
"Arsen harus menemui Airin," kata Arsen lalu pergi untuk menemui Airin.
Setibanya di rumah Airin, Arsen langsung turun dari mobil dan mengetuk pintu. Cukup lama Arsen mengetuk pintu namun tidak ada yang membukakan pintu.
"Apa dia keluar sama Aaron?" batin Arsen.
Arsen memutuskan untuk pergi, dia pergi ke club' untuk menemui sohibnya Arcelo dan Arthur.
"Malam guys," sapa Arsen dengan loyo.
"Yang kena investasi bodong loyo mulu bawaannya," balas Arthur dengan tertawa.
"Siapa juga yang ikut investasi," sahut Arsen kesal.
Arcelo juga heran dengan kata Arthur yang menurutnya ambigu dan ga jelas, apa hubungannya dengan investasi bodong.
"La tuh, Airin kan investasi kamu berapa tahun coba berinvestasi tinggal narik malah Aaron kan yang dapat untungnya," jelas Arthur dengan tertawa.
Arcelo yang mendengarnya juga ikut tertawa, memang teman laknut bisa-bisanya menyamakan Arsen dan Airin dengan investasi bodong.
"Dia jagain jodoh Aaron," pungkas Arcelo.
"Aku kesini itu supaya tenang dan damai, malah kalian bully," omel Arsen.
Arthur dan Arcelo semakin ngakak, mereka berdua cukup paus mendapatkan dampak cinta Arsen, Aaron dan Airin. Dari dulu saat masih kuliah, mereka sering potong gaji karena bos bos mereka yang galau.
Pernah juga Arsen cuti seminggu karena Airin dekat dengan Aaron, alhasil Arthur dan Arcelo kena potong gaji seminggu.
"Aaron mana?" tanya Arsen.
"Paling di apartemen ma Airin," jawab Arthur dengan terkekeh sambil melihat Arcelo.
Memang Arcelo dan Arthur bersepakat kalau tidak akan memberi tahu jika airin tinggal di apartemen Aaron.
"Maksudnya?" tanya Arsen.
"Ya mungkin Airin diajak main Aaron ke apartemennya," jawab Arthur.
"Apa mungkin Airin tinggal di apartemen Aaron?" tanya Arsen penasaran.
"Entahlah kami tidak tau," jawab Arcelo.
__ADS_1
***********
Sepulang dari club' Arthur Arsen kembali ke rumah Airin namun lagi-lagi tidak ada yang membukakan pintu.
"Kamu kemana sih Airin," ucap Arsen dengan putus asa.
Dua hari tidak bertemu Airin membuatnya frustasi, apalagi dia ingin menanyakan soal pernikahannya dengan Aaron yang mendadak sekali.
Arsen yang lama menunggu akhirnya memutuskan pulang.
Dia sangat rindu sekali dengan Airin. Lalu Arsen mengambil ponselnya dan menghubungi Arcelo.
"Arcelo besok majukan kunjungan kita ke kantor Aaron," kata Arsen.
"Kenapa harus maju, aku belum konfirmasi dengan Arthur," protes Arcelo di dalam sambungan telponnya.
"Mangaknya kamu konfirmasi sekarang," pungkas Arsen lalu memutuskan secara sepihak sambungan telponnya.
Arthur yang masih bersama Arcelo jadi penasaran.
"Kenapa Arcelo?" tanya Arthur.
"Arsen ingin memajukan jadwal kunjungan rutinnya besok," jawab Arcelo.
"Ya sudah biar aku sampaikan nanti," timpal Arcelo.
Acara kunjungan rutin yang Arsen lakukan semata-mata untuk menemui Airin, dia yang tidak bertemu dengan Airin seperti orang yang kekurangan dosis, bingung yang berkepanjangan dan seperti orang gila.
Sesampainya di rumah Arsen duduk duduk dulu di teras, Arsen mengambil ponselnya dan menatap potret Airin yang ia jadikan wallpaper di ponselnya.
"Kamu dimana sih Airin?" Arsen bermonolog dengan dirinya sendiri.
Dia juga melihat pesan yang dia kirim tapi dengan Airin tidak dibaca sama sekali. Panggilan telponnya juga tidak diangkat.
"Sesak rasanya diperlakukan seperti ini, maafkan aku yang dulu memperlakukan kamu sangat buruk Airin," gumam Arsen dengan mata yang basah.
"Sudah jangan menangis, mungkin kalian tidak jodoh," sahut Papa Sean.
Arsen segara menghapus air matanya lalu tersenyum.
"Iya pa," timpal Arsen.
__ADS_1
"Kita harus berhati besar untuk melepaskan Arsen, itu baru pria sejati," kata papa Sean.
"Tapi Arsen sangat mencintainya pa," ucap Arsen.
"Relakan dan ikhlaskan, semua akan baik-baik saja. Jika dia jodoh kamu pasti akan menjadi milik kamu karena sejatinya tulang rusuk yang sudah ditakdirkan untuk kamu nggak akan bisa tertukar dengan orang lain." Papa Sean menasehati anaknya.
Arsen menatap papanya dengan lekat dan dengan tatapan heran.
"Papa nggak lagi kurang panjat memanjat kan?" tanya Arsen.
"Maksudnya?" tanya Papa Sean.
"Tumben bijak banget seperti om Daffa saja," jawab Arsen.
"Anak kurang ajar, dinasehati malah mengejek," omel Papa Sean.
"Ya kan siapa tau pa," ucap Arsen dengan terkekeh.
Arsen dan Papa Sean saling cerita dan mengobrol dan itu membuat Arsen melupakan sejenak Airin.
Papa Sean cukup mengerti perasaan Arsen, dia dapat merasakan bagiamana kehilangan orang yang amat dicintainya namun hidup tetap harus berjalan tidak peduli dengan apa yang dirasakan.
"Setiap akhir sebuah cerita akan menciptakan awal cerita yang baru begitu pula dengan perpisahan," kata Papa Sean.
Mama Arini juga ikut bergabung dengan Arsen dan suaminya.
"Teruslah mendoakan sampai kata merelakan sudah tenang dibawa oleh senyuman," lanjut mama Arini.
Arsen menangis lalu memeluk mama dan papanya, dia tidak menyangka mama dan papa yang bar bar jadi bijak seperti ini.
"Terima kasih mama dan papa, kalian lah cinta mati Arsen," ucap Arsen.
Mama Arini dan papa Sean mengajak Arsen bercanda dan mengatakan Arsen, meyakinkan Arsen kalau masih banyak wanita yang lebih baik dari Airin.
"Ya sudah ma dan pa, Arsen pamit. Lelah mau tidur," pamit Arsen.
"Oh ya suaranya nanti disilent ya biar nggak semakin membuat Arsen galau," imbuh Arsen.
"Lagian mama libur jadi sementara nggak bisa manjat papa kamu," sahut mama Arini.
"Syukurlah setidaknya Arsen bisa tidur dengan tenang," goda Arsen lalu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Setelah mendapatkan pencerahan dari papa dan mamanya membuat Arsen memasrahkan semuanya pada Tuhan.
"Mungkin, kita adalah sepenggal kisah yang direvisi oleh penulisnya, kisah sebenarnya telah diubah begitu saja dan sang penulis dengan teganya memunculkan tokoh baru yang mana pemeran tokoh utama yang lama kini harus terjebak dalam kenangan,"