
"Ga papa kan Bun, latihan bercanda dengan calon mertua," kata Aaron yang membuat Bunda dan Airin saling tatap.
Nampak rasa bingung terlihat di raut wajah bunda, perasaan beberapa waktu lalu anaknya masih menjalin hubungan dengan ketua geng A4 la kenapa sekarang beralih ke Aaron?
"Eh, ga papa kok tuan muda," ucap bunda.
"Bunda ini kenapa manggil calon mantu dengan sebutan tuan muda, panggil saja Aaron," kata Aaron.
"Iya Aaron," timpal Bunda.
Melihat Aaron yang kelelahan, Airin memintanya untuk istirahat di depan TV.
Mes ayah Airin hanya memiliki satu kamar jadi setiap Airin datang mengunjungi orang tuanya dia tidur di ruang tengah depan TV.
"Kamu istirahat lah Aaron," kata Airin.
"Iya baiklah, aku memang mengantuk sekali," sahut Aaron.
Airin menyiapkan bantal dan kasur tipis untuk Aaron. Setelah Aaron tidur Airin pergi membantu bunda masak di dapur.
"Kamu bukannya dengan Tuan muda Arsen kenapa sekarang jadi ma Tuna muda Aaron?" tanya bunda Airin.
"Arsen sudah nggak ingat Airin lagi Bun, dia kecelakaan saat pulang dari Jerman," jawab Airin dengan menunduk.
Bunda dapat melihat kesedihan anaknya, bagaimana pun juga Airin telah lama menjalani hubungan dengan Arsen.
"Seharusnya kamu berada di dekat Arsen Airin, bukannya malah memutuskan untuk menjalin kisah baru dengan Aaron." Bunda menasehati Airin.
Airin menghela nafas, bundanya telah salah paham padanya. Bukan maksud Airin tak setia tapi Arsen sendirilah yang menyerahkan dirinya seperti barang pada Aaron tak hanya itu dia juga yang meminta Airin untuk merelakannya.
"Airin pun ingin seperti itu Bun tapi Arsen lah yang memberikan Airin pada Aaron, dia juga memohon pada Airin supaya merelakannya dengan kekasih barunya," ungkap Airin dengan memeluk sang bunda.
Airin menangis dalam pelukan bundanya.
"Astaga Airin, Bunda baru paham sekarang nak," sahut bunda dengan mengelus kepala Airin.
Bunda menenangkan anak semata wayangnya yang terus menangis.
"Lebih baik kamu tinggal di sini saja sama bunda dan ayah," saran bunda.
__ADS_1
"Kalau Airin tinggal di sini dengan bunda dan ayah siapa yang akan membantu mencicil hutang bunda, kita juga masih punya tanggungan cicilan rumah juga bun, apa gaji ayah cukup untuk membayar semua itu," kata Airin.
Bunda dan ayah Airin memang memiliki hutang yang cukup banyak selain itu mereka juga memiliki cicilan rumah yang harus dibayar setiap bulannya.
Gaji Airin lumayan besar di kantor Arsen, dia bisa membantu mencicil rumah yang sekarang dia tempati selain itu dia juga dapat membantu mencicil hutang orang tuanya
"Kalau hutang semua sudah beres, tinggal lah di sini bersama kami, rumah kita yang berada di ibukota kita jual dan membeli rumah di sini," kata Bunda.
Airin hanya tersenyum, bukannya tidak mau tapi Airin tidak ingin merepotkan orang tuanya, rencananya setelah dia memiliki banyak uang Airin akan mengajak orang tuanya hidup bersama seperti dulu.
Lama mengobrol, kini mereka pun mengeksekusi sayuran dan ikan.
Tak butuh waktu lama menyihir sayuran dan ikan mentah menjadi kudapan yang enak.
"Kamu siapkan di meja makan, lalu bangunkan Aaron," titah bunda.
Airin segera melaksanakan titah ibundanya lalu dia membangunkan Aaron.
"Aaron bangun," kata Airin sambil menepuk bahu Aaron.
Aaron yang ternyata sudah bangun berpura-pura tidur lalu menarik Airin dan membawanya dalam pelukannya.
Dia memegangi telinganya yang sakit karena teriakan Airin.
"Ini mulut apa toa masjid sih Airin," gerutu Aaron.
"Toa masjid," sahut Airin kesal.
"Pantes," timpal Aaron.
Bunda yang menata makanan menggelengkan kepala melihat Aaron dan Airin.
"Bunda dulu saat mengandung Airin ngidam toa masjid ya?" tanya Aaron dengan tertawa.
"Nggak kok, cuma ngidam speaker aktif," jawab bunda dengan tertawa.
"Ih bunda kok malah gitu sih," oceh Airin dengan bibir yang maju ke depan.
"Kondisikan bibir kamu sayang, atau aku akan melahapnya," goda Aaron.
__ADS_1
Dengan reflek Airin menutupi bibirnya dengan tangan.
"Dasar cabul," umpat Airin lalu pergi.
"Sumpah kamu menggemaskan sekali, aku benar-benar cinta sama kamu Airin," gumam Aaron lalu beranjak dan ikut bergabung dengan bunda di meja makan.
"Wah, masakan bunda menggugah selera sekali," puji Aaron.
"Bisa saja gombalnya," sahut Airin.
"Kamu sensi sekali sih sayang," timpal Aaron.
"Eh sayang sayang, memangnya aku cinta padamu sampai kapan pun aku nggak akan cinta pada...." ucap Airin dengan menggantung kata-katanya di akhir kalimat.
Wajah Aaron yang tadinya riang kini berubah datar, entah mengapa kata Airin membuatnya sakit hati meski dia tau kalau Airin tidak mencuntainya.
"Bun, boleh saya makan kan?" tanya Aaron.
"Boleh silahkan," jawab bunda.
Di bawah meja kaki bunda menyenggol Airin, beliau ingin Airin meminta maaf pada Aaron.
Aaron makan dengan cepat saat akan beranjak dari kursinya Airin memegang tangan Aaron.
"Maafkan aku," kata Airin.
"Maaf untuk apa?" tanyanya dengan tersenyum.
"Tadi," jawab Airin.
"Sudah lupakan, aku nggak papa," sahut Aaron.
Aaron pamit pada bunda untuk duduk di depan teras, angin pantai sangat sejuk sekali.
Aaron duduk di bangku depan yang terletak di bawah pohon.
Dia melihat hamparan laut luas dengan tersenyum, dia masih mengingat kata-kata Airin.
"Apa yang aku lakukan ini salah Tuhan, aku hanya ingin bersamanya itu saja meski aku tau dia tidak akan pernah mencintaiku," batin Aaron.
__ADS_1