Antara 2 Billionaire

Antara 2 Billionaire
Jangan tangisi


__ADS_3

"Akuuuuuuuuu...." Airin bingung dan menggantung kata-katanya.


"Aku apa?" tanya Aaron.


"Aku ingin menikah dengan kamu Aaron," jawab Airin.


Aaron tersenyum lalu mengangkat dagu Airin.


"Kamu yakin?" tanya Aaron lagi.


"Yakin Aaron," jawab Airin.


Kini Aaron semakin mendekat dan pautan tidak bisa terhindarkan.


"Aku ingin memakanmu," bisiknya dengan menggigit kecil telinga Airin.


"Belum boleh," sahut Airin.


"Masa bodoh," timpal Aaron yang memegangi tangan Airin.


"Jangan Aaron bentar lagi kan kita sudah resmi kenapa ingin coba-coba yang nggak resmi," bujuk Airin.


"Karena yang ilegal itu lebih mengoda," kata Aaron lalu melahap bibir Airin lagi. Suara decakan bibir yang beradu semakin nyaring terdengar.


Tangan Aaron memegang dada Airin, inilah kalinya dia melakukan hal ini.


"Jangan Aaron, please," pinta Airin lalu Aaron melepaskan tangannya.


Setelah puas saling paut kini Aaron memejamkan matanya sambil memeluk Airin dan benar saja tak berselang lama nafasnya teratur yang menandakan Aaron telah terlelap.


Airin tidak bisa tidur karena memikirkan buah dadanya yang disentuh oleh calon suaminya.


"Dadaku sudah tidak perawan," batinnya dengan memegang buah dadanya.


"Dulu Arsen sekarang Aaron kenapa sih kaum adam suka sekali memegang dada." Airin bermonolog dengan dirinya sendiri dalam hati.


Pusing memikirkan nasib buah dadanya yang sudah tidak perawan untuk kedua kalinya Airin memutuskan untuk keluar kamar.


Dia pergi ke depan sambil melihat Ombak di tengah malam. Deburan ombak membawa Airin melayang jauh kembali ke masa lalunya dengan Arsen. Janji-janji manis yang dia ucapkan harus dia ingkari komitmen dengan Aaron kini menjadi pilihannya.


Puas menatap ombak yang membawa lamunannya kini Airin mendongak ke langit sembari menatap bintang favoritnya Sirius.

__ADS_1


"Sirius, kamu terang sekali," kata Airin sambil tersenyum.


"Aku sungguh iri padamu Sirius, dari aku kecil sampai dewasa kamu tetap di posisi kamu dan tidak berubah sedikit pun meski langit mendung atau cuaca buruk, berbeda dengan aku yang kini merubah pilihan aku," imbuh Airin.


Tak berselang lama, Arsen duduk di samping Airin sibuk mengamati bintang. Dia ikut melihat bintang bersama Airin.


"Pasti melihat sirius," kata Arsen.


Airin menoleh lalu dia bergegas untuk beranjak, dia tidak ingin ada kesalahpahaman lagi antara dirinya dan Aaron selain itu Airin juga tidak ingin Arsen dan Aaron salah paham juga.


"Tetaplah disini, aku ingin bicara sebentar," kata Arsen.


Airin tidak menggubris kata kata Arsen dan tetap ingin kembali namun dengan segera Arsen memegang tangan Airin.


"Lepaskan Arsen," pinta Airin.


"Nggak, aku ingin ngomong sebentar," sahut Arsen.


Airin menghela nafas, akhirnya dia duduk kembali.


"Cepat bicaralah," kata Airin.


Mata Arsen dan Airin kini bertemu baik mata Arsen maupun airin saling memancarkan cinta yang terpendam.


"Aku masih sangat mencintai kamu, apa rasa itu telah pergi Airin?" tanya Arsen.


Airin diam tak menjawab pernyataan Arsen, dia tak tau harus menjawab apa.


"Diam kamu sudah membuat aku yakin kalau kamu sebenarnya juga mencintai aku," ucap Arsen.


Airin tersenyum lalu kembali menatap ombak.


"Cintamu padamu seperti ombak Arsen, yang pergi jauh ke tengah laut," kata Airin.


"Tapi dia selalu datang kembali ke tepi Airin," sahut Arsen.


Lagi-lagi Airin tersenyum.


"Jujur cintaku padamu masih sama tapi aku tidak bisa kembali padamu Arsen. Ketika itu kamu sendiri yang meminta aku untuk merelakan kamu," kata Airin dengan air mata yang jatuh.


"Bicaralah dengan Aaron Airin kalau kamu masih mencintai diriku, aku yakin dia pasti mengerti," pungkas Arsen.

__ADS_1


"Tidak Arsen, Aaron lelaki yang sangat baik mana mungkin aku tega menyakitinya. Aku akan belajar mencintainya meski bayang-bayang kamu selalu mengikuti," timpal Airin.


Arsen lagi-lagi meneteskan air matanya.


"Perjuangan aku selama ini apa tidak kamu anggap Airin, dengan segenap jiwa dan ragaku aku tulus mencintai kamu, hiks hiks." Arsen menangis terisak.


Airin tak tega melihat Arsen seperti itu.


"Arsen pasti ada wanita lain yang jauh lebih baik dari aku," hibur Airin.


Tanpa aba-aba Arsen memeluk Airin, dia menangis dalam pelukan kekasih yang sebentar lagi akan menjadi milik orang lain.


"Arsen kalau Aaron bangun dan melihat kita seperti ini akan ada salah paham," bujuk Airin supaya Arsen melepaskan pelukannya.


Arsen pun melepas pelukannya. Dia memukul mukulkan tangannya ke pasir untuk melampiaskan sakit hatinya.


"Arsen sudah Arsen," kata Airin.


"Aku tak sanggup tanpa kamu Airin," timpal Arsen dengan terisak.


Airin sangat perih melihat Arsen yang seperti ini tapi dia tidak mungkin juga membatalkan pernikahan yang beberapa hari ke depan akan segera di selenggarakan.


"Sudahlah Arsen kita tidak mungkin untuk bersama. Keadaan membuat kita terpisah," kata Airin.


"Jadi usap lah setiap tetes air matamu Arsen, jangan kamu tangis perpisahan ini. Aku yakin kamu akan bahagia dengan yang lain suatu saat nanti," imbuh Airin.


"Nggak Airin, nggak, nggak! aku tidak mau berpisah dari kamu," kata Arsen.


"I love you, i love you, i love you. I love you so much," imbuh Arsen.


Airin diam tak menjawab lalu dia pergi dari hadapan Arsen, Airin berlari masuk rumah dan naik ke lantai atas, dia tidak kembali ke kamarnya melainkan pergi ke balkon belakang.


Arini menatap laut dari sisi yang berbeda.


Tiba-tiba di belakangnya ada tangan yang memeluknya dari belakang.


"I love you, i love you, i love you," kata Airin dengan menerima pelukan yang kini semakin erat memeluknya.


"I love you too," sahutnya.


Mata pun Airin membola saat dia mendengar kata cinta barusan dia dengar.

__ADS_1


__ADS_2