
Sontak Arcelo dan Karin menghentikan aksi dp mereka bahkan papa Sean dan Arsen juga ikut masuk kamar Karin setelah mendengar mama Arini berteriak.
"Kalian ngapain?" tanya mama Arini.
"Ini Tante dp in Karin," jawab Arcelo dengan menggaruk kepalanya yang gak gatal.
Sedangkan Karin menutup tubuhnya dengan selimut karena dia bertelanjang dada.
"Mampus, siapa suruh main DP di rumah seperti ga punya uang untuk check in saja," kata Arsen.
"Brengsek kamu Arsen," sahut Arcelo.
"Udah udah, Arsen ambilkan ponsel mama," kata mama Arini.
Arsen segera mengambil ponsel mamanya.
"Ini ma," kata Arsen sambil menyodorkan ponsel mamanya setelah dia kembali.
"Mau ngapain Tante?" tanya Arcelo.
"Nelpon mama kamu lah memangnya mau ngapain lagi," jawab mama Arini.
"Mati aku, mama pasti marah. Apes apes," kata Arcelo.
Berkali-kali Mama Arini menghubungi Mama Vani tapi mama Vani tidak bisa dihubungi.
"Kemana sih kamu Van saat darurat gini nggak bisa dihubungi," kata Mama Arini.
"Alhamdulillah, semoga mama gak bisa dihubungi," gumam Arcelo yang masih didengar mama Arini.
"Senang sekali kamu Arcelo," kata mama Arini.
"Sayang hubungi Nick," titah mama Arini pada papa Sean.
Arcelo mengusap rambutnya kasar.
"Alah Tante, padahal dulu Tante dan Om Sean main DP DP an juga," kata Arcelo.
"Siapa bilang, Tante dulu nikah baru pacaran jadi langsung kontan gak pake DP DP," sahut mama Arini.
"Arsen tuh Dp Dp an banyak," timpal Arcelo.
"Tapi sekarang udah kontan," ucap Arsen.
Papa Sean sudah terhubung dengan papa Nick dan ini membuat Arcelo semakin frustasi.
"Halo, Nick," papa Sean.
"Halo pak Sean," papa Nick
"Ini Arcelo ketangkap basah tantenya," papa Sean.
"Maksudnya," papa Nick
"Ya gitu main DP DP an seperti kamu dulu," papa Sean.
"Ngapain nggak main di hotel sih tu anak, bikin malu dp di rumah orang ketahuan pula," papa Nick.
"Seharusnya kamu nasehatin Arcelo kalau ingin messsssuum suruh di hotel kalau nggak punya uang ya di hutan atau di kutub sana," papa Sean.
__ADS_1
Mama Arini memijat kepalanya, dasar bapak bapak laknut bukannya nasehatin angkanya untuk tidak melakukan dosa malah sebaliknya.
Mama Arini meminta ponsel papa Sean.
"Secepatnya kesini sama Vani, aku tunggu," mama Arini.
Tut Tut Tut
Panggilan berakhir.
"Singkat padat dan jelas, daripada bicara yang ngawur," kata Mama Arini
"Karin Arcelo pakai baju kalian, setelah itu nyusul kami di ruang tengah. Tante akan memanggil orang tau Karin juga" imbuh mama Arini.
"Iya Tante," ucap Arcelo lalu menghela nafas.
Arcelo pasrah, kalau nanti mamanya marah dia pun pasrah.
Mama Arini dan Papa Sean pergi tinggal Arsen yang menyandarkan badannya di dinding.
"Palingan kalian mau dinikahkan tu, jadi entar malam bisa malam pertama, bayar kontan tu si Karin," kata Arsen.
"Malah beneran kalau begitu," sahut Arcelo.
Arsen pun menepuk bahu Arcelo lalu dia ke kamar untuk menemui Airin.
"Sayang, Arcelo dan Karin terciduk mama lagi DP DP an di kamar." Arsen melapor.
Airin hanya tersenyum, dia sungguh tidak ingin memikirkan nasib orang lain sedangkan nasibnya sendiri lagi tidak baik.
Arsen menghela nafas, "Sayang maafkan aku," kata Arsen menyesal.
"Sudahlah," imbuh Airin lalu melanjutkan membaca novel online yang dia ikuti.
"Kisah kita hampir sama dengan novel cerita ini," batin Airin.
Airin membaca novel yang mengisahkan persahabatan antara bos dan atasan serta sang istri yang dibuat seenaknya sendiri oleh sang suami, mulai dari cemburu dan lain-lain.
"Kamu baca apa?" tanya Arsen lalu duduk di samping Airin.
"Novel online, judulnya Terjebak cinta sang casanova, Zahra dan Chris, kalau penasaran baca sendiri," jawab Airin.
"Malas sekali baca novel online," sahut Arsen.
Airin tak lagi menjawab, dia kini lagi fokus dengan bab yang menceritakan Zahra istri Chris yang dicintai oleh Daniel rekan musuh Chris.
Bisa dibilang musuh dalam selimut dan tanpa sengaja bertemu dengan Zahra dan jatuh cinta namun sayang tenyata Zahra adalah adik kandungnya sendiri.
"Tragis sekali," batin Airin.
************
Semua sudah menunggu termasuk orang tua Karin, mama dan papa Karin sebenarnya heran dengan pemikiran Mama Arini. Di Jerman hal itu lumrah dan tidak langsung nikah.
Mama Arini menjelaskan pelan-pelan pada orang tau Karin, memang budaya timur seperti ini.
"Ya sudah kamu ngikut saja lagipula Karin sekarang juga ikut kalian," kata mama Karin dengan bahasa jerman.
Yang paham artinya hanya papa Sean dan Karin saja.
__ADS_1
Tak berselang lama Mama Vani dan Papa Nick datang, wajah mama Vani sangat menyeramkan berbeda dengan papa Nick yang nampak kacau.
"Dasar anak nakal, bisa-bisanya kamu messsuuum di rumah Tante Arini, mau taruh mana muka mama," maki mama Vani.
"Taruh rumah ma," sahut Arcelo.
"Tuh mas, marahin anak kamu," ucap mama Vani.
"Kamu nih Arcelo, bikin malu papa dikiranya kamu nggak punya uang buat check in di hotel," seloroh
papa Nick.
Mama Vani dan mama Arini menatap papa Nick dengan tatapan tajam.
"Memangnya kamu lagi bokek kah Arcelo?" tanya papa Sean.
Kini mama Vani dan mama Arini gantian menatap Papa Sean.
"Aku menyerah Van ngomong sama mereka. Udah gini aja, nikahkan mereka. Yang penting sah dairpada messssummmmm daripada pada kebelet kasian kan kalo proses Dp di skip kontannya," kata mama Arini.
"Ya sudah, cus panggil Kiai...Nikah sahnya seminggu lagi," timpal Mama Vani.
"William kita akan menikahkan Karin dan Arcelo sekarang," jelas Sean.
"Ok," Papa William nurut sama Papa Sean.
Papa Nick menghubungi anak buahnya supaya mencari kiai untuk menikahkan orang saat ini juga.
"Trus apa bajuku seperti ini saja?" tanya Arcelo.
"Iya, memangnya mau pakai baju apa?" tanya mama Vani balik.
"Ya sudah pakai baju ini saja," jawab Arcelo.
Tak berselang lama datanglah anak buah Nick dan Kiai yang akan menikahkan Arcelo dan Karin.
Prosesi pernikahan tidak memerlukan banyak waktu, karena yang penting sah.
"Gimana?" tanya pak Kiai.
Sah
sah
sah
Suara teriakan sah membuka Arcelo senang meskipun dia sangat gugup sekali.
Arcelo mengecup kening sang istri dan memeluknya.
"Akhirnya sah meski caranya seperti ini," bisik Arcelo.
"Nah kan enak bisa panjat panjatan nanti malam," kata Mama Arini.
Karena acara sudah selesai Mama Vani dan papa Nick pamit pulang. Begitu pula dengan semuanya tinggallah Karin dan Arcelo.
"Ayo ke kamar kita lanjut yang tadi," bisik Arcelo.
Karin mengangkat kedua tangannya meminta Arcelo untuk menggendongnya.
__ADS_1