka di tangan dan dia pun nampak kaget. Arsen tak menyangka apa yang telah dilakukannya benar-benar membuat Airin terluka seperti ini.


"Maafkan aku," kata Arsen.


Keesokannya Airin bangun terlebih dahulu, dia yang masih marah dengan Arsen enggan untuk membangunkan suaminya, dia memasang alarm dan meletakkannya di dekat Arsen.


Airin turun lalu dia duduk di taman, dia merindukan bunda dan ayahnya.


"Kamu kenapa?" tanya Mama Arini yang mengagetkan Airin.


Airin menoleh lalu tersenyum.


"Airin rindu ayah dan bunda, ma," jawab Airin.


Mama Arini tersenyum, dia ikut bergabung dengan Airin.


"Aku juga sangat merindukan ibuku Airin, ibu meninggalkan aku saat aku baru menikah dengan papa," kata Mama Arini.


"Ayah dan bunda kamu di luar pulau?" tanya Mama Arini.


"Iya ma," jawab Airin.


Saat asik mengobrol tak sengaja mama melihat tangan Airin. Sontak membuat mama Arini panik.


"Tangan kamu kenapa?" tanya mama Arini.


"Kena air panas ma," jawab Airin.


"Astaga, kenapa nggak dibawa ke rumah sakit?" tanya mama Arini lagi.


"Nggak usah ma lagian hanya luka kecil seperti ini," jawab Airin.


Arsen yang mendengar alarm berbunyi pun terbangun, dia memutar bola matanya namun Airin tak nampak di sekelilingnya.


Seusai bersiap Arsen turun ke bawah di nampak melihat mama dan istrinya mengobrol di taman.


Arsen berjalan menyusul Airin dan mamanya namun saat Arsen duduk sampingnya Airin pamit masuk karena ingin ke toilet.


"Sayang kok malah mau masuk sih," protes Arsen.


Mama Arini mencium bau tak sedap, pasalnya raut Airin berubah saat Arsen datang.


"Kalian ada masalah?" tanya mama Arini.


"Iya ma," jawab Arsen.


"Pantas dia merindukan orang tuanya," batin mama Arini.


"Jangan buat kekacauan lagi, gak ingat apa dulu buat drama di pernikahannya sama Aaron." Mama mengingatkan Arsen.


"Iya ma, Arsen tau," sahut Arsen lalu pergi menyusul Airin.


Airin masuk ke dalam kamarnya, dia duduk di sofa sembari menatap foto orang tuanya.


"Sayang," panggil Arsen.


Airin mengabaikan kedatangan Arsen, dia tetap menatap foto orang tuanya.


Arsen menghela nafas dan duduk di samping Airin namun dengan cepat Airin berdiri lalu dia pergi ke kamar mandi.


Arsen ikut masuk ke kamar mandi kebetulan juga pintu tidak dikunci.


Airin yang telah melepas bajunya segera memakai handuknya lalu ingin keluar namun Arsen mencegahnya.


"Maafkan aku," kata Arsen.


"Daripada sibuk minta maaf, mending berangkat ke kantor sana, urusi berkas yang ketumpahan kopi kemarin," sahut Airin.


"Maafkan aku," kata Arsen lalu ingin memeluk Airin namun secepat kilat Airin menghindar.


"Biasakan kamu nggak buat drama pagi-pagi begini. Sana pergilah," usir Airin.


Arsen nampak terdiam namun dia juga tidak ingin membuat drama dan semakin membuat Airin marah padanya.

__ADS_1


"Ya sudah aku berangkat," pamit Arsen.


Airin kembali melanjutkan mandinya sedangkan Arsen nampak lesu dan tak bersemangat.


"Pagi-pagi wajah sudah ditekuk pasti nggak dapat jatah ya," goda Papa Sean.


"Gimana mau dapat jatah la wong Airin saja merajuk," sahut Arsen.


"Memangnya apa yang ku lakukan hingga dia marah?" tanya Papa Sean.


"Banyak sih, yang pertama Arsen marah-marah saat dia menumpahkan kopi di atas berkas-berkas Arsen, Airin merasa malu karena Arsen marah dan membentaknya di depan A4 dan Gabriel," jawab Arsen.


Mama menatap Arsen dengan tatapan kesal.


"Yang kedua, Arsen menuduhnya selingkuh dan yang ketiga buat luka ditangannya," imbuh Arsen.


Mama Arini menggeleng, dia tak percaya anaknya bisa melakukan hal itu.


"Kamu KDRT juga?" tanya papa Sean.


"Nggak pa, Arsen mencengkeram tangannya dengan kuat dan ternyata tangan Airin terkena kopi panas sehingga kulit tangannya terkelupas," jawab Sean.


Mama Arini lagi-lagi menggelegak kepala.


"Berat Arsen, berat. Angel wes Angel," kata Mama Arini.


Halo kak


selamat idul adha bagi yang merayakan ya kak.


Maaf nih kak belum balas komen semalam, sibuk sendiri aku🤗🤣✌️✌️✌️✌️✌️


Kayake hubungan kita semakin jauh ya kak, 🤣🤣🤣 mulai lebay.🤣


Ya sudah pokoknya jangan lupa like, komen, hadiah dan vote nya ya kak.🤗🤗😘


Ni aku mau promo lagi nih kak karya teman aku mampir ya🤗😘



PEMBALASAN GADIS ABNORMAL


(Dhevy Yuliana)



Sheina adalah gadis yang mempunyai kelainan di wajahnya.


dan karena itulah, dirinya selalu di buly. dan pada suatu hari, karena sudah merasa tidak tahan, akhirnya gadis itu, meluapkan emosinya.


"eh iya, saya lupa dia kan hanya punya satu mata," guru itu, berucap dengan nada angkuhnya.


"makanya kamu itu nggak cocok sekolah di sini, karena kamu, bukan manusia," sambungnya membuat semua orang tertawa.


Deg


tiba tiba, hati dan jantung Sheina, merasa sakit karena di hina dan di permalukan seperti ini.


apalagi, orang itu adalah seorang yang seharusnya menjadi contoh.


Sheina yang sebelumnya menunduk, dengan cepat gadis itu, menegakkan wajahnya.


"maaf Bapak Rian yang terhormat, saya rasa, kata kata anda, sungguh sangat tidak pantas dari orang yang berpendidikan tinggi dan jabatan sebagai pahlawan itu. ternyata, benar apa kata orang, bahwa orang yang ber etika tidak di ukur dari penampilannya," Sheina segera berlalu pergi.


meninggalkan tempat itu, berderai air mata.


hingga membuat hati Rian terasa terganggu.


dan dengan susah payah, guru tampan itu, menyadari perbuatannya.


akankah Sheina luluh, ataukah malah menjauh? kiita simak ya?


__ADS_1


__ADS_2