Antara 2 Billionaire

Antara 2 Billionaire
Mama Arini panik


__ADS_3

"Mungkin, kita adalah sepenggal kisah yang direvisi oleh penulisnya, kisah sebenarnya telah diubah begitu saja dan sang penulis dengan teganya memunculkan tokoh baru yang mana pemeran tokoh utama yang lama kini harus terjebak dalam kenangan," batin Arsen.


Kata-kata Arsen mengandung makna yang dalam, kepedihan hatinya begitu menyiksa sehingga dia menyesali kecelakaan yang menimpanya.


Saat duduk termenung di balkon, mama Arini datang dan memberikan cincin permata biru yang jatuh saat pernikahannya dengan Amanda.


"Cincin ini bukannya cincin yang membuat kamu berhutang pada Papa sebesar satu juta euro dulu?" tanya Mama Arini.


"Benar ma, cincin ini konon ceritanya adalah milik seorang ratu, sebenarnya Arsen membelinya dengan harga lima juta euro atau sekitar 76 milyar rupiah," jawab Arsen.


Mama Arini membolakan matanya, dia tidak percaya kalau Arsen membeli cincin harga yang fantastik.


"Buat apa sih Arsen, kamu beli cincin dengan harga selangit," omel mama yang tidak habis pikir dengan anaknya.


"Permata biru pekatnya seperti warna samudra ma, sedalam cinta Arsen untuk Airin," sahut Arsen.


"Selama bertahun tahun kami menjalani long distance relationship, gak kebayang tersiksanya kami saat digelangi rindu yang mencekam, oleh sebab itu Arsen ingin saat Arsen pulang Arsen memberikan cincin ini dan langsung melamarnya," ungkap Arsen.


Mata mama Arini berkaca, dia sungguh tak menduga begitu dalam cinta anaknya pada sang kekasih.


"Selama setahun terakhir Arsen berkerja keras untuk mengembalikan uang papa, sebisa mungkin Arsen berhemat dan tidak pulang sama sekali," ungkap Arsen.


Mama Arini memeluk anaknya, dia ikut menangis melihat sang buah hati patah hati.

__ADS_1


"Tapi Tuhan sangat kejam sama Arsen ma, Tuhan membuat Arsen kecelakaan dan menghilangkan ingatan akan cinta Arsen, kenapa tidak diambil saja Arsen daripada disiksa seperti ini, hiks hiks hiks." Arsen terisak dalam pelukan mamanya.


"Arsen sayang, dengerin mama nak. Jangan pernah bilang seperti itu. Kamu harus bersyukur paling tidak kamu masih bisa melihat Airin bahagia dengan Aaron," hibur mama Arini.


Arsen melepas pelukannya lalu mencoba tersenyum.


"Mama benar," ucap Arsen.


Arsen menghapus air mata mamanya.


"Mama jangan menangis bukankah mama adalah seorang wonder women kenapa menangis?" tanya Arsen dengan tertawa.


"Bagaimana mama tidak menangis sayang sedangkan buah hati mama tengah berduka," jawab Mama Arini.


"Iya, kamu juga," sahut mama.


"Bolehkan mama tidur sama kamu?" tanya mama Arini.


"Nggak nggak, mama boleh. Arsen udah besar ga boleh tidur bersama." Arsen menolak untuk tidur bersama mamanya.


"Makasih Arsen, ya sudah mama panggil papa dulu," kata mama Arini lalu bergegas keluar.


Mama Arini takut jika Arsen gelap mata dan mengakhiri hidupnya oleh sebab itu dia akan menjaga buah hatinya semalaman ini.

__ADS_1


Kini mereka bertiga dalam satu ranjang yang sama, Arsen bukannya bisa istirahat dengan tenang dia malah terganggu dengan tempat sayang sesak.


"Haduh ngapain sih pada tidur di sini," gerutu Arsen.


Arsen yang tidak bisa tidur memutuskan pindah ke kamar adiknya. Dan saat mama Arini terbangun dia berteriak.


"Arseeeeeeeen," teriaknya yang membuat papa Sean terbangun.


"Ada apa sih," gerutu Papa sean.


"Arsen hilang, cari dia aku takut dia gantung diri di pohon cabai," sahut mama Arini lalu pergi keluar.


Dia membangunkan seluruh art untuk mengecek pohon-pohon yang ada di rumahnya.


Dengan nyawa yang belum pada kembali semua mencari Arsen yang sekarang tidur lelap memeluk sang adik.


"Tidak ada tanda-tanda orang gantung diri nyonya, bahkan kami sudah mencari di pohon tomat dan cabai tapi tuan muda tidak ada di sana," kata salah satu art.


"Mobil mobil lihat lengkap apa tidak," titah mama Arini.


Tak berselang lama mereka memberi laporan kalau mobil lengkap semua.


Mama Arini menangis, dia memerintahkan semua art untuk mengecek kamar satu satu dan benar saja Arsen tengah tidur sambil memeluk adiknya.

__ADS_1


"Kan aku sudah bilang kalau dia baik baik saja," ucap papa Sean lalu kembali ke kamarnya sendiri begitu pula dengan para art.


__ADS_2