
"Airin, aku mohon padamu, relakan aku," pinta Arsen dengan memohon pada Airin.
Airin hanya terpaku mendengar permintaan Arsen.
Sungguh sakit rasanya orang yang kita cintai meminta untuk merelakan dirinya dengan orang lain.
Airin berdiri lalu mendekat ke arah jendela, dia ingin menyembunyikan air matanya yang jatuh dari Arsen.
"Kamu tau Arsen, dulu kamu yang selalu meminta aku untuk setia padamu, tapi kini kamu meminta aku untuk merelakan kamu," kata Airin.
"Aku tau Airin, tapi ini semua juga bukan inginku, aku mencintainya sangat mencintainya. Rasa ini datang tanpa aku minta," sahut Arsen
Airin yang kesal membalikkan tubuhnya.
"Karena kamu tidak mencoba mengingat masa lalu kita!" teriak Airin.
"Bagaimana aku mengingatnya, sedangkan bertemu kamu saja aku biasa," timpal Arsen.
Airin tidak sanggup membendung air matanya lagi, dia menangis di depan Arsen.
"Maafkan aku," ucap Arsen.
"Kamu tau, tiap malam dulu kamu selalu saja dp in aku, entah berapa persen dp yang selalu kamu bayar. Fobia petir aku selalu kamu jadikan alasan untuk tidur bersama. Ada aja modus kamu setiap harinya," kata Airin yang sempat membuat Arcelo menahan tawa.
"Ngapain coba mengumbar aib sendiri, dia ga lihat apa kalau ada aku di sini," batin Arcelo.
__ADS_1
"Leher aku penuh dengan lukisan senja kamu, dada juga. Tak hanya itu kamu juga naik-naik ke puncak gunung Arsen," kata Airin.
"Belum bayar tuntas kan Airin?" tanya Arcelo
"Untung belum, coba kalo iya. rugi aku," jawab Airin dengan menangis.
Arsen hanya terdiam, entah dia tidak ingat sama sekali.
"Maafkan aku Airin, apa perlu aku kembalikan DP nya?" tanya Arsen.
"Mana bisa?" teriak Airin yang kesal.
"Lalu aku harus gimana? Aku memang nggak ingat," tanya Arsen.
Airin menghela nafas, dia tentu juga tidak bisa mengekang Arsen untuk melayani perasaannya karena kembali lagi cinta tidak bisa dipaksa.
Arsen tentu tersenyum senang. Dengan begini Amanda pasti tidak mempermasalahkan masa lalunya dengan Airin.
"Makasih Airin," kata Arsen lalu memeluk Airin.
Puas memeluk Airin, Arsen memutuskan pergi ke kantor Amanda untuk meyakinkan Amanda jika Airin sudah merelakannya.
Arcelo hanya melihat Airin dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Kalau sudah rela jangan nangis," kata Arcelo.
__ADS_1
"Nggak kok, udah berhenti nangisnya," sahut Airin yang ternyata tidak bisa menghentikan tangisnya.
Lagi-lagi tubuh Arcelo jadi tempatnya untuk mencari kenyamanan.
"Udah nangisnya," kata Arcelo.
"Ini juga mau udah tapi matanya tidak bisa diajak kompromi," sahut Airin.
Saat bersamaan datanglah papa Nick dan papa Shane yang mampir.
"Arcelo!" panggil papa Nick.
Dengan segera Arcelo melerai pelukannya.
"Papa, Om Shane. Ngapain kemari?" tanya Arcelo.
"Bukannya ini kekasih Arsen yang...." belum sempat melanjutkan kata-kata papa Nick sudah menginjak kaki papa Shane.
"Kami tadi nongkrong di kafe sebelah terus lewat kantor ini jadi mampir," jawab papa Nick.
"Airin kenapa?" tanya papa Nick.
"Nggak papa kok Om, nih Arcelo nakal om," jawab Airin berbohong.
"Jangan-jangan kalian ada apa-apa," terka papa Shane.
__ADS_1
"Sembarangan deh Om Shane, kami hanya pelukan sahabat nggak lebih," sahut Airin.
Papa Shane sungguh seperti Arthur anaknya suka sekali mengada ngada.