
Aaron berusaha menenangkan dirinya, dia berkali kali mengusap tengkuknya.
Dia melepas sepatunya lalu membuang jas miliknya.
Aaron mendekati Yulia yang melihati tubuhnya yang seksi di depan kaca.
"Kenapa kamu berpakaian seperti ini?" tanya Aaron.
Mendapati Aaron yang menjatuhkan pangan di meja rias membuat Yulia terkejut.
"Eh mas Aaron," kata Yulia lalu berbalik arah ingin pergi namun tangannya dipegang oleh Aaron.
Aaron berdiri lalu memeluk Yulia.
"Tolong aku, please," katanya dengan memohon.
"Tolong apa mas?" tanya Yulia dengan gugup karena Aaron memeluknya dari belakang.
"Melihat dirimu yang seperti ini membuat aku tak tahan, please padamkan api dalam diriku," jawab Aaron senang nafas tak beraturan.
Yulia terdiam dia sungguh bingung, harus menjadi air untuk Aaron atau menolak keinginan sang suami, tapi dia juga menginginkan hal ini.
Aaron yang sudah bergejolak tidak bisa menahan dirinya lagi, dia menciumi jenjang leher Yulia dengan tangan yang masuk ke dalam lingerie yang tipis sehingga bentuk tubuh Yulia terlihat jelas.
"Mas, jangan gini mas," kata Yulia yang mulia naik ke awan karena ciuman dan tangan Aaron.
"Please." Aaron memohon.
Tanpa banyak cincong lagi, Aaron membalikkan badan sang istri dan menyambar bibir mungilnya.
Aaron melepas bajunya sendiri, lalu membawa Yulia ke tempat tidur.
Aaron melepas tali lingerie Yulia sehingga kini tinggal tubuh polos Yulia yang terpapar sempurna.
Cepat-cepat Aaron melepas celananya, saat bagian tumpulnya menyembur keluar Yulia segera memejamkan tanyanya.
Dia dapat merasakan Aaron menjamah tubuhnya, dia sudah pasrah kali ini, lagipula Aaron adalah suaminya jadi berhak atas tubuhnya.
Aaron sudah masuk menerobos goa miliknya, sungguh sakit rasanya hingga air mata tak sengaja jatuh.
Yulia mencengkeram bantal. Perih, sakit, nikmat bercampur jadi satu.
Terdengar suara desaaaaahaaaan Aaron yang keras, dia sangat menikmati milik sang istri yang masih ori.
Seperti hubungan suami istri pada umumnya, Aaron mulai memaju mundurkan pinggulnya, dia sungguh menikmati tubuh sang istri yang mampu membuatnya ke awan.
Baik Aaron dan Yulia sama-sama kehilangan keperjakaan dan kegadisan mereka masing-masing.
__ADS_1
Aaron yang perkasa entah berapa ronde menggempur sang istri, dia seakan tidak punya kenyang.
Bermain tiga jam tak membuat Aaron kenyang, dia terus saja meminta tambah dan tambah sehingga membuat yulia benar-benar terkulai lemah dan tak berdaya.
Setelah kenyang dia ambruk di damping Yulia yang pegal pegal.
"Busyet mas Aaron main empat jam lebih, pinggulnya terbuat dari apa sih?" kata Yulia.
Yulia yang tidak sanggup berdiri dan kelelahan langsung terlelap tubuhnya bak digebuki orang sekampung.
Keesokannya mereka masih saja tidur meski waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Mama putri mencoba membangunkan karena Aaron harus berangkat bekerja.
Lama mengetuk pintu namun tidak ada jawaban.
"Ini mereka tidur apa mati sih," gerutu mama Putri yang kesal.
Tak sengaja membuka handle pintu ternyata tidak dikunci.
Mama yang kepo melihat kamar anaknya nampak sepatu di lantai, jas yang setengah jatuh di lantai, baju-baju berserakan.
Mata mama Putri melihat di atas ranjang, nampak aaron dan Yulia berpelukan dalam keadaan polos untung mereka menutup tubuh mereka dengan selimut.
Bibir mama Putri melengkung, dia nampak bahagia karena Aaron sudah bisa menerima sang istri.
Cepat-cepat mama keluar karena ingin segera memberitahukan apa yang dia lihat pada sang suami.
Mama putri menutup pintu dengan agak keras karena ingin segera mengadukan pada sang suami.
Suara keras pintu membuat Yulia menggeliat, dia membuka matanya.
"Ah pegal sekali badanku," kata Yulia.
Saat dia akan bangun Yulia merasakan berat diperutnya dan benar saja tangan Aaron melingkar sempurna di perutnya.
Yulia tersenyum lalu menoleh terlihat wajah Aaron.
"Kamu tampan sekali mas," kata Yulia lalu mencium pipi Aaron.
Pelan-pelan Yulia menyingkirkan tangan Aaron yang melingkar di perutnya. Saat hendak beranjak Yulia merasakan sakit di area sensitifnya.
"Auwwwww," pekiknya.
Mendengar rintihan Yulia, Aaron pun terbangun, dia memijat kepalanya lalu melihat tubuhnya yang polos.
Memorinya kembali ke kejadian semalam saat dia meminta Yulia untuk melayani hasratnya.
__ADS_1
"Aaaa Shhiiiitttt," umpatnya lalu menoleh ke Yulia.
Nampak Yulia yang menahan sakit.
"Kamu kenapa?" tanya Aaron.
"Sakit mas, kamu semalam menggempur aku tanpa ampun," jawab Yulia.
"Oh," kata Aaron lalu dia mengambil handuk di lemari.
"Gila cuma bilang oh," batin Yulia yang kesal.
Dengan menahan sakit dia turun dari ranjang, namun tiba-tiba Aaron menggendongnya ala bridal dan membantu Yulia ke kamar mandi.
"Maafkan aku, ya sudah kamu mandi dulu. Bisa kan mandi sendiri?" tanya Aaron.
Yulia menunduk malu lalu menyuruh Aaron pergi.
Aaron kembali ke tempat tidur dan dia melihat bercak darah di atas kasur.
Bibirnya menyunggingkan senyuman, kini dia benar-benar menjadi seorang suami.
"Apa pernikahan ini berlanjut sampai nanti?" batin Aaron.
Setalah siap Aaron dan Yulia turun ke bawah, nampak mama dan papanya duduk di ruang tengah.
"Duh yang baru bangun, capek pasti main panjat panjatan semalaman," goda mama Putri.
"Lelah ma," sahut Aaron.
Yulia yang masih merasakan sakit di antara pangkal pahanya berjalan dengan sekitar kesulitan dan ini membuat Aaron khawatir.
"Apa perlu aku gendong?" tanya Aaron.
"Nggak perlu mas," jawab Yulia.
Aaron dan Yulia sarapan lalu pamit untuk berangkat, Yulia yang ada jam meminta Aaron untuk mengantarnya ke kampus.
"Turun di sini saja mas," kata Yulia.
"Udah nggak sakit itu kamu?" tanya Aaron.
"Masih tapi bisa jalan kok," jawab Yulia.
Yulia turun dengan menahan sakit dan tiba-tiba Eril memanggilnya.
"Yul," panggil Eril.
__ADS_1
Yulia menoleh, itu Yulia yang masih sakit tentu tidak bisa menghindari Eril dan Aaron yang melihatnya nampak kesal.
"Siapa lelaki itu," kata Aaron lalu melajukan mobilnya.