Antara 2 Billionaire

Antara 2 Billionaire
Masih ada kami


__ADS_3

Arcelo tertawa melihat tingkah Airin yang langsung ngibrit begitu saja.


"Pantes Arsen dan Aaron merebutkan dirimu," gumam Arcelo lalu kembali ke ruangannya.


Airin yang baru sampai di ruangan Arsen segera kembali ke mejanya. Dia mulai berkutat dengan komputer yang berada di meja kerjanya.


Arsen sesekali melirik Airin, dia masih terngiang kata-kata Arcelo tadi. Dia berfikir apa sikapnya sudah keterlaluan?


Tak ingin terganggu dengan semua itu, Arsen memanggil Airin.


"Airin," panggil Arsen.


Airin yang malas menyahut memilih berdiri dan mendekat.


"Apa menurut kamu sikapku keterlaluan?" tanya Arsen dengan menatap Airin


"Iya," jawab Airin singkat.


"Lalu bagaimana seharusnya sikap aku?" tanya Arsen.


Airin menghela nafas, ingin sekali mengambil palu dan menggetokkannya ke kepala Arsen.


Hal seperti itu saja kenapa harus bertanya.


"Hargai aku," jawab Airin.


"Semua memang bukan salahmu Arsen, ini murni kecelakaan. Meskipun kamu tidak ingat kalau aku adalah kekasih kamu tapi minimal hargai aku sebagai sekertaris kamu, aku ini bukan batu yang tidak berperasaan," jelas Airin.


Arsen terdiam mendengar penjelasan Airin, dia nampak berfikir.

__ADS_1


"Baiklah, maafkan aku," kata Arsen lalu mengulurkan tangannya.


Airin mematung saat Arsen mengulurkan tangannya, dia tidak menyangka Arsen meminta maaf padanya


Apa ini awal yang bagus? atau justru sebaliknya? tidak ada yang tau karena ini masih menjadi misteri di antara mereka.


Airin menerima uluran tangan Arsen dengan tersenyum senang.


"Apa kamu akan mencintai aku dari awal lagi Arsen?" tanya Airin.


"Untuk sementara waktu, kita berteman saja terlebih dahulu karena aku juga tidak mencintai kamu sama sekali saat ini," jawab Arsen yang membuat Airin tersenyum kecut.


Tidak mencintai kamu sama sekali, lima kata yang menyakitkan bagi Airin, lelaki yang amat sangat dia cintai sekarang tidak mencintainya sama sekali.


Ingin berteriak dan menangis tapi ini bukan sepenuhnya salah Arsen, skenario yang tertulis sungguh membuat Airin merasa dipermainkan tapi ya seperti itulah kehidupan, kita hanya sebagai pion yang harus menjalani peran kita masing-masing.


"Jangan terlalu mengharapkan aku Airin, entah aku bisa mencintai kamu lagi apa tidak," imbuh Arsen yang membuat Airin mundur selangkah dan sedikit oleng, tubuhnya bagai disambar petir di pagi hari.


"Lihatlah video-video manis kita dulu," imbuh Airin sambil menunjukkan ponselnya pada Arsen.


Bukannya melihat video mereka Arsen malah menepis ponsel Airin karena tidak ingin melihatnya.


"Biarlah itu menjadi kenangan antara kita," kata Arsen.


"Arsen, minimal cobalah lagi mengingat aku." Airin tetap bersikeras meminta Arsen untuk mengingatnya.


"Ku mohon Arsen, bila perlu aku akan mengemis cinta padamu," ucap Airin dengan memohon sambil menangis pada Arsen.


Harga dirinya rela dia jatuhkan demi bisa membuat Arsen bisa mulai mencintainya namun Arsen menolak utuk melakukan hal itu.

__ADS_1


Aaron yang ketika itu datang karena ada meeting dengan Arsen mematung di ambang pintu karena iba melihat Airin yang mengemis cinta pada Arsen.


Dia berjalan dan langsung memeluk Airin.


"Apa yang kamu lakukan!" maki Aaron.


"Aku hanya memintanya untuk mencintai aku lagi Aaron, tapi dia tidak mau," kata Airin sambil terisak.


"Bodoh, bodoh!" ucap Aaron lalu memeluk Airin.


"Jangan jatuhkan harga diri kamu," bisik Aaron.


"Bukan aku menjatuhkan harga diriku Aaron tapi Arsen sangat berarti bagi aku, sekian lama aku menantinya," pungkas Airin.


Aaron melihat Arsen dengan tatapan tajam.


"Lihatlah dia Arsen, apa sedikit saja kamu tidak mau mencintainya," kata Aaron.


"Sebagai sahabatku dari kecil kamu pasti paham dan tau karakter aku Aaron," sahut Arsen.


"Lupakanlah aku Airin, mungkin kita tidak jodoh," timpal Arsen lalu mengambil berkasnya.


"Aku tunggu di ruang meeting," ucap Arsen lalu berjalan keluar.


Airin menangis sambil terisak, sungguh sakit sekali hatinya kini.


"Aku semakin yakin untuk mengambil kamu kembali," batin Aaron dengan mengelus Airin.


Karena harus meeting, Aaron menuntun Airin untuk kembali ke mejanya.

__ADS_1


"Sudah Airin, kamu kan rumput liar yang bisa hidup di segala situasi. Sudahi tangisan kamu, lelaki tidak hanya Arsen," hibur Aaron.


"Masih ada kami yang bisa untuk referensi," imbuh Aaron dengan tertawa.


__ADS_2