Antara 2 Billionaire

Antara 2 Billionaire
Ingin resign


__ADS_3

"Telah aku terima keputusan darimu Arsen yang memilih dirinya dan meninggalkan aku dalam semak berduri, tergores dan terperih sakit terucap lirih,"


Mungkin itulah yang dialami Airin seperti lirik lagu Melayu yang populer saat ini.


Menerima keputusan Arsen meski hatinya bagai dikoyak dan ditusuk sembilu.


"Sekarang sudah tidak ada lagi kesempatanku untuk bersama Arsen lagi," ucap Airin.


**********


Amanda yang takut kalau Arsen pulih pun memprovokasi Arsen untuk memecat Airin, dia takut intensitas bertemu yang terlalu sering membuat Arsen mengingat Airin sebelum mereka menikah.


"Sayang, aku sangat nggak suka kalau ada wanita lain dekat sama kamu," kata Amanda.


"Orang lain siapa sih sayang, aku ini tidak dekat dengan wanita manapun," sahut Arsen.


"Airin, kamu kan tiap hari bertemu dengannya apalagi dia kan mantan kekasih kamu," timpal Amanda.


"Astaga sayang, aku tu gak ada perasaan apa-apa dengan Airin," kata Arsen.


Amanda nampak cemberut sehingga membuat Arsen merasa bersalah, tapi bagaimana lagi adanya Airin yang bekerja di situ juga karena keinginannya meski dia tidak ingat.


Di sisi lain Airin ternyata juga ingin resign dari kantor Arsen, dia tidak ingin sakit hati lagi karena selalu melihat Arsen dengan Amanda.


Airin ingin menemui papa Sean dan meminta belas kasihan pada papa Sean supaya mau membatalkan surat perjanjian pra kerja dulu karena mungkin Arsen juga menginginkan Airin resign.


Hari Minggu pagi Airin pergi ke rumah Arsen, dia ingin menemui papa Sean.


"Bi, Om Sean ada di rumah?" tanya Airin.


Art rumah Arsen yang tau Airin tentu langsung mempersilahkan Airin masuk dan menunggu.


Art tersebut naik ke atas untuk memanggil papa Sean.


Lama mengetuk pintu kamar majikannya akhirnya mama Arini membukakan pintu.


"Ada apa?" tanya Mama Arini.


"Ada nona Airin nyonya," jawab Art.


"Airin? ada apa?" tanya mama Arini.


"Katanya tadi ingin bertemu dengan Tuan," jawab art.

__ADS_1


Mama Arini segera masuk kembali ke kamar untuk memanggil Papa Sean.


"Kita lanjut nanti lagi sayang," kata mama Arini lalu merapikan rambutnya.


"Astaga sayang lalu nasib rudal aku gimana?" tanya papa Sean.


"Tidurkan lah sayang, di bawah ada Airin yang mencari kamu," jawab mama Arini.


"Ada apa dia kesini?" tanya papa Sean.


"Sudahlah sayang daripada kamu bertanya-tanya mending kita turun dan temui dia, kasian kan kalau lama menunggu," kata Mama Arini.


Mau nggak mau papa Sean mencoba menidurkan rudalnya yang telah berdiri sempurna lalu turun ke bawah untuk menemui Airin.


"Ingat sayang dia sudah bukan calon mantu kita lagi," kata Papa Sean.


"Nasib dua bulan ke depan siapa yang tau," timpal mama Arini.


"Kamu kelihatannya sayang sekali dengannya apa karena nama kalian yang hampir sama?" tanya papa Sean.


Mama Arini mengkode papa Sean untuk diam karena kini mereka telah berada di ruang tamu dimana Airin menunggu.


"Halo Airin," sapa mama Arini dengan tersenyum manis.


"Maafkan Airin om dan Tante karena telah mengganggu waktunya," ucap Airin tak enak.


"Mengganggu banget orang mau panjat panjatan jadi cancel," sahut Papa Sean.


"Iya om maaf, nanti kalau Airin pulang kan masih bisa lanjut om. Lagian kan tujuh belasan masih jauh kenapa latihan panjat pinangnya sekarang?" tanya Airin.


"Ya biar menang," jawab papa Sean dengan asal.


"Sekali kali panjat tebing om sekalian latihan memacu adrenalin jangan manjat Tante Arini mulu," ucap Airin.


"Aku tidak hobi memanjat yang lain, hobi aku ya memanjat istriku tercinta," kata Papa Sean.


Mama Arini yang mendengar obrolan calon mantu yang cancel dan sang suami hanya bisa menggelengkan kepala, bukannya membahas maksud dan tujuannya kemari mereka malah membahas panjat memanjat.


"Tujuan kamu kemari apa? apa ingin belajar panjat memanjat?" tanya mama Arini dengan kesal.


Airin terkekeh melihat mama Arini yang kesal.


"Eh iya Tante, maaf. Om Sean nih malah ngajakin bahas panjat memanjat," kata Airin.

__ADS_1


"Malah nyalahin aku, nanti aku suruh Arsen manjat kamu tau rasa," timpal Papa Sean.


"Ya nggak tau rasa om, malah enak kalau dipanjat," sahut Airin.


Kini mereka mulai serius. Airin nampak takut saat akan mengutarakan maksud dan tujuannya. Dia takut kalau Papa Sean tetap bersikeras untuk mendenda dirinya kalau sampai resign.


"Sebenarnya maksud dan tujuan saya kesini untuk membicarakan perjanjian pra kerja dulu Om," kata Airin dengan serius.


"Kenapa?" tanya papa Sean.


"Saya ingin resign om," jawab Airin dengan sedih.


"Aku setuju," sahut Arsen yang baru keluar dari kamarnya.


Mama Arini, papa Sean dan Airin menoleh ke arah Arsen.


"Iya ma, Arsen juga nggak enak sama Amanda kalau Airin satu ruangan dengan Arsen," kata Arsen lalu duduk di samping papanya.


"Nah yang dikatakan Arsen benar om, saya nggak enak lagian saya dan Arsen kan bukan pasangan kekasih lagi," sahut Airin.


Mama Arini nampak sedih, apa ini tandanya Arsen dan Airin akan benar-benar berpisah? sedangkan dirinya masih berharap Airin lah yang menjadi menantunya.


"Baiklah, kalau memang ini sudah menjadi keinginan kalian, papa akan kabulkan. Jadi baik perusahan maupun Airin tidak ada yang harus membayar denda," kata papa Sean.


Meski Arsen meminta papa nya untuk membatalkan perjanjian pra kerja tapi entah mengapa dia merasa tidak senang, apa ingatan akan Airin perlahan sudah masuk ke pikiran dan hati Arsen?


"Ya sudah nanti perusahaan yang meminta kamu untuk keluar supaya kamu dapat pesangon," kata Mama Arini.


Mama Arini cukup tau permasalahan ekonomi Airin, dari dulu Arsen selalu bercerita pada mamanya akan keadaan Airin dan ini mengingatkan mama Arini akan masa lalunya dan ibunda tercintanya.


"Kok gitu ma," protes Arsen.


"Sudah diam lah Arsen, atau sandal mama ini melayang ke mulut kamu," sahut mama Arini.


"Ya sudah om Tante saya pamit dulu ya," pamit Airin.


"Untuk besok, kamu masih datang ke kantor. Biar Arcelo yang akan mencairkan pesangon dan gaji kamu," kata Papa Sean.


"Setelah ini kamu akan kerja dimana?" tanya mama Arini.


"Entah Tante mungkin Airin akan mencari pekerjaan lain," jawab Airin lalu pamit.


Mama Arini mengantar Airin ke depan.

__ADS_1


"Semoga kamu lah yang nantinya menjadi nyonya di rumah ini Airin," kata Mama Arini dengan tersenyum.


__ADS_2