Antara 2 Billionaire

Antara 2 Billionaire
Tunangan Minggu depan


__ADS_3

"Aku ingin kita secepatnya menikah sayang," kata Aaron yang membuat Airin shock.


Airin meletakkan berkasnya.


"Kenapa buru-buru sekali Aaron?" tanya Airin.


"Takut khilaf," jawab Aaron dengan terkekeh.


Airin nampak berfikir, jujur dia belum siap untuk menikah namun menolak keinginan Aaron membuatnya tak enak.


"Kamu nggak mau menikah dengan aku ya?" tanya Aaron.


"Bukannya nggak mau Aaron, aku inginnya kita nikmati masa-masa pacaran kita, jangan buru-buru takutnya hasilnya nggak baik," jawab Airin.


Aaron tersenyum menatap Airin,


"Bukan itu sebenarnya alasan kamu, tapi kamu masih ragu sama aku," kata Aaron lalu pergi dari hadapan Airin, dia kembali ke kursi kebesarannya dan melanjutkan pekerjaan yang sempat dia tinggalkan.


Aaron sungguh kecewa pada Airin, toh selama ini mereka sudah dekat, berteman sudah tujuh tahun juga. Kan bisa menikmati masa masa pacaran setelah menikah.


Airin yang tau kalau Aaron marah mencoba mendekat, dia kali ini menyadarkan pantatnya di meja kerja Aaron.


"Aaron," panggil Airin.


Aaron menghela nafas lalu menatap Airin.


"Ada apa?" tanyanya.


"Kamu kenapa marah?" tanya Airin.


"Enggak marah kok," jawab Aaron.


"Lalu kenapa langsung pergi?" tanya Airin lagi.


Aaron beranjak dari kursi kebesarannya, dia pergi ke depan jendela sambil memasukkan tangan kiri ke dalam saku celananya.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Aaron dengan wajah sedih.


"Toh kita masih bisa menikmati masa-masa pacaran kita setelah menikah," imbuh Aaron.


Airin ikut mendekat, dia melemparkan pandangan keluar jendela juga.

__ADS_1


"Aku kan baru kerja di sini masak iya harus resign lagi," kata Airin.


Sontak Aaron menatap Airin dengan lekat, sempat-sempatnya bercanda saat serius seperti ini.


"Aku serius sayang," ucap Aaron.


"Apa kamu tidak ingin menikah denganku karena ingin kembali lagi pada Arsen?" tanya Aaron kemudian.


Airin menggeleng.


"Bagaimana bisa kamu berpikiran seperti itu Aaron," kata Airin.


"Semua orang pasti berpikiran seperti itu, apalagi ingatan Arsen mulai pulih," ucap Aaron.


"Ya sudah bagiamana kalau kita tunangan dulu, setelah itu baru menikah. Kamu adalah orang terhormat Aaron, papa dan mama kamu juga. Apa tanggapan orang-orang jika anaknya menikah dadakan," jelas Airin.


Aaron memahami penjelasan Airin, dia pun tersenyum, tunangan dulu juga ide bagus minimal semua orang akan tau kalau Airin adalah tunangannya.


"Baiklah Minggu depan kita tunangan, titik, fix no debat," kata Aaron.


"Baiklah," sahut Airin pasrah.


Aaron yang senang memeluk Airin dan menciumnya dan saat bersamaan masuklah Arthur.


Arthur menarik kursi dan duduk sambil mempelajari berkas yang dibawanya.


Setelah puas, Airin dan Aaron melepas pautan mereka dan betapa kagetnya mereka saat melihat Arthur.


"Duh enak banget ya ciuman saat jam kantor, aku potong gaji kalian," omel Arthur yang seolah dia adalah bos nya.


"Di sini yang bos itu siapa seenaknya main potong gaji," sahut Aaron.


"Oh iya ya kan kamu bosnya," timpal Arthur.


"Tapi aku tetap akan memotong gaji kamu Airin," imbuh Arthur.


"Enak saja, aku ini calon Bu bos jadi jangan macam-macam," sahut Airin dengan tertawa.


Arthur hanya diam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku salah ngomong kayaknya," ucap Arthur yang membuat Aaron dan Airin tertawa.

__ADS_1


"Oh ya Arthur siapkan pesta pertunangan untuk aku dan Airin Minggu depan," titah Aaron.


"Siap," kata Arthur.


Di sisi lain Arsen dan Amanda fitting baju pernikahan meraka mengingat hari pernikahan mereka semakin dekat.


Sepanjang perjalanan Arsen nampak murung, dia tidak bicara sedikit pun pada Amanda dan ini membuat Amanda kesal.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Amanda.


Arsen yang pikirannya melayang entah kemana tidak mendengar pertanyaan Amanda dan ini membuat Amanda semakin kesal.


"Sayang," teriak Amanda.


Arsen yang sudah kembali dari lamunannya segera menyahut.


"Iya sayang, ada apa?" tanya Arsen.


"Ada apa, ada apa. Kamu itu kenapa?" tanya Amanda sambil menggerutu.


"Maaf sayang." Hanya ucapan maaf yang keluar dari mulut Arsen.


"Kita akan menikah lo sayang, tapi sikap kamu seperti nggak suka kita menikah," kata Amanda.


Entah mengapa Arsen nampak sakit kepala lagi, dia menepikan mobilnya lalu meminta tolong Amanda untuk mengambilkan obatnya di laci mobil.


Amanda sangat kaget karena melihat obat yang ada di laci mobil Arsen.


"Kamu beli obat lagi?" tanya Amanda.


"Iya, karena kepala aku sering kambuh sehingga aku beli untuk di mobil," jawab Arsen.


Amanda enggan memberikan obatnya namun Arsen segera menyahut karena tidak tahan dengan sakit kepalanya.


Seusai minum obatnya Arsen menyandarkan kepalanya di jok, dia memejamkan mata.


Sekilas nampak Airin memanggilnya dan tanpa sengaja Arsen memanggil nama Airin.


"Airin,"


Amanda yang mendengarnya jadi cemburu, dia tentu tidak ingin membiarkan Arsen kembali pada Airin.

__ADS_1


"Kamu milik aku Arsen, selamanya milik aku tak akan aku biarkan Airin mengambil kamu dari aku," batin Amanda.


__ADS_2