
Airin seakan terbang ke awan dia amat sangat bahagia saat Arsen mengucapkan tiga kata ajaib padanya.
Namun kini dia terasa dihempaskan dari atas langit saat Arsen mengulang kata ajaibnya kembali.
Bukan namanya tapi Amanda yang Arsen sebut.
"I love you, Amanda," bisik Arsen.
Airin tersenyum kecut, bagaimana bisa dia mengira kata cinta serta kalung ini untuknya.
Sebisa mungkin Airin menahan air matanya, sambil memegangi kalung yang Arsen kalungkan di lehernya, Airin menjawab.
"I love you too Arsen," ucapnya dengan lirih.
Airin tersenyum lalu membalikkan badannya,
"I love you, i love you, i love you." Airin mengucapakan kalimat itu berkali-kali tersenyum.
"Amanda pasti menerima cinta kamu," kata Airin.
"Terima kasih Airin," sahut Arsen lalu melepas kalungnya dari leher Airin.
"Ya udah sana, pergilah! kejar cinta kamu. Aku doakan semoga kamu bahagia dengan Amanda," kata Airin dengan tersenyum.
Arsen segera pergi untuk menemui Amanda sekalian dia ingin mengungkapkan perasaannya.
Selepas kepergian Arsen, Airin terduduk kursinya.
Air mata yang sedari tadi dia bendung kini keluar dengan deras.
"Hiks hiks hiks, semoga kamu bahagia Arsen," kata Airin.
Airin terus saja menangis, dadanya sangat sesak mengetahui Arsen akan meminta wanita lain untuk jadi kekasihnya.
Arcelo yang kebetulan ingin meminta laporan pada Airin tak sengaja mendengar Airin terisak.
"Kamu kenapa Airin?" tanya Arcelo.
Melihat Arcelo datang, Airin segera beranjak dan memeluknya.
"Ar Ar sen akan me me menyatakan cintanya pa pa da Amanda," jawab Airin dengan terbata karena Isak tangisnya.
"Dia bilang padamu?" tanya Arcelo lagi
Airin mengangguk dan semakin erat memeluk Arcelo. Dia terus terisak dalam pelukan Arcelo sehingga Arcelo sangat iba pada sahabatnya tersebut.
__ADS_1
"Tenangkan dirimu, duduk dulu ya," pinta Arcelo lalu membawa Airin duduk di kursinya.
Arcelo mengambilkan Airin minum.
"Minum dulu," ucap Arcelo.
"Boleh aku ijin untuk pulang cepat?" tanya Airin.
"Boleh, ya sudah aku antar kamu pulang," jawab Arcelo.
Airin hanya mengangguk, pikiran Airin tak tau kemana, dia sungguh bingung, sakit yang menyiksanya melumpuhkan semuanya.
Sepanjang perjalanan pulang, Airin hanya terdiam bahkan Arcelo yang menghiburnya tidak digubris.
Sesampainya di rumah, Airin langsung turun tanpa berkata apa-apa dan ini tentu membuat Arcelo cemas.
Dia ikut masuk ke dalam rumah Airin, dia memanggil Airin dan lagi-lagi suara tangisan yang Arcelo dengar.
Arcelo menghampiri Airin yang sedang terlungkup di atas tempat tidurnya.
Arcelo duduk di tepi ranjangnya lalu mengelus kepala Airin.
"Airin aku balik ke kantor lagi ya, kalo ada apa-apa hubungi saja aku," kata Arcelo.
Arcelo yang harus kembali ke kantor meninggalkan Airin dengan keadaan yang kacau, meski berat meninggalkan Airin tapi Arcelo tidak punya pilihan lain.
Semenjak ayah Airin mengalami kecelakaan kerja di luar pulau dulu, ibunda Airin kini menemani sang suami di sana, oleh sebab itu Airin tinggal sendiri di rumahnya.
Awalnya dulu Arsen memintanya untuk tinggal di apartemen miliknya namun setelah Arsen ke Jerman, Airin memutuskan kembali ke rumahnya kembali.
Airin beranjak dari tempat tidurnya lalu pergi kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya dengan air, dia berharap sesak dadanya akan menghilang setelah dia mandi.
Namun bukannya segera menyelesaikan mandinya, Airin malah berlama-lama di kamar mandi sambil menangis.
Sore hari pun tiba, Aaron datang ke kantor Arsen untuk menjemput Airin.
"Arcelo, Arsen," panggil Aaron.
"Ada apa?" tanya Arsen.
"Airin sudah pulang?" tanya Aaron balik.
"Kata Arcelo tadi Airin ada urusan jadi ijin pulang cepat," jawab Arsen.
Arcelo yang ingin berbicara pada Aaron meminta Arsen duluan toh Arsen juga mau menjemput Amanda.
__ADS_1
"Airin kenapa?" tanya Aaron.
"Lebih baik kamu ke rumahnya Aaorn, karena keadaan Airin tidak baik saat ini. Nanti aku dan Arthur akan menyusul," jawan Arcelo.
"Ya sudah baiklah," kata Aaorn dengan cemas lalu dia berlari keluar kantor.
Aaron yang cemas melakukan kendaraannya dengan cepat, dia ingin segera ke rumah Airin.
Setibanya di rumah Airin, Aaron segera masuk dan betapa kagetnya dia melihat Airin terlungkup hanya sengaja menggunakan handuk kimono miliknya.
"Airin," panggil Aaron.
Airin membalikan badannya lalu tersenyum.
"Eh Aaron," katanya dengan lirih.
Aaron mendekat lalu memeluk Airin, saat berpelukan dia merasakan panas pada tubuh Airin.
"Kamu demam," kata Aaron dengan mengurai pelukannya.
Airin menggelengkan kepala.
"Mau aku cium? jelas-jelas pucat dan panas gini kok menggelengkan kepala," maki Aaron.
Aaron menidurkan Airin kembali lalu dia mengambil air untuk mengompres Airin.
"Kita ke rumah sakit ya," ajak Aaron.
"Nggak nggak, nanti minum obat pasti sembuh," sahut Airin.
Aaron mendampingi Airin yang lemah, dia memegang tangan Airin.
"Please jangan begini," kata Aaron dengan menatap Airin.
"Aku sakit Aaron, Arsen telah memutuskan untuk menjalin kasih dengan wanita lain," ucap Airin dengan menangis.
"Sabar Airin, aku akan selalu di samping kamu hingga maut memisahkan kita," hibur Aaron.
"Apaan sih, memangnya kamu nggak cari jodoh apa kok mau di samping aku sampai maut memisahkan," sahut Airin dengan tertawa.
"Kan jodoh aku sudah di depan mata," timpal Aaron.
"Gombalnya," ucap Airin.
"Aku serius Airin," sahut Aaron.
__ADS_1