
"Airin?" tanya Papa Daffa yang seolah tau apa yang dipikirkan Aaron.
Aaron menoleh ke arah papanya, bagaimana papanya bisa tau apa yang mengganjal pikirannya.
"Papa tau?" tanya Aaron.
"Apalagi yang membuat kamu galau selain Airin," jawab Papa Daffa dengan tertawa.
"Lalu?" tanya Aaron.
"Ikuti saja apa kata hati kamu Aaron, lakukan yang terbaik asal yang kamu lakukan tidak menyakiti siapa pun termasuk diri kamu sendiri," jawab papa Daffa.
"Tapi bagaimana kalau Arsen ingatannya pulih pa?" tanya Aaron.
"Itu urusan nanti, toh kita juga tidak tau kapan Arsen pulih, bisa saja nggak pulih sama sekali," jawab papa Daffa.
Aaron nampak tersenyum memang papanya adalah manunsia terbijak sedunia.
"Kejarlah cinta kamu meski ke negeri China Aaron," batin Papa Daffa lalu pamit.
"Ya sudah papa kembali ke kamar dulu, mama pasti sudah menunggu," pamit Daffa.
"Ya sudah sana pa, pasti mau main panjat-panjatan kan?" sahut Aaron.
"Apalagi, main panjat-panjatan itu penting dalam rumah tangga," seloroh papa Daffa.
"Penting tapi suara gaibnya silent dong, Aaron kan merinding dengarnya pa," timpal Aaron.
"Mode getar saja, gak enak kalo di silent atau mode pesawat, kurang greget," sahut papa Daffa dengan tertawa lalu pergi dari Balkon.
Aaron hanya menatap papanya dengan heran sambil menggelengkan kepala.
"Pa, pa, apa lupa dengan umur," kata Aaron lalu dia juga kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Tak hanya papa Daffa dan mama Putri, Papa Sean dan mama Arini, papa Nick dan mama Vani serta Papa Shane dan mama Amira juga sama. Mereka semua hobi memanjat hingga membuat buah hati mereka terganggu dengan suara-suara gaib setiap saat.
Akibat suara gaib mereka, A4 akhirnya dewasa sebelum waktunya. Terutama Arsen yang suka melakukan DP saat masih di bangku kuliah dulu.
**********
"Airin kamu perbaiki lagi laporan ini, dalam waktu satu jam harus memberikannya padaku," titah Arsen.
Airin menatap Arsen dengan tatapan datar, mau sampai kapan Arsen mempermainkannya.
Ingin rasanya Airin resign namun dalam surat perjanjian jika Airin keluar maka Airin harus membayar denda sepuluh milyar.
"Apa sih salahku Arsen, dulu kamu mempermainkan aku dengan cintamu, memaksa aku masuk dalam dalam hidup kamu, mengikat aku dalam peraturan yang tidak masuk akal," kata Airin dengan menangis.
"Nggak usah lebay Airin, ini soal pekerjaan kenapa kamu bawa-bawa perasaan, kamu kan tau kalau aku tidak mengingatmu," sahut Arsen.
"Pekerjaan apa? kamu selalu memintaku untuk mengganti laporan yang jelas-jelas itu sudah benar, kamu tanyakan ke seisi staf yang ada di kantor ini, mereka pasti tidak ada masalah dengan ini," timpal Airin.
"Berani kamu membantah aku!" teriak Arsen.
Arsen yang kesal mengepalkan tangannya, dia sendiri juga tidak tau kenapa dia sangat benci pada Airin.
Apa ini efek dari cinta yang dia rasakan? entahlah.
Airin yang kesal langsung keluar ruangan, dia sungguh kesal sekali dengan Arsen.
Arcelo yang ingin ke ruangan Arsen harus melihat Airin berlari dengan menangis.
"Ada apa lagi sih Arsen?" tanya Arcelo.
"Dia tidak mematuhi perintahku, lihat laporan ini apa pantas laporan seperti ini diberikan padaku," jawab Arsen dengan membanting laporannya di meja.
Arcelo yang penasaran mengambil laporannya lalu mengecek laporan tersebut.
__ADS_1
Satu persatu Arcelo membuka laporannya dan menurutnya tidak ada yang salah, laporan itu sudah benar.
"Apanya yang salah?" tanya Arcelo
"Pokoknya itu salah," jawab Arsen bersikeras.
"Arsen, aku tau kamu hilang ingatan dan tidak mengingatnya tapi minimal bersikap baiklah padanya. Selama tiga tahun dia menunggu kamu, saat tau kamu kecelakaan dia selalu datang ke rumah sakit untuk menjenguk kamu meski dokter melarangnya untuk masuk, aku hanya khawatir dengan sikap kamu yang seperti ini padanya akan menghilangkan cintanya sehingga saat kamu pulih nanti kamu akan kehilangan dirinya," pesan Arcelo lalu menepuk bahu Arsen lalu pamit keluar.
Arcelo melupakan tujuannya ke ruangan Arsen, dia pergi menyusul Airin yang pergi entah kemana.
Saat di luar kantor Arcelo melihat Arini duduk sebuah bangku bawah pohon.
Dan dia pun mendatangi Airin.
"Airin," panggil Arcelo.
"Aku menyerah Arcelo, aku menyerah. Aku akan pergi dari sini. Aku nggak peduli dengan perjanjian itu, kalau aku harus dipenjara itu lebih baik daripada aku selalu didekat iblis seperti Arsen," kata Airin dengan menangis.
Arcelo yang iba membawa Airin dalam pelukannya.
"Sabar, aku adalah bagian dari kami, bagaimana bisa aku membiarkan kamu pergi. Apa kamu ingat dulu saat kamu bertemu Arsen untuk yang pertama kalinya, kamu begitu berani kenapa sekarang belum apa-apa sudah menyerah?" hibur Arcelo.
Airin semakin terisak dalam pelukan Arcelo.
"Kamu kangen di DP Arsen ya?" goda Arcelo
"Nggak," sahut Airin.
"Gimana kalau aku yang gantikan, pasti rasanya lebih nikmat," timpal Arcelo.
Airin yang kesal melepas pelukannya dan menatap Arcelo dengan kesal.
"Sinting," ucap Airin lalu pergi begitu saja.
__ADS_1
"Ayolah Airin, sedikit saja," goda Arcelo yang membuat Airin kesal lalu berlari.
Arcelo tertawa melihat tingkah Airin yang langsung ngibrit begitu saja.