
"Beginilah Arsen jika kamu mencintai seseorang di luar batas yang ditentukan, melupakannya pun akan memerlukan kerelaan yang ekstra," kata Arcelo lalu keluar dari ruangan Arsen.
Lama Arsen tidur hingga lewat jam makan siang dia masih saja tidur dan ini membuat Arcelo nampak heran.
"Masih tidur?" gumam Arcelo.
Arcelo bolak balik ke ruangan Arsen untuk melihat Arsen hingga tepat pukul dua Arsen bangun.
Dia memijat pelipisnya yang pusing dan memutarkan bola matanya untuk melihat penunjuk waktu.
"Sudah jam dua," gumamnya.
Arsen menghubungi OB dan memintanya untuk membelikan roti dan juga susu.
Setelah makan, Arsen kembali melanjutkan pekerjaannya.
***********
"Pa bagaimana kalau Arsen mengurusi perusahan kakek di Jerman," kata Arsen.
Mama Arini dan papa Sean menatap anaknya dengan lekat.
"Kamu mau ninggalin mama Arsen?" tanya Mama Arini.
"Nggak dong ma, mana bisa Arsen ninggalin mama. Nanti sebulan sekali Arsen pulang," jawab Arsen.
"Kamu yakin, mau mengurus perusahaan kakek di sana?" tanya Papa Sean.
"Iya pa, mungkin dengan begitu Arsen bisa melupakan Airin," jawab Arsen.
Mama Arini memeluk Arsen dan mengelus punggung anaknya.
Dia dapat merasakan betapa sakitnya hati anaknya kini.
__ADS_1
Cinta Arsen pada Airin no kaleng-kaleng, sejak kecil Arsen selalu bilang pada mamanya kalau tidak akan ada wanita yang arsen cintai selain mamanya hingga dia jatuh cinta pada Airin.
"Baiklah mama akan mengijinkan kamu untuk mengurus perusahaan kakek tapi janji ya setiap bulan kamu pulang dan mengunjungi kami," kata Mama Arini.
Arsen nampak senang karena orang tuanya mengijinkan dia untuk pergi ke Jerman lagi.
"Setelah Aaron dan Airin menikah, Arsen akan berangkat ke Jerman ma pa," ucap Arsen.
Di sisi lain keluarga Daffa Anderson sibuk dengan persiapan pernikahan Aaron dan Airin, baju-baju pengantin juga sudah disiapkan untuk calon mempelai.
"Akhirnya kita punya mantu mas," kata mama Putri.
"Iya sayang," sahut papa Daffa.
Papa Daffa dan mama Putri sangat bahagia karena Aaron bisa menikah dengan wanita yang baik seperti Airin.
Papa Daffa melihat Arini muda setiap melihat Airin, entah mengapa ada kemiripan di antara mereka.
Airin juga melamun di kamarnya, dia berkali-kali menghela nafas dan menghapus semua kenangannya dengan Arsen.
"Selamat tinggal masa lalu, terima kasih atas kenangan yang telah kamu berikan. Selamat tinggal Arsen, selamat datang Aaron," kata Airin.
Dia mulai memantapkan dirinya untuk memilih Aaron.
"Bismilah, jika Aaron jodohku lancarkan lah pernikahan besok ya Tuhan." Airin bermonolog dengan dirinya sendiri.
Tak hanya Airin dan Aaron, Arsen juga melamun di balkon kamarnya sambil memegang cincin bermata biru yang akan dia hadiahkan untuk Airin.
"Selamat tinggal masa laluku, selamat tinggal Airin selamat datang Jerman," kata Arsen dengan mata yang jatuh.
"Telah aku terima takdirku Airin, tertusuk sembilu sungguh perih hati terluka. Terkubur lah impian yang dulu kita bina bersama, terlerailah ikatan cinta kita yang selama tujuh tahun ini kit bina." Arsen bermonolog dengan dirinya sendiri.
Arcelo dan Arthur turut ikut merasakan kesedihan Arsen dan kebahagian Aaron.
__ADS_1
"Arsen sedih, Aaron bahagia. Lalu kita harus bahagia apa sedih Arthur?" tanya Arcelo.
"Dua duanya dong Arthur, saat kita sama Arsen kita harus turut prihatin dan saat kita bersama Aaron kita harus senang," jawab Arthur.
"Kalau kita dekat keduanya gimana?" tanya Arcelo lagi.
"Ya kita diam saja Arcelo, masak iya kita nangis terus tertawa dikira sudah miring kita," jawab Arthur yang kesal dengan temannya.
"Kamu bertanya lagi gratis gelas cantik," imbuh Arthur.
Arcelo hanya terkekeh, dia sungguh ikut pusing dengan Arsen yang tengah patah hati.
"Apa hadiah kamu Arcelo?" tanya Arthur.
"Seperangkat alat mandi," jawab Arcelo.
"Wow amazing hadiah kamu, kalau kamu?" tanya Arcelo balik.
"Lingerie dan pakaian dalam, pengantin muda membutuhkan barang itu," jawab Arthur.
Arcelo dan Arthur saling tertawa ngakak dengan hadiah yang akan mereka berikan pada Aaron.
Hari yang ditunggu-tunggu telah datang, dimana Aaron dan Airin telah memutuskan untuk mengikat janji suci untuk bersama.
Arsen datang dengan Arcelo dan juga Arthur, nampak Aaron sangat tampan dengan setelan jas warna putih.
Mata Arsen memutar mencari keberadaan Airin, dia ingin melihat Airin dengan baju nikahnya.
Harusnya aku yang di sana dampingimu dan bukannya dia, harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia.
Harusnya kau tua bahwa, cintaku lebih darinya, harusnya yang kau pilih bukan dia.
Sepenggal lirik yang mewakili Arsen saat ini saat melihat meja dan kursi yang akan digunakan untuk prosesi Ijab Qabul Airin dan Aaron.
__ADS_1