
"Yul," panggil Eril.
Yulia yang tau kalau Eril yang memanggilnya terus berjalan tanpa menoleh.
Eril memegang lengan Yulia dan sedikit menariknya.
"Apaan sih mas," kata Yulia lalu berusaha melepaskan diri dari tangan Eril.
"Kamu tuh kenapa sih menghindari aku terus Yul?" tanya Eril.
Yulia menghela nafas.
"Kisah kita telah lama usai, kalau kamu minta kita berteman is ok tapi kalau kamu mengajak aku untuk mengenang masa lalu im so sorry," jawab Yulia.
"Tapi Yul, aku mencintai kamu," kata Eril.
Yulia tertawa mendengar kata-kata Eril.
"Cinta, hello mas Eril, hey! jangan bilang cinta sekarang, saat itu bukannya kamu sendiri yang memutuskan hubungan kita," ucap Yulia.
"Sudah stop, jangan bilang cinta. Aku sudah memiliki lelaki lain," pungkas Yulia lalu pergi.
Dari kejauhan nampak Maya yang melihat Yulia dan Eril.
"Dulu aku memang suka padamu mas Eril tapi sekarang aku memiliki incaran yang lebih dari kamu," gumam Maya.
Eril datang ke kampus untuk menemui ayahnya terkait kantor baru yang akan dibukanya.
"Kamu ingin kerja sama dengan Anderson grup?" tanya papa Eril.
"Iya pa," jawab Eril.
"Pemiliknya sekarang jadi donatur tetap di kampus ini," kata Papa Eril.
"Bagus dong pa, tak di sangka jiwa sosialnya tinggi juga," sahut Eril.
"Kamu tau B.A university? dialah pemiliknya dengan teman-temannya, kalo gak salah sebutan mereka A4," timpal papa Eril.
Eril tersenyum, mungkin dengan dia jadi donatur tetap di kampus milik papanya, akan mudah untuk menjalin kerja sama.
"Bisnis kamu yang di Swiss bagaimana?" tanya papa Eril.
"Baik pa, berkembang dengan pesat," jawab Eril.
Eril pun pamit untuk menyiapkan kantor barunya, rencannya dia akan membuat proposal yang akan dia sodorkan ke Anderson Grup milik Aaron.
Keesokannya adalah hari dimana Aaron berkunjung ke B.C university, dia nampak disambut oleh Maya.
__ADS_1
"Oh ya pak, saya akan mengajak pak Aaron untuk berkeliling kampus," kata Maya.
"Baiklah," sahut Aaron.
Aaron mau menerima tawaran Maya karena dia ingin mencari istrinya.
Saat melewati taman belakang nampak Yulia mengobrol dengan Eril, kali ini mereka tidak mengobrol tentang cinta tapi obrolan tentang bisnis.
"Baiklah nanti akan aku bantu mas," kata Yulia.
Eril tersenyum lalu memeluk Yulia dan saat itu Aaron melihatnya.
Aaron mengepalkan tangannya, kesal dengan Yulia yang dipeluk oleh Eril.
Tak sengaja Yulia juga melihat Aaron hingga pandangan mereka bertemu.
"Mas Aaron," kata Yulia lalu mendorong tubuh Eril.
Aaron mengajak Maya pergi, dia yang kesal berjalan cepat dan meninggalkan Maya yang di belakangan.
Yulia segera mengejar Aaron.
"Pak Aaron bisa kita bicara sebentar," kata Yulia.
"Bicara apa?" tanya Aaron.
Maya yang tidak rela Yulia mengganggu waktunya mencoba mengusir Yulia namun Yulia marah.
"Aku ada urusan dengan pak Aaron jadi diam lah!" bentak Yulia.
"Pak Aaron please," pinta Yulia.
"Ayo bicara di mobil," kata Aaron.
Maya melongo, apa yang mereka bicarakan sehingga Aaron membawa yulia ke mobilnya.
"Kamu masih saja mengganggu Yulia, dulu Eril sekarang Aaron namun untuk kali ini aku tidak akan menyerah," kata Maya dengan mengepalkan tangannya.
Di parkiran Aaron meminta Yulia untuk masuk, dilihat dari raut wajahnya Aaron marah.
"Bicaralah," titah Aaron.
"Maafkan aku mas," kata Yulia.
"Untuk apa?" tanya Aaron.
"Tadi berpelukan dengan teman aku, jadi dia itu minta saran aku mas dan aku nggak tau kalau dia akan memeluk aku," jawab Yulia.
__ADS_1
Aaron tertawa, entah kenapa kenangan dengan Airin terulang lagi.
Melihat Aaron yang tertawa membuat Yulia takut.
"Yulia, Yulia. Kamu nggak perlu minta maaf padaku. Kalau kamu ingin pergi dengannya pergi saja," katanya dengan mata yang sayu.
Yulia menatap Aaron, dia sungguh sakit mendengar Aaron berbicara seperti itu.
"Aku mencintai kamu mas, aku ingin bersama kamu please jangan suruh aku untuk pergi," kata Yulia.
Aaron kini menatap Yulia dengan lekat, begitu pula dengan Yulia.
"Aku mencintai kamu mas, kekasih halal ku bukan orang lain," kata Yulia dengan mata berkaca.
Aaron mengusap air mata Yulia lalu membawa sang istri ke dalam pelukannya.
"Aku memiliki kisah pahit tentang cinta oleh karena itu aku tidak akan memaksa kamu untuk tetap di sisiku," kata Aaron.
"Enak saja kamu harus memaksa aku untuk tetap di sisi kamu mas, apa kamu lupa kalau kita ini sepasang suami istri, benih kamu juga sudah kamu tanam di rahimku," sahut Yulia.
Aaron terkekeh mendengar kata-kata istrinya.
"Tanam benih lagi yuk?" goda Aaron.
"Ih maunya," kata Yulia lalu mencubit perut Aaron.
"Lihat tu udah berdiri," ucap Aaron dengan menunjuk rudalnya yang memang sudah berdiri.
Yulia membulatkan matanya, bagaimana bisa si rudal jerico berdiri padahal mereka hanya berpelukan saja
"Di sini, pulang atau di hotel itu?" tanya Aaron.
"Mas kamu apaan sih mas," ucap Yulia yang ingin turun namun cepat-cepat Aaron mengunci pintu mobil.
"Mas, aku masih ada jam," kata Yulia.
"Bodoh amat," sahut Aaron dengan tertawa.
"Ya sudah ke hotel itu saja, tapi nggak lebih dari satu jam ya," kata Yulia.
"Yes, siap Bu bos. Saya akan melayani anda tidak lebih dari satu jam," pungkas Aaron.
Yulia sungguh bahagia melihat Aaron seperti ini meski semua cinta Aaron berawal dari bercinta.
Ayda yang tidak enak badan memutuskan untuk pulang cepat dan bersamaan mobil Aaron dan Yulia keluar.
Saat melintas depan hotel nampak Yulia dan Aaron turun bersama dan ini membuat Ayda tak habis pikir.
__ADS_1
"Astagfirullah Yul, Yul, ngapain coba kamu dengan pak Aaron pergi ke hotel, mau enak-enakan. Ya Tuhan ampuni dosa teman hamba," kata Ayda dengan mengelus dadanya.