
Plak....
Sebuah pukulan mendarat sempurna di pipi Arsen.
"Kamu pikir aku ini apa?" teriak Amanda dengan menatap Arsen dan Airin bergantian.
Arsen yang kesal karena Amanda memukulnya pun menyeret Amanda pergi sedangkan Airin hanya diam membatu mendengar keinginan Arsen.
"Kenapa kamu terus saja menyiksa aku Arsen," gumam Airin dengan mata yang berkaca.
Sebisa mungkin Airin tidak menangis karena takut akan mengacaukan semuanya namun air matanya tidak bisa diajak kompromi. Tanpa bisa dikontrol air mata Airin terus saja mengalir seperti aliran sungai Aare di Swis yang mampu menghanyutkan orang dalam kesedihan.
"Hiks hiks hiks," Isak tangis Airin terdengar begitu memilukan.
Airin terduduk dengan menyembunyikan wajahnya, bagiamana mungkin takdir begitu mempermainkannya.
"Sudah cukup," kata Airin sambil mengusap air matanya, untung dia menggunakan make up water proof sehingga riasannya tidak luntur karena air mata namun sembab maunya tidak bisa di sembunyikan.
Setelah tenang Airin kembali bergabung dengan Aaron. Melihat mata Airin Aaron cukup tau kalau Airin habis menangis tapi dia tidak ingin bertanya karena takut jawaban Airin akan membuatnya sakit.
Airin yang juga tau kalau Aaron curiga padanya dengan sengaja memeluk Aaron.
Airin bermanja dan memeluk Aaron dengan erat.
"Sayang, aku bahagia sekali," kata Airin berbohong guna menutupi kesembapan matanya.
"Benarkah," sahut Aaron.
"Iya," timpal Airin.
"Tidakkah kamu melihat mata aku yang basah karena air mata bahagia," imbuhnya.
Aaron tersenyum, entah Airin bohong atau tidak yang pasti saat mendengar Airin berkata kalau dirinya bahagia Aaron sangat bahagia.
"Kebahagiaan kamu adalah prioritas aku sayang," ucap Aaron dengan mengecup kening Airin.
Mendengar ucapan Aaron, Airin pun menangis sungguh besar cinta Aaron pada dirinya berbeda dengan dirinya yang tidak bisa mencintai Aaron kembali meski dulu Aaron sempat ada di hatinya.
"Kamu kok nangis," protes Aaron.
__ADS_1
"Aku terharu," sahut Airin.
Aaron menangkupkan kedua tangannya di wajah Airin sembari berucap.
"Hapuslah air mata kamu sayang, aku hanya ingin tawa kamu bukan tangis," kata Aaron sambil mengusap air mata sang kekasih.
Airin mengangguk lalu memeluk Aaron kembali.
"Aaron acara mau di mulai malah peluk pelukan, lanjut nanti lagi," omel mama Putri.
"Iya iya ma, seperti nggak pernah muda saja," gerutu Aaron.
Kini keluarga Aaron dan Airin berkumpul karena acara pertunangan akan segera dimulai.
Papa Daffa memberikan sambutan untuk para tamu, tepuk tangan meriah terdengar Aaron terlihat bahagia begitu pula Airin meski bahagia Airin hanya sebuah settingan.
Kini Aaron memakaikan cincin di jari manis Airin setelahnya Aaron langsung saja mencium bibir Airin, mau tak mau Airin menerima pautan dari Aaron sehingga Arsen yang melihatnya sangat terluka.
"Kenapa kamu sangat terluka melihatnya dicium Aaron," batin Arsen.
Arthur yang melihat Arsen menyenggol Aacelo.
"Lihatlah Arsen, sangat mendung seperti akan turun hujan," ucap Arthur.
Arcelo mengelus bahu Arsen seolah dia kini menguatkan sahabatnya yang tengah patah hati.
"Kamu sudah ingat semua?" tanya Arcelo
Arsen menggeleng, meski belum ingat tapi hatinya sungguh sangat sakit seakan dia tidak rela kalau Airin yang bertunangan dengan Aaron.
"Seandainya kamu dulu mengikuti saran kami, pasti kini Airin akan bersama kamu, tak ada pihak yang dirugikan Arsen. Kalau sudah begini bagiamana?" batin Arcelo.
Mama Arini yang melihat anaknya dari jauh juga ikut sedih, mama Arini cukup tau rasanya. Dulu saat papa Sean dekat dengan mama Amira saja dia sungguh sakit hati apalagi ini orang yang dicintai bertunangan dengan sahabat sendiri tapi kembali lagi salam kasus ini tidak ada yang salah.
"Mama dulu sudah bilang kalau kamu mengikuti cinta sesaat kamu pasti menyesal dan kini kamu digerogoti rasa sesal Arsen," batin mama Arini lalu mengusap air matanya yang jatuh.
Dengan pikiran yang kacau, Arsen berjalan untuk mengambil minum.
"Apa sebenarnya yang terjadi padaku dan apa yang telah aku lakukan," ucapnya.
__ADS_1
Arcelo dan Arthur ikut bergabung dengan Arsen karena mereka cukup mengkhawatirkan keadaan Arsen.
Bola mata Arcelo mencari keberadaan Amanda namun Amanda tidak terlihat batang hidungnya.
"Amanda mana?" tanya Arcelo.
"Aku suruh pulang," jawab Arsen.
"Kenapa?" tanya Arthur.
"Dia telah menampar aku," jawab Arsen.
Arcelo dan Arthur saling pandang lalu menaikkan bahu mereka.
Seusai berciuman Airin dan Aaron bergabung dengan A3, Airin dan Arsen nampak canggung dan Aaron hanya tersenyum.
"Selamat ya untuk kalian," kata Arsen.
"Terima kasih Arsen," sahut Aaron.
"Amanda mana?" tanya Aaron.
"Pulang," jawab Arcelo.
Mereka berlima asik mengobrol, sedangkan orang tua A4 juga mengobrol dengan orang tua Airin.
Papa Daffa yang ada urusan memanggil Aaron sebentar sedangkan Arcelo dan Arthur juga dipanggil oleh papa dan mamanya sehingga kini ada Arsen dan Airin berdua.
"Kamu sudah mulai mengingat semua?" tanya Airin.
"Belum, tapi aku sangat sedih melihat kamu dan Aaron bersama," jawab Arsen.
"Bagiamana sengaja Amanda?" tanya Airin.
"Bukankah kamu mencintainya?" Imbuh Airin.
"Entahlah Airin, aku bingung saat ini. Aku merasa cinta yang sangat besar tengah memelukku membuat cintaku pada Amanda perlahan menghilang," jawab Arsen lalu meminum minumannya.
"Kita dipermainkan oleh takdir Arsen, saat aku bertahan dan ingin menunggu kamu pulih malah kamu yang meminta aku untuk merelakan kamu dengan Amanda dan sekarang saat aku berkomitmen dengan Aaron kamu datang lagi membawa cinta kamu," ucap Airin.
__ADS_1
"Maafkan aku Airin," kata Arsen.
"Tak perlu ada kata maaf Arsen," timpal Airin.