
"Saya terima kawin dan nikahnya Airin binti...."
"Amanda," ucap papa Amanda.
Amanda menatap Arsen dengan tatapan elangnya, bagaimana bisa Arsen salah sebut nama.
"Maaf, bisa diulang lagi," kata Arsen.
Ijab pun diucapkan lagi namun lagi-lagi Arsen salah menyebut nama, dia menyebut nama airin untuk kedua kalinya.
Pak penghulu dan wali dari Amanda saling pandang sedangkan Arsen menunduk karena memang dia tidak berniat untuk melakukan pernikahan ini.
Mama Arini ingin mendekati Arsen namun papa Sean menggenggam erat tangan mama Arini.
"Biarin saja," kata papa Sean.
Papa Sean cukup tau apa yang dirasakan anaknya tapi dia tidak bisa apa-apa kali ini. Mengikuti alur yang dibuat lebih baik bagi mereka daripada saling menyalahkan untuk saat ini.
Aaron yang melihat Arsen menyebut nama calon suaminya jadi takut. Melihat Aaron dengan raut wajah yang berubah membuat Airin menggenggam tangan Aaron dengan erat.
"Sayang, please jangan tinggalkan aku," ucapnya lirih yang semakin mengaduk perasaan Airin.
Airin sungguh terjebak di antara dua Billionaire idaman semua orang. Entah bagi Arini ini adalah musibah atau anugerah yang tidak semua orang mendapatkannya.
"Tidak, aku tidak akan meninggalkan kamu Aaron," ucap Airin dengan menjatuhkan air matanya.
Aaron mengecup kening Airin, dia sangat bahagia akan jawaban Airin.
Arcelo dan Arthur juga saling pandang sambil mengangkat bahu mereka.
"Drama apa lagi ini," kata Arthur.
"Hus, mulut kok asal nyablak saja, ini bukan drama," sahut Arcelo.
"Kalau bukan drama terus apa? aku serasa melihat film romansa yang menyedihkan," timpal Arthur.
"Entahlah Arthur, kita berdoa saja yang terbaik untuk Arsen," ucap Arcelo.
Amanda yang melihat Arsen hanya diam kini mulai kesal.
"Aku Amanda Arsen, bukan Airin," kata Amanda dengan nada yang agak tinggi.
__ADS_1
"Aku tau," sahut Arsen.
"Lantas kenapa kamu salah sebut nama hingga dua kali," timpal Amanda.
Amanda yang kesal tak sengaja menyenggol meja sehingga kotak cincin tak sengaja jatuh, cincin Arsen tak sengaja menggelinding.
Mata Arsen yang melihat cincinnya menggelinding membuat kepalanya sakit.
"Aaaaaaaaa," teriak Arsen.
Mama Arini segera menghampiri Arsen.
"Kepalanya sakit lagi?" tanya mama Arini.
"Iya ma dan lebih sakit," jawab mama Arsen dengan memegangi kepalanya yang kesakitan.
"Amanda kenapa kamu hanya diam, cepat ambil obat Arsen!" teriak mama Arini.
Amanda segera berlari untuk mengambil obat Arsen, dia yang panik dan gugup tak berpikir panjang dia mengambil obat palsu Arsen.
Setelah mendapatkan obat Arsen, Amanda segera kembali ke bawah.
"Ini Tante," ucap Amanda sambil menyodorkan obat Arsen.
Arsen yang tidak kuat dengan rasa sakitnya pun akhirnya jatuh pingsan.
Semua nampak khawatir apalagi mama Arini dan papa Sean.
"Arsen, Arsen," teriak mama Arini.
"Kita bawa ke rumah sakit sayang," kata papa Sean.
"Nick, siapkan mobil," titah papa Sean saat papa Nick mendekat.
"Ambil mobilnya Arcelo," papa Nick meminta Arcelo untuk segera menyiapkan mobil.
"Baik pa," sahut Arcelo lalu berlari keluar.
Papa Sean dan papa Nick mulai mengangkat Arsen namun Aaron dan Arthur segera menggantikan mereka karena bagaimanapun juga tenaga yang muda lebih kuat apalagi badan Arsen yang besar.
Semua turut ikut ke rumah sakit termasuk Airin, dia juga sangat khawatir dengan Arsen.
__ADS_1
"Ya Tuhan sembuhkan lah Arsen," batin Airin.
Aaron, Arthur dan Airin dalam mobil yang sama sedangkan Arcelo dalam mobil keluarga Arsen.
Setibanya di rumah sakit, Arcelo meminta pihak medis untuk menyiapkan brankar dan Arsen dibawa ke ruang UGD.
Dokter Arsen segera memeriksa keadaan Arsen, melihat reaksi Arsen dokter mengerutkan alisnya.
"Apa obat yang saya berikan diminum rutin?" tanya dokter.
"Iya Dok selalu diminum rutin bahkan tidak telah sama sekali," jawab mama Arini.
"Kalau diminum rutin seharunya dia sudah pulih dan bahkan dia sudah mendapatkan ingatannya kembali mengingat cidera di kepala anak anda sudah membaik," jelas Dokter.
"Lantas kenapa dia nggak sembuh-sembuh dok?" tanya papa Sean.
Dokter kembali memeriksa keadaan Arsen lalu menyuntikan obat.
Mama tak sengaja menjatuhkan obat Arsen yang ikut terbawa olehnya, hingga obat tercecer di lantai.
Dokter memungut obat yang jatuh tersebut.
"Anda mengkonsumsi obat penambah nafsu makan?" tanya Dokter.
Mendengar pertanyaan dokter tentu membuat mama Arini dan papa Sean saling pandang kemudian mama Arini menggeleng.
"Ini obat siapa?" tanya dokter lagi.
"Obat Arsen, bukannya itu obat yang dokter berikan untuk Arsen?" jawab dan tanya mama Arini.
Dokter mengerutkan alisnya, jelas-jelas dia memberikan obat khusus untuk orang amnesia lantas kenapa menjadi obat penambah nafsu makan?
"Saya memberikan obat khusus amnesia, obat khusus cidera kepala kenapa yang anda minuman obat penambah nafsu makan?" ungkap Dokter.
Mama Arini mengepalkan tangannya, kalau obatnya berubah jadi obat penambah nafsu makan bearti ada yang menukarnya dan mama Arini sudah tau siapa orangnya.
Dengan amarah yang menggebu mama Arini keluar ruang UGD.
Plak.........
Halo kak.
__ADS_1
Selamat weekend ya.
Untuk komentar yang aku pilih, aku umumin nanti ya🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘😘😘