
Laura sungguh tak percaya ada orang baik seperti Gabriel yang mau membantunya tanpa pamrih.
Tak tanggung-tanggung Gabriel memberikan uang sepuluh ribu dolar untuk pengobatan anak Laura.
"Ini banyak sekali," kata Laura.
"Untuk pengobatan kanker ini tidak banyak tapi lumayan untuk membantu kamu," sahut Gabriel.
"Terima kasih," ucap Laura berterima kasih.
Setelah menerima bantuan dari Gabriel Laura meminta dokter untuk melakukan kemoterapi dan pengobatan lainnya.
"Kamu akan sembuh malaikat kecil mama dan harus sembuh," kata Laura sambil mencium tangan bocah kecilnya yang memejamkan mata.
Dokter memberikan obat pada anak Laura namun tubuh anak Laura menolak obat yang diberikan dokter.
"Tubuhnya sudah menolak dok," kata Suster.
"Cepat siapkan ruang operasi," titah dokter.
Suster segera keluar dan Laura yang juga berada di situ menangis.
"Ada apa dok?" tanya Laura dengan hati yang tak karu-karuan.
"Tubuh anak anda sudah tidak bisa menerima obat, jadi kami harus melakukan operasi dengan segara," jawab Dokter.
Beberapa perawat datang ke kamar inap anak Laura, mereka ingin membawa anak Laura ke ruang operasi.
"Selamatkan anak saya dokter," kata Laura.
"Pasti," sahut Dokter tersebut.
Laura duduk sambil menangis, dia tau sakit kanker mustahil untuk disembuhkan namun siapa tau kuasa Tuhan, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.
Dia terus berdoa supaya anaknya bisa diselamatkan.
Lama menunggu akhirnya operasi sudah selesai.
"Bagaimana dok?" tanya Laura.
"Pasien masih kritis, berdoa saja semoga dia segera melewati masa kritisnya," jawab Dokter.
Anak Laura di pindahkan ke ruang ICU namun Laura tidak diijinkan untuk menemui anaknya.
Malam tiba, Laura masih di depan kamar ICU.
"Bertahanlah Albert kamu pasti sembuh," gumam Laura dengan menangis.
Suster datang mendekati Laura untuk memberikan daftar biaya operasi beserta obat.
Di kertas tersebut tertulis 75.000 dolar yang membuat Laura semakin frustasi.
"Uang darimana lagi," ucapnya.
Laura bergegas ke bar untuk bekerja, minim dia harus dapat sepuluh tamu malam ini.
Gabriel dan rekan bisnisnya datang ke club' untuk minum disana dia melihat Laura lagi.
"Gabriel jika teman kamu memerlukan wanita please rekomendasikan aku padanya," pinta Laura.
Mendengar ucapan Laura membuat Gabriel mengerutkan alisnya, bukannya kemarin dia telah memberi uang pada Laura kenapa Laura masih bekerja? bukankah sebaiknya dia menunggui anaknya yang sakit?
"Kamu seharusnya menunggui anak kamu bukannya datang ke bar ini lagi," kata Gabriel.
"Aku memerlukan uang lagi Gabriel untuk biaya operasi anak aku," ucap Laura.
__ADS_1
Gabriel menatap iba Laura, apa dia harus membiayai semuanya? sedangkan Laura sendiri bukan siapa-siapa Gabriel?
"Ya sudah ikut aku," kata Gabriel.
Gabriel mengenalkan Laura pada temannya, dan teman Gabriel tertarik untuk tidur dengan Laura.
Mereka berdua bernegosiasi harga untuk satu jam
"Enam ratus dolar," tawar teman Gabriel.
"Baiklah," sahut Laura.
Teman Gabriel membawa Renata ke kamar meninggalkan Gabriel yang sedang minum.
Gabriel memikirkan Laura yang dibawa temannya
"Kenapa aku malah memikirkannya," batin Gabriel.
Satu jam berlalu teman Gabriel dan Laura telah keluar dari kamar. Teman Gabriel nampak senang karena telah mendapatkan pelepasannya.
"Saya pamit karena harus melayani tamu lainnya," pamit Laura.
Saat akan beranjak Gabriel meminta Laura untuk menemaninya minum dan temannya, dia akan membayar Laura.
Saat asik mengobrol teman Gabriel pamit lebih dahulu sehingga kini tinggallah Gabriel dan juga Laura.
"Bagaimana keadaan anak kamu?" tanya Gabriel.
"Kritis, tadi dia menolak obat yang diberikan oleh dokter sehingga dokter melakukan operasi," jawab Laura.
"OMG, bersabarlah dia akan segera sembuh," hibur Gabriel.
"Iya terima kasih Gabriel," ucap Laura.
Tak terasa waktu menunjukan pukul tiga pagi, Gabriel memberi sejumlah uang pada Laura lagi, sebenarnya Laura tak enak tapi dia juga membutuhkan uang untuk anaknya.
Tiga hari telah berlalu waktu Gabriel dia Kanada tinggal tiga hari lagi.
Pagi ini Gabriel pergi ke lapangan untuk meninjau proyek yang tengah dia tangani.
"Sudah berjalan hampir lima puluh persen pak," kata anak buah Gabriel.
"Bagus," sahutnya.
Di sisi lain Laura melihat anaknya yang masih kritis dari pintu kaca, dia sangat sedih dan takut karena anaknya tak kunjung bangun.
"Kenapa kamu tidak bangun sayang, tidakkah kamu rindu dengan mama?" gumam Laura.
Tiba-tiba Dokter masuk dengan seorang perawat, sang dokter memeriksa keadaan Albert dengan raut wajah yang tegang.
Dokter memompa jantung Albert dengan tangannya.
"No, no," kata dokter.
Detak jantung Albert semakin lemah dan akhirnya nyawanya tidak bisa ditolong.
"Please don't, bertahanlah," kata Dokter yang masih berusaha menyelamatkan Albert namun Tuhan lebih sayang dengan Albert.
Dokter meminta perawat untuk melepas alat yang menempel di tubuh Albert.
Laura yang melihatnya dari luar menangis dia berharap anaknya baik baik saja.
Sesaat kemudian Dokter keluar.
"Anak saya sudah stabil kan dok?" tanya Laura.
__ADS_1
"Mohon maaf, pasien tidak bisa kami selamatkan Tuhan lebih sayang padanya daripada kita," jawab Dokter yang membuat Laura histeris.
Dia masuk dan langsung memeluk anaknya.
"Albert kenapa meninggalkan mama sendiri? setelah Albert pergi mama sama siapa? please jangan tinggal mama sayang," kata Laura dengan air mata yang jatuh.
Laura memeluk anaknya dengan menangis, tiba-tiba sebuah tangan memegang pundak Laura.
"Relakan dia pergi karena dengan begitu dia tidak akan merasakan sakit lagi," hibur Gabriel.
"Aku hanya memilikinya Gabriel, aku berusaha supaya dia sembuh tapi kenapa dia menyerah dan meninggalkan aku," sahut Laura.
"Sudahlah Laura, kalau kamu begini dia pun akan sedih melihat kamu," timpal Gabriel.
Laura mengangguk dan tidak melepas pelukannya.
Gabriel membiayai semua tagihan rumah sakit dia juga membiayai penguburan Albert anak Renata.
"Sudah jangan menangis, biarkan dia tenang disana," hibur Gabriel.
"Terima kasih Gabriel," ucap Laura lalu memeluk Gabriel.
Dalam pelukan Gabriel Laura merasa nyaman dan tenang, dia memang membutuhkan tempat bersandar.
Albert dikuburkan sesuai agama yang mereka anut, kini tubuh kaku Albert di pakaikan setelan jas kecil dan segera di masukkan ke peti untuk segera dikubur.
"Aku memimpikan dia dewasa dan menjadi orang yang sukses tapi kini dia telah pergi," kata Laura menangis sambil memeluk peti jenazah Albert.
"Sudahlah, ayo kita berangkat ke pemakaman," ajak Gabriel.
Bersama beberapa orang mereka membawa jenazah albert ke pemakaman yang tidak jauh dari tempat tinggal Laura.
Setelah peti dimasukkan tangis Laura kembali pecah, dia tak kuasa melihat angkanya dikubur.
Gabriel memeluk tubuh Laura dengan erat, dia sungguh iba melihat Laura seperti ini.
Seusai pemakaman Laura memilih tinggal di makan Albert dia menangis.
"Ayo kita pulang," ajak Gabriel.
"Aku mau menemani anakku Gabriel dia pasti takut sendirian dia bahwa sana," kata Laura.
Gabriel menghela nafas, dia yang tak tega ikut menemani Laura di makam.
Halo kak, ini beberapa episode terakhir ya.
Karena awal bulan rencannya mau publish novel baru.🤗🤗🤗
Mau promo lagi nih kak, jangan lupa mampir ya
336 HOURS
(Triple.1)
David Walker tewas di tangan paman dan sepupunya sendiri yang serakah akan peninggalan harta kekayaan keluarga Benjamin dari pihak ibu.
David tewas di tepi danau Ray Hubbard, Dallas. Karena kesalahan Brayan, David kembali hidup ke 336 jam sebelumnya.
Ada harga yang harus di bayar oleh David untuk kehidupan keduanya. Dia harus menjaga Elaina, yang tak lain adalah salah seorang maid di mansion miliknya.
Apa kaitannya Elaina dengan kehidupan kedua David?
__ADS_1
Akankah David kembali tewas jika gagal melindungi Elaina?