
"Kamu di sini Arsen?" tanya Airin yang melihat bayangan Arsen di depannya.
Itu bukan bayangan tapi memang Arsen yang ada di hadapannya. Arsen yang khawatir dengan keadaan Airin pergi untuk melihatnya dan saat dia datang nampak Aaron sudah pulang.
Arsen mengetuk-ngetuk pintu namun Airin tidak membukakan pintu sehingga Arsen khawatir dan langsung masuk saja kebetulan pintu juga tidak dikunci.
Arsen masuk saja ke kamar Airin dan betapa kagetnya dia melihat Airin melamun di depan kue ulang tahun Arsen.
Mata Arsen membasah, ingatannya terbang ke masa-masa saat dia dan Airin menjalani long distance relationship atau bahasa kerennya LDR, waktu itu Airin juga melakukan hal yang sama seperti saat ini, mereka merayakan ulang tahun masing-masing sambil vc an.
"Kamu ternyata masih ingat ulang tahunku dan merayakannya sendirian sayang," batin Arsen.
Mata Arsen memutar melihat kotak yang terbungkus kertas kado.
"Apa itu kado buat aku." Arsen terus membatin.
Dia kini berada tepat di depan Airin, Airin yang sadar segera bertanya.
"Iya sayang ini aku," kata Arsen dengan lirih.
Airin membolakan matanya lalu memberesi kue dan segera meletakkan kembali ke dalam kulkas.
"Kok diberesi, aku nggak dikasih?" tanya Arsen.
"Nggak kamu bisa beli sendiri," jawab Airin.
"Bungkusan kado itu untuk aku ya?" tanya Arsen lagi.
"Idih GR sekali kamu. Bungkusan itu hadiah dari Aaron," jawab Airin.
"Yakin?" tanya Arsen lagi.
"Yakinlah," jawab Airin.
Arsen nampak tersenyum, dia tahu kalau Airin tengah berbohong.
Jelas-jelas sekarang Airin tidak ulang tahun dan salah satu dari kotak itu sangat tidak asing bagi Arsen.
"Aku senang sekali, kamu masih peduli padaku sayang," kata Arsen yang membuat Airin terdiam.
"Pergilah Arsen, ini sudah malam, aku mau tidur," usir Airin.
"Nggak, aku mau disini sama kamu." Arsen enggan pergi dari rumah Airin.
"Apa sih mau kamu Arsen?" tanya Airin dengan kesal.
__ADS_1
"Kamu, aku hanya ingin kamu, salahkan jika aku menginginkan kamu Airin," jawab Arsen.
"Jelas salah Arsen, aku ini milik Aaron sahabat kamu," sahut Airin.
"Tapi dulu kamu milik aku Airin," timpal Arsen.
Arsen menangis, dadanya sungguh sesak. Dia tidak sanggup jika harus berpisah dengan Airin.
"Relakan aku Arsen, please," pinta Airin.
"Enggak, sampai kapan pun aku nggak akan merelakan kamu," sahut Arsen.
"Empat tahun aku menjalani hari-hari ku di Jerman tanpa kamu, berharap jika semuanya selesai aku pulang dan kita menikah tapi...." Arsen menggantung kata-katanya.
Arsen menangis dengan terisak
"Aku mohon Airin," pintanya.
Airin yang bingung harus bagaimana terduduk di tepi ranjangnya, dia menghapus air matanya yang terus jatuh.
Arsen ikut duduk di samping Airin, dua insan ini tengah menangis karena kejamnya cinta.
Cinta yang terhalang oleh keadaan.
"Dengarkan aku," kata Arsen dengan menarik dagu Airin.
"Tanda cinta Aaron?" tanya Arsen.
"Iya," jawab Airin.
"Airin semua milik kamu itu milik aku, kenapa kamu tega memberikannya pada orang lain," protes Arsen.
"Sadarlah Arsen, kalau aku ini tunangan Aaron," ucap Airin.
Arsen menunduk sambil mengusap rambutnya kasar, hatinya seakan dicabik cabik, diiris-iris sehingga kini dia tak tau harus bagaimana.
"Kenapa Tuhan begitu kejam pada kita Airin," kata Arsen dengan lirih.
"Entahlah Arsen, mungkin memang kita jodoh," sahut Airin.
Arsen tersenyum dengan mata yang terus mengeluarkan air matanya.
Dia bingung apa yang harus dia lakukan kini? bagiamana mungkin merebut Airin dari Aaron sahabatnya sendiri?
"Dulu aku sangat sakit saat kamu meminta aku untuk merelakan kamu dengan Amanda Arsen, kamu menceritakan banyak hal tentang Amanda padaku dan tak henti-hentinya kamu memujanya.
__ADS_1
Kamu bilang kalau kamu sangat mencintainya tak hanya itu kamu memintaku untuk maklum dan melupakan kisah tentangmu," kata Airin.
Arsen terisak
"Semua karena amnesia ini Airin, bukan mau aku melakukan itu semua," ucap Arsen.
"Ya aku tau tapi sekarang aku telah menjadi milik Aaron," timpal Airin.
Lama mengobrol hingga tak sadar kalau malam sudah sangat larut.
"Pulanglah Arsen," pinta Airin.
"Baiklah," sahut Arsen.
Saat Airin beranjak dari tempat tidurnya, Arsen menarik Airin hingga kini Airin berada di atas Arsen.
"Aku sangat merindukan momen seperti ini," bisiknya.
Airin segera bangun lalu meminta Arsen untuk segera keluar.
"Selamat malam Airin, aku pulang ya," pamit Arsen.
Saat Arsen keluar di depan sudah ada pak RT dan satu warga mendatangi rumah Airin.
"Malam pak," sapa Arsen.
"Anak ini lagi, woy ini jam berapa?" tanya pak RT.
"Bapak-bapak kan memiliki jam tangan sendiri, kenapa masih bertanya?" tanya Arsen balik.
Mereka berdua spontan melihat jam tangan mereka.
"Jam berapa pak?" tanya Arsen.
'Jam dua belas," jawab pak RT dan temannya barengan.
"Nah ya sudah, karena sudah larut saya mohon pamit," ucap Arsen lalu menyalami keduanya dan bergegas ke mobil.
Pak RT dan satu warga saling pandang kemudian mereka menghampiri Airin.
Airin yang takut di briefing pamitan untuk tidur.
"Malam pak RT, karena sudah malah saya pamit tidur ya," kata Airin lalu menutup pintu rumahnya.
Lagi-lagi mereka berdua saling pandang.
__ADS_1
"Gimana sih ini,"