Antara 2 Billionaire

Antara 2 Billionaire
Kisah cincin


__ADS_3

"Kamu tau Airin perjuangan aku saat itu..." Kata Arsen menggantungkan katanya.


Arsen terdiam. Dadanya sungguh sesak mengingat kisah cincin itu.


"Apa Arsen?" tanya Airin penasaran.


"Saat itu ulang tahun kamu yang ke 23, aku bingung mencari sebuah kado untuk kamu yang rencananya akan aku kasihkan saat pulang.


Sore itu sepulang dari kantor aku jalan-jalan di sebuah jalan di kota Berlin, aku melihat sebuah toko perhiasan, aku masuk dan melihat-lihat. Mataku tertuju pada cincin ini, harga yang fantastik membuat aku ragu namun aku sudah jatuh hati pada cincin ini aku meminta pemilik toko untuk menyimpannya untuk aku,"


Airin kembali terisak begitu pula dengan Arsen.


"Aku meminjam uang perusahan dan papa supaya aku bisa membeli cincin tersebut, itulah sebabnya aku tidak pernah pulang lagi, bukan aku lelah atau tidak rindu padamu tapi aku harus berhemat untuk membayar hutangku. Setiap hari aku harus memendam kerinduan padamu, ingin rasanya aku pulang dan memberikan cincin ini tapi aku harus mengembalikan uang perusahaan dan melunasi uang papa,"


"Akhirnya aku bisa pulang Airin, setelah bekerja keras bahkan tubuhku sangat kurus waktu itu. Aku seperti orang gila, saking bahagianya karena bisa pulang dan bertemu dengan kamu. Semalaman aku menggenggam cincin ini tak sabar untuk aku pakaian ke jari manis kamu," kata Arsen.

__ADS_1


Airin mengusap air matanya yang tidak bisa berhenti.


"Saat pesawat mendarat saking tak sabarnya aku mengekor dibelakang pramugari yang hendak membuka pintu pesawat, setelah pintu dibuka aku berteriak seperti orang gila yang memanggil nama kamu, bukan mama dan papa tapi kamu, kamu Airin. Lagi-lagi karena hilangnya kesabaran aku terjatuh tersungkur karena aku langsung meloncat saja ketika aku masih di tengah-tengah tangga turun dari pesawat, dengan lutut yang sakit dan langkah terseok aku berlari dan sampailah di depan bandara,"


Airin yang tidak sanggup mendengar cerita Arsen meminta Arsen untuk berhenti.


"Cukup Arsen cukup," pinta Airin.


Arsen tetap bercerita supaya Airin tau, kalau dia sangat mencintainya.


"Inilah kisah cincin ini Airin, perjalanannya dari Jerman hingga sampai kesini, aku harap kamu bisa menjaganya meski kamu telah melupakan pemberinya," kata Arsen lalu meletakkan cincin di telapak tangan Airin.


"Semoga berbahagia Airin, selamat tinggal," imbuh Arsen lalu menghapus air matanya.


Arsen keluar dan pergi ke toilet.

__ADS_1


Di sisi lain Arcelo mencari Arsen, katanya ke toilet tapi lama sekali.


Aaron menunggu Airin di depan penghulu namun airin tak kunjung keluar hingga bundanya memanggil Airin untuk keluar.


"Airin," panggil bunda.


Airin segera menghapus air matanya namun tetap terlihat kalau riasannya sedikit luntur karena air matanya.


"Kamu menangis?" tanya bunda.


Airin menggeleng dan itu membuat bunda kesal. Jelas jelas terlihat kalau menangis masih saja mengelak.


"Cinta bukan kompromi Airin tapi keputusan sudah kamu buat untuk tetap menikah dengan Aaron," kata bunda lalu mengusap air mata Airin dan mengajaknya keluar.


Setibanya di luar, Aaron menatap Airin yang menangis.

__ADS_1


"Kenapa kamu menangis hah? siapa yang mengijinkan kamu menangis Airin," omel Aaron.


__ADS_2