Antara 2 Billionaire

Antara 2 Billionaire
Tiga bulan ke depan.


__ADS_3

Jarak rumah dan pasar yang jauh membuat Airin merasa tidak enak sehingga dia meminta Aaron untuk menurunkannya.


"Sudah Aaron turunkan aku," pinta Airin.


"Eh jangan," sahut Aaron.


Bukannya menurunkan Airin, Aaron malah berlari sehingga Airin semakin erat memeluknya.


Aaron tertawa karena Airin yang takut jatuh berpegangan dengan erat sambil berteriak.


Tak berselang lama mereka sampai di rumah, Aaron yang lelah menurunkan Airin lalu mengambil nafas sambil merebahkan dirinya di sofa.


"Capek?" tanya Airin.


"Nggak, cuma lelah," jawab Aaron dengan terengah engah.


"Sama saja," timpal Airin dengan kesal.


Bunda yang baru keluar dari dapur segera menghampiri Airin dan Aaron.


"Aaron kenapa Airin?" tanya bunda.


"Capek Bun gara-gara menggendong Airin," jawab Airin.


"Kamu ini udah besar kok minta digendong," protes mama Airin.


"Bukan Airin kok ma yang minta digendong tapi Aaron sendiri yang maksa Airin supaya mau digendong," sahut Airin.


"La sandalnya lepas bun kan kasian kakinya," timpal Aaron.


"Ya sudah istirahat dulu," kata mama lalu meninggalkan Airin dan Aaron namun sebelumnya Airin memberikan ikan yang tadi dia beli pada bundanya.


Aaron yang lelah memijat kaki dan bahunya sehingga membuat Airin iba padanya.


"Pasti lelah semua ya," kata Airin.


"Nggak kok, cuma capek sedikit saja," sahut Aaron.


"Sama aja Aaron," timpal Airin kesal.

__ADS_1


Kemudian Airin memijat bahu Aaron dan ini membuat Aaron tersenyum puas karena dia sudah menang banyak.


"Makasih ya Airin," kata Aaron.


"Masama tapi nanti gantian aku pijit," sahut Airin.


"Siap, mana yang harus dipijit? dada, bahu, punggung atau yang lain?" goda Aaron.


Airin melemparkan tatapan mautnya pada Aaron bisa bisanya Aaron ingin memijat dadanya.


"Kalau dada itu ga pijat," kata Airin.


"Apa dong," sahut Aaron.


"Tau ah, dasar otak otak messssuuummmm," timpal Airin lalu masuk ke dapur untuk membantu bunda.


*************


Di sisi lain Arsen mengajak mama dan papanya untuk pergi ke rumah Amanda, dia ingin segera melamar Amanda dan menikah.


"Kamu yakin Arsen? kamu ga ingat sesuatu gitu," tanya mama Arini.


"Arsen ingat apa nggak itu sama ma buat Arsen, bagi Arsen Amanda tetap segalanya," imbuh Arsen.


"Baiklah tapi awas kalau nanti kamu nangis-nangis menyesali perbuatan kamu," ancam mama Arini.


"Mama akan gantung Arsen di pohon kencur kan?" sahut Arsen dengan tertawa.


"Oh nggak, kali ini mama akan gantung kamu di pohon anggur," timpal mama Arini.


Arsen hanya tertawa mendengar kata mamanya, baik kencur maupun anggur tidak bisa dibuat untuk gantung orang.


"Baiklah mama mau," kata Arsen.


Tak ingin membuang waktu mereka semua berangkat ke rumah Amanda. Arsen sungguh tidak sabar untuk melamar Amanda


Setibanya di rumah Amanda, keluarga Arsen disambut oleh keluarga Amanda, mereka sangat senang karena kini dua keluarga akan jadi satu.


Amanda nampak bahagia, dia sungguh tidak sabar untuk segera menikah dengan Arsen.

__ADS_1


"Apa kita perlu mengadakan pesta untuk mereka?" tanya papa Sean.


"Nggak usah Om Sean, kita langsung menentukan tanggal pernikahan saja," jawab Amanda.


Mama Arini mengerutkan alisnya, kenapa harus secepat ini menentukan tanggal pernikahan? seharusnya Amanda dan Arsen saling penjajakan dulu.


"Amanda, bukannya Tante nggak setuju tapi apa nggak terlalu cepat jika langsung menentukan tanggal pernikahan," protes mama Arini.


"Iya Tante, tapi saya dan Arsen kan saling mencintai kalau terlalu lama takutnya kami khilaf daripada terjadi hal hal yang tidak diinginkan lebih baik kalau saya dan Arsen menikah," jelas Amanda.


Semua nampak setuju, begitu pula Arsen yang juga ingin sekali menikah.


Dia juga meminta mama dan papanya untuk mencari tanggal.


"Ya sudah bagaimana kalau nikahnya tiga bulan ke depan," kata papa Arsen.


"Kelamaan Om," sahut Amanda.


"Tiga bulan itu cepat Lo Amanda," protes mama Arini.


"Bagaimana kalau dia Minggu lagi," Amanda memberikan ide.


Mama Arini dan papa Sean saling pandang, lalu mama berbisik pada Arsen.


"Kamu nggak menghamilinya kan?" tanya Mama.


"Ya enggak lah ma, mana mungkin Arsen melakukan hal itu," jawab Arsen.


Mama Arini tersenyum kepada keluarga Amanda.


Kini mama dan papa Arsen saling berunding begitu pula dengan keluarga Amanda.


"Begini, bukannya kami nggak mau menikahkan kamu dan Arsen dalam waktu dua Minggu Amanda, cuma kami juga butuh waktu untuk menyiapkan semua," jelas mama Arini.


"Kata istri saya benar, jadi sudah kami putuskan kalau kalian menikah tiga bulan ke depan tepat tanggal satu," imbuh papa Sean.


Meski kurang setuju tapi mau nggak mau Amanda menerima semua keputusan dari keluarga Sean.


"Mama hanya berharap kamu pulih sebelum kamu menikah Arsen, mungkin Airin sudah pergi tapi minimal kamu nggak menyesal, sukur-sukur kalau Airin mau kembali," batin mama Arini.

__ADS_1


__ADS_2