
"Beri aku daftar penumpang dengan tujuan Kanada, seminggu yang lalu," kata Aaron.
Petugas maskapai tersebut mengerutkan dahinya, lalu meminta alasan untuk apa.
"Bisalah tanpa banyak bertanya?" kata Aaron sambil menunjukkan kartu namanya.
"Oh pak Aaron," kata petugas tersebut lalu mencari daftar penumpang seminggu yang lalu.
Aaron mengecek penumpang kelas bisnis dan dia tidak menemukan nama Airin di sana, dia lalu mengecek kelas ekonomi dan lagi-lagi tidak ada nama Airin di sana.
Dia menemukan nama Gabriel tapi tidak dengan Airin.
Satu persatu Aaron cek ada satu nama yang membuatnya curiga.
Niria \= Airin
"Oh my God, cerdik sekali kamu Airin tapi ini pasti ada campur tangan orang dalam," batin Aaron.
Setelah urusannya selesai, Aaron kembali ke kantornya, rencannya nanti sore dia akan ke rumah Arsen.
Aaron mengecek semua hotel di Kanada dan menemukan tempat stay Airin.
"Jadi kamu menginap di hotel Toronto Airin," batin Aaron.
Aaron tersenyum, Airin sungguh benar-benar membuat Arsen kelimpungan.
Tapi Arsen memang keterlaluan saat memarahi Airin saat itu, dimarahi dan dibentak di hadapan orang banyak memang sangat menyakitkan.
"Kamu mikir apa?" tanya Arthur.
"Mikir Airin," jawab Aaron.
Wah wah pelanggaran banget kamu Aaron bisa bisanya memikirkan Airin, woy ingat Yulia woy," maki Arthur.
"Arsen juga, aku sudah tau dimana Airin berada," kata Aaron.
Arthur nampak berbinar.
"Dimana?" tanya Arthur.
"Di hatiku," jawab Aaron dengan tertawa dan ini membuat Arthur kesal.
"Bener-bener nih orang. Aku adukan ke ketua geng tau rasa, ingat Aaron gak boleh cinta sama istri teman," kata Arthur.
"Lagian aku sudah mencintai Yulia, Airin masa lalu aku," sahut Aaron.
"Lalu dimana Airin kini?" tanya Arthur.
"Kanada," jawab Aaron.
"Eh Ngapain dia ke Kanada, yang ada orang-orang Kanada syiok melihat hidungnya yang mancung kedalam," kata Arthur.
Aaron hanya tertawa, dari dulu suka sekali membully Airin, padahal menurut Aaron Airin itu cantik, manis dan senyumnya membuat siapa pun terpesona.
__ADS_1
Sore hari pun tiba, Aaron dan Arthur menengok Arsen yang diam diri di kamar.
"Hay Arsen," sapa Arthur.
Arsen hanya melirik lalu kembali melemparkan tatapannya ke depan.
"Sudah nggak anggap kita saudara? hingga kita datang kamu kacangi?" ucap Arthur.
Arsen tersenyum.
"Separuh jiwaku pergi Arthur bersama Airin," kata Arsen.
"Aku sekarang tidak tau dia dimana, sedang apa dan bagaimana keadaannya, aku takut kalau dia kekurangan, dia kan sudah kurus aku takut kalau semakin kurus," imbuh Arsen.
Aaron dan Arthur saling pandang dan saling tertawa.
"Airin jalan-jalan ke Kanada dengan menginap di hotel mewah jadi jangan khawatir," batin Aaron dengan tertawa.
"Kamu suami yang hebat Arsen, masih memikirkan Airin yang tak tau kini ada dimana masih memikirkan dia makan atau tidak, aku kira kamu sudah tidak peduli lagi padanya, coba kalau aku masih sendiri akan aku ambil lagi," ucap Aaron.
"Tentu aku memikirkannya Aaron," kata arsen.
"Saran saja, wanita itu tidak suka dibentak, hati wanita itu lembut Arsen, cukup dikasih pengertian dia akan paham kok nggak usah kita marahin atau bentak mereka apalagi kamu dan Airin kan sudah pacaran lama, seharusnya kamu paham karakternya," Ucap Aaron.
"Iya aku tau aku salah," timpal Arsen.
"Aku juga begitu Arsen dengan Yulia dan kini aku mulai belajar memahami dia," kata Aaron.
"Kalau kamu ingin tau keadaan Airin, dia kini ada di Kanada, dia menginap di hotel Toronto," imbuh Aaron.
"Bagaimana kamu tau Aaron jangan-jangan kamu yang menyembunyikannya." terka Arsen.
"Benar-benar kamu Arsen, kami ini udah cari info bukannya terima kasih malah nuduh, seharusnya kita nggak ngasih tau dia, Aaron," omel Arthur.
Arsen tersenyum dia lalu memeluk sahabatnya tersebut.
"Maafkan aku," kata Arsen dengan mata yang basah.
"Kalau maaf berguna untuk apa ada polisi," ucap Arthur.
"Dulu dia selalu bilang begitu kalau ada yang meminta maaf padanya," sahut Aaron.
Mereka bertiga berpelukan layaknya teletubbies, Arsen sadar kalau dirinya memang keterlaluan, dia tidak pernah memikirkan perasaan Airin.
Dia lupa kalau kecewa yang menggunung bisa membunuh rasa cinta dan Airin pasti akan cari tempat nyaman lainnya.
"Sudah sana susul, siapkan jet kamu," kata Arthur
"Boleh aku ikut?" tanya Arthur kemudian.
"Jangan macam-macam kerjaan di kantor banyak, aku pecat kamu kalau sampai ikut Arsen," ancam Aaron.
"Astaga kejam sekali kamu Aaron mumpung ada pesawat gratis," sahut Arthur.
__ADS_1
"Mangkanya nikah, nanti aku kasih cuti bulan madu," timpal Aaron.
"Ayda boleh juga," imbuh Aaron.
"Nggak masuk kriteria, udah jelek, cerewet, pendek, pesek, malah mending Airin," kata Arthur.
"Eh jangan samakan Airin dengan wanita lain karena bagiku dia itu wanita tercantik di dunia," sahut Arsen.
"Percaya," kata Arthur lalu mereka bertiga tertawa.
Arsen yang ingin segera menyusul Airin memerintahkan pilot untuk bersiap, dia sudah tidak sabar untuk bertemu Airin.
"Ma Arsen mau jemput Airin," kata Arsen.
"Dimana?" tanya mama Arini.
"Kanada ma," jawab Arsen.
"Bocah ini ga tanggung tanggung liburnanya, dulu aku mentok luar kota la dia luar negeri," batin mama Arini.
"Bagiamana kamu tau?" tanya mama Arini.
"Nih Aaron," jawab Arsen.
"Kelihatannya yang cocok jadi semua Airin itu Aaron la kamu suaminya malah berdiam diri di kamar pasrah," ejek mama Arini.
Arsen menunduk malu, memang benar dia tidak bisa apa-apa, Aaron lah yang selalu tau daripada dirinya.
"Kebetulan saja Tante," kata Aaron.
Tak ingin menghambat Arsen, Aaron dan Arthur pamit pulang.
Yulia pasti juga sudah menunggunya.
Persiapan jet Arsen sudah seratus persen tinggal menunggu Arsen yang otw ke bandara.
"Sayang tunggu aku," kata Arsen.
Arsen mengingat sekali semuanya, dia memang keterlaluan dari hilang ingatan dia sudah sangat menyakiti Airin ditambah dengan sikapnya setelah menikah.
Dia menganggap semua akan baik baik saja namum dia salah, istrinya banyak menyimpan kecewa yang tentu rasa kecewa itu akan membuat Airin pergi sama seperti saat ini.
Selama dua puluh jam Arsen berada di dalam jet, kini jet miliknya mendarat dengan selamat di Bandara internasional Pearson Toronto.
"Sayang aku datang," kata Arsen.
Arsen kini segera menyusul Airin ke hotelnya, beberapa saat kemudian dia telah sampai di hotel Toronto.
"Sayang, aku merindukan kamu," kata Arsen dengan mata yang basah.
Arsen berjalan ke resepsionis bertanya tamu dengan nama Airin.
Awalnya pihak Hotel bersikeras untuk tidak memberitahu Arsen namun karena Arsen terus meyakinkan mereka sehingga dia diberitahu kamar Airin.
__ADS_1
Arsen bergegas ke kamar Airin, dia terus mengetuk pintu namun tidak ada jawaban.
Dengan langkah lebar Arsen datang kembali ka resepsionis untuk meminta kartu akses kamar Airin tentu pihak hotel keberatan namun lagi-lagi Arsen mengancam dan akhirnya pihak hotel memberi kartu akses dan ikut Arsen karena mereka harus memastikan keamanan tamu mereka.