
Gabriel tersenyum sendiri, senarnya dia kesal karena Arsen menyusul tapi ya bagaimana lagi Arsen memang suami Airin.
Di kamarnya Arsen nampak tidak nyaman tubuhnya, dia sangat pusing dan merasakan lapar tapi Arsen takut kalau muntah lagi.
"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Airin yang khawatir dengan keadaan sang suami.
"Entah sayang, rasanya lemas sekali," jawab Arsen.
"Kamu mau makan apa?" tanya Airin.
"Aku mau makan sayur asam sama pepes tahu," jawab Arsen.
Airin menatap Arsen dengan kesal.
"Mau aku lempar? ini tu Kanada mana ada sayur asem dan pepes tahu," omel Airin.
"Tadi kan kamu nanya sayang, ya itu yang ada di otak aku," kata Arsen membela diri.
Melihat Arsen yang semakin memucat membuat Airin pergi ke kamar Gabriel dia memberitahu gabriel keadaan Arsen dan Gabriel turut prihatin meski Arsen rivalnya saat ini.
"Dia lemas karena tidak makan Airin," kata Gabriel.
"Dia ingin makan sayur asem dan pepes tahu, la kan ini Kanada apa mungkin ada makanan indo di sini," kata Airin.
"OMG keinginannya seperti orang hamil saja," kata Gabriel.
Gabriel keluar untuk membelikan Arsen susu dia juga membeli roti siapa tau Arsen nanti ingin makan.
"Coba kamu pikir Arsen, mana ada rival seperti aku, malam-malam belikan kamu ini dan itu," kata Gabriel dalam mobilnya.
Sesampainya di hotel, Gabriel segera masuk dan pergi ke kamar Airin.
"Arsen coba minum susu ini," kata Gabriel
Arsen segera bangun dan meminum susu.
"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja, takutnya kalau Arsen kenapa-napa," kata Gabriel.
"Tidak usah, aku lemas karena sedari tadi muntah habis minum susu ini lumayan terisi energiku," timpal Arsen.
"Syukurlah Arsen, ya sudah aku pamit dulu, kalau ada apa-apa hubungin aku saja," kata Gabriel lalu pergi.
Arsen yang tidak mau makan berbeda dengan Airin yang selalu lapar.
Makanan yang tadi dibelikan Gabriel habis tak bersisa bukan dimakan oleh Arsen tapi dihabiskan Airin.
Meski sudah makan banyak makanan tapi entah mengapa dia masih merasa lapar, Airin yang melihat Arsen tengah tidur nyenyak tentu tidak ingin membangunkannya apalagi Arsen sedang sakit.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Airin pergi ke kamar Gabriel dia meminta Gabriel membelikannya makanan lagi.
Gabriel sebenarnya enggan untuk menuruti keinginan Airin tapi rasa cinta pada Airin mau nggak membuat Gabriel ingin terlihat seperti malaikat.
"Kamu lapar?" tanya Gabriel dengan mata yang sudah berat.
"iya Gabriel," jawab Airin tak enak.
"Maaf ya Gabriel merepotkan kalau kamu sudah ngantuk biar aku beli sendiri," kata Airin.
Tentu Gabriel tidak tega membiarkan Airin pergi sendiri untuk mencari makanan.
"Ya sudah ayo," ucap Gabriel.
Airin sendiri juga merasa aneh, akhir-akhir ini dia selalu lapar dan selalu ingin makan.
"Apa menurut kamu ada mahkluk gaib gitu yang masuk dalam tubuh aku gabriel?" tanya Airin.
"Satu satunya mahkluk yang masuk dalam diri kamu adalah kecebong Arsen," jawab Gabriel dengan tertawa.
Airin ikut tertawa tapi memang benar hanya kecebong Arsen yang masuk ke dalam tubuhnya.
Seusai membeli makanan Airin kembali ke kamarnya dia takut kalau Arsen mencarinya namun saat masuk kamar nampak Arsen masih tertidur.
Meksipun Airin dan Gabriel menyinggung tentang kehamilan namun tidak membuat keduanya sadar kalau mungkin saja Airin hamil.
Arsen benar-benar lemah kali ini, tubuhnya yang kurus karena memikirkan Airin yang hilang kini semakin kurus dengan penyakit muntah yang mendadak menyerangnya.
"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Airin sambil menangis di sisi Arsen.
"Maaf ya malah membuat kamu khawatir," jawab Arsen dengan lemah.
Airin yang takut memanggil Gabriel untuk membawa Arsen pergi ke dokter. Melihat Airin yang menangis tentu membuat Gabriel panik dan segera membawa Arsen di rumah sakit.
Gabriel mengerti di depan sedangkan Airin dan Arsen duduk di bangku belakang.
Sesekali Gabriel melirik kaca, dia tersenyum ketir.
"Andaikan kamu tau Airin, terlukanya aku melihat kalian, aku ini rival tapi malah mengurusi rival aku," batin Gabriel.
Gabriel menikmati sakit hatinya sendiri ingin tega pada Arsen dan Airin tapi dia juga tidak sampai hati.
"Sabar," Gabriel menyemangati dirinya sendiri.
Tak selang berapa lama mobil Gabriel sampai di rumah sakit terdekat.
Kondisi Arsen yang lemah membuat dokter memutuskan untuk memantau Arsen di rumah sakit.
__ADS_1
Tangis Airin pecah saat mendengar hal itu namun dokter belum menyimpulkan apa-apa terkait penyebab sakit Arsen.
Gabriel mencoba menenangkan Airin, terlihat Airin sangat shock karena mengkhawatirkan Arsen yang sakit.
"Airin aku hari ini ada meeting, nggak papa kan aku tinggal sendiri?" kata Gabriel.
Airin mengangguk meski dia ingin Gabriel selalu ada di dekatnya dan Arsen.
Gabriel mengirim foto Arsen ke A4 dan ini membuat A4 lainnya sedih dan panik terlebih Aaron, dia sangat mengkhawatirkan Arsen.
Arcelo yang ada di Jerman sangat panik, dia sangat mencemaskan atasan plus sahabatnya tersebut. Rencananya dia akan langsung terbang ke Kanada hari ini juga.
Arthur yang merasa iba pada Arsen yang lemah tentu tak sampai hati apalagi melihat Airin yang menangis di pinggir Arsen.
"Kasian pesek Aaron, boleh kah aku ijin untuk menyusul?" tanya Arthur.
Aaron nampak berfikir lalu dia mengijinkan Arthur pergi ke Kanada dulu dua tiga hari dia akan menyusul dengan Yulia.
Rencananya besok dia akan terbang ke Kanada, dia tidak menunda waktu karena jarak tempuh indo dan Kanada memakan waktu lebih dari lima belas jam.
*********
"Airin," panggil Gabriel yang datang kembali dengan membawa makanan.
"Kamu katanya meeting?" tanya Airin.
"Cancel," jawab Gabriel berbohong, meeting bukannya batal tapi Gabriel sendirilah yang membatalkannya.
Melihat makanan yang banyak membaut Airin gelap mata, sejenak dia melupakan semuanya yang sakit.
Airin tidak bisa mengontrol dirinya saat melihat makanan seperti ada yang mengontrol dirinya dari dalam namun apa dan siapa Airin juga belum paham.
Halo kak selamat malam
maaf nih upnya malam banget.
Ini aku mau promo novel teman kita, dia juga reader di sini, yuk dukung karyanya
Makasih kak😘😘😘😘😘😘
Kelanjutan chapter 1. melakukan seperti ini ciuman dan bermesraan bahkan olahraga indah pun kamu selalu menolak saya, saya membutuhkan itu Vin kita sudah dewasa dan saya engga mau hubungan dengan biasa saja. saya memang bahagia kamu peduli tapi kamu enggak bisa memberikan apa yang saya inginkan pacaran yang panas bukan hambar seperti ini." ucap Sukma berusaha melepaskan tangannya Vino di pipinya
plak" satu tamparan mendarat dengan sempurna
" dasar perempuan kotor kamu, saya menghargai kamu. saya menjaga mahkota kamu sampai kita halal, saya enggak ingin melakukan olahraga dengan bebas. saya menyesal membuang waktu, tenaga,dan uang saya demi perempuan kotor seperti kamu." bentak Vino mendorong badan nya Sukma sampai jatuh.
__ADS_1