
"Dasar Karin Kafan, awas kamu kalau sampai macam-macam ma suami aku," gumam Airin.
Rasa cemburu Airin bukan tanpa sebab, dulu saat Arsen masih di Jerman, Karin sering kali bersama Arsen, Arsen juga cerita banyak tentang Karin pada Airin dan ini membuat Airin kesal.
Arsen yang tau kalau Airin cemburu dengan Karin mencoba menenangkannya karena sejatinya cinta Arsen hanya untuk Airin.
Pagi ini Karin berangkat dengan Arsen, meski kesal namun Airin mencoba tenang karena nggak mungkin membabi buta di depan mama Arini dan Papa Sean.
"Aku berangkat dulu ya sayang," pamit Arsen dengan mengecup kening sang istri.
Saat hendak naik mobil, Arsen kembali lagi.
"Ada yang ketinggalan?" tanya Airin.
"Bibir kamu," jawab Arsen lalu mencium bibir Airin.
Papa Sean menutup mata istrinya.
"Apaan sih sayang," omel mama Arini dengan menyingkirkan tangan Papa Sean.
Setelah puas Arsen melepas ciumannya.
"Kamu tu ya Arsen, bisa-bisanya mencium bibir istri kamu di depan kami semua," omel mama
"Maaf ma, gak ada waktu untuk ke kemar," sahut Arsen.
"Ya nggak usah dicium," pungkas mama Arini
"Kalau nggak cium bibir istri aku rasanya lemas di kantor ma," timpal Arsen lalu menuju mobilnya dan berangkat.
"Dah sayang," Arsen melambaikan tangannya.
Arsen tersenyum, Karin yang melihatnya juga tersenyum.
"Kamu sangat mencintai istri kamu," kata Karin.
"Very much Karin, aku sangat mencintainya," sahut Arsen.
"Beruntungnya dia," kata Karin dengan tersenyum.
Karin turut bahagia melihat Arsen yang bahagia, bagi Karin Arsen adalah sesosok adik yang dia sayangi.
*********
Jam makan siang telah datang, Airin sayang ke kantor Arsen untuk membawakan makanan namun lagi-lagi dia kalah cepat karena Arsen dan Karin makan di luar.
__ADS_1
"Brengsek kalian," umpat Airin lalu pergi meninggalkan kantor Arsen.
Dengan membawa bekal makanan yang tadinya untuk Arsen, Airin pergi ke danau tempat dia dan Arcelo datang dulu.
Airin melempar batu ke dalam danau sambil memaki Arsen.
"Awas kamu Arsen, lihatlah tidak ada jatah malam ini, aku sumpahi kamu semakin jadi bucin aku," teriak Airin.
Nafasnya memburu dan Airin terlihat mencari sesuatu.
"Ah, lupa gak bawa minum, haus banget lagi," umpat Airin.
Hausnya sudah kelewat batas sehingga Airin memutuskan untuk pergi ke kafe, dia enggan untuk pulang karena Airin boring di rumah.
"Lemon tea sama wafel nya satu mbak," kata Airin pada pelayan.
"Baik kak, mohon ditunggu," ucap pelayan.
Sambil menunggu makanan dan minumannya datang, Airin mengambil ponselnya dia berharap ada pesan dari sang suami namun tidak ada pesan sama sekali.
"Dah asik ma Karin itu lupa nggak chat istri," gerutu Airin.
Saat asik menggerutu seorang pria menghampiri Airin dan menwarkan diri untuk duduk.
"Boleh saya duduk?" tanya lelaki tersebut.
"Boleh," kata Airin.
"Terima kasih cantik," sahut pria itu.
"Oh ya perkenalkan nama saya Gabriel, kamu?" Pria tersebut memperkenalkan dirinya lalu bertanya pada Airin.
"Nama aku Airin," jawab Airin.
Airin sedikit melupakan rasa cemburunya pada Karin saat mengobrol dengan Gabriel.
Mereka berdua asik mengobrol sehingga sehingga tak terasa waktu menunjukkan pukul empat sore.
"Maaf saya harus pulang," pamit Airin lalu bergegas pergi.
Sesampainya di rumah Airin masuk kamar dan membersihkan diri, dia berias secantik mungkin supaya Arsen tergila gila padanya.
"Kamu cantik sekali sih Airin memakai baju ini," puji Airin untuk dirinya sendiri.
Tak selang berapa lama Arsen masuk kamar, dia langsung saja memeluk sang istri.
__ADS_1
"I Miss you baby," bisik Arsen.
"Gombal," sahut Airin dengan kesal.
"Pret," imbuhnya.
"Lo Lo, kenapa sih kok gitu," protes Arsen.
"Lo Lo kenapa kenapa, tuh ma Karin saja nggak usah ngegombalin aku," maki Airin.
Arsen tertawa lalu melepas pelukannya.
"Kamu cemburu sayang," katanya.
"Ogah, ngapain cemburu ma bule itu. Diapa-apakan aku lebih dari dia, lihat nih body aku yang jago menggoyang kamu daripada dia rata seperti papan selancar, cuma menang tinggi dan kulit putih." Airin mengeluarkan uneg unegnya.
"Dengar ya, sepuluh tahun ke depan dia udah tua, keriput la aku seksi-seksinya, hot hotnya menggoyang kamu," imbuhnya dengan nafas yang memburu.
Arsen hanya tertawa mendengar celotehan sang sang istri.
"Oh begitu, memangnya kamu pernah menggoyang aku?" Arsen mulai memancing Airin yang tengah cemburu.
"Mau coba," tantang Airin.
"Mau dong," sahut Arsen.
Tanpa aba-aba Airin menarik Arsen dan mendorongnya ke tempat tidur.
Dia segera naik ke atas Arsen lalu melucuti pakaian sang suami.
"Mana goyangannya," tagih Arsen.
Airin langsung menyatukan miliknya dan milik Arsen, dengan rasa dongkol di hati Airin menggerakkan tubuhnya ke atas dan kebawah sesekali dia menjepit rudal Arsen dan ini membuat Arsen memejamkan matanya.
Tak berselang lama, Airin lelah.
Dan dia meminta Arsen untuk menggantikan posisinya.
"Cuma gitu dong goyangannya," ejek Arsen.
"Aku lelah," sahut Airin.
Arsen segera membalik posisi dan gantian menggoyang Airin.
Hampir dua jam beradu kini mereka sama-sama terlentang di tempat tidur sambil mengambil nafas.
__ADS_1
"Sayang dengar, aku mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini, aku mencintai kamu dengan segenap jiwa dan ragaku tak ada niatan sedikit pun untuk menduakan kamu, jadi jangan cemburu pada Karin, seperti yang kamu bilang tadi kalau kamu lebih dari dia, lantas kenapa kamu masih cemburu?"