
"Kan aku sudah bilang kalau dia baik baik saja," ucap papa Sean lalu kembali ke kamarnya sendiri begitu pula dengan para art.
Mama Arini mengekor papa Sean, kali ini mereka tidur di kamar masing-masing.
Keesokannya Arsen sudah bersiap dengan baju kerjanya, dia segera turun untuk sarapan lalu berangkat ke kantor.
Mama Arini mengamati gerak gerik anaknya yang nampak seperti biasanya.
"Cepat sekali sembuhnya," batin Mama Arini.
Arsen berusaha bersikap seperti biasa meski hatinya tak karu-karuan, dia tidak ingin mama dan papanya khawatir dengan keadaannya.
Arsen meminum susunya lalu mengambil roti yang sudah dioles selai oleh mamanya.
"Arsen langsung berangkat ma dan pa ada meeting soalnya," kata Arsen lalu bergegas keluar
Di dalam mobil, Arsen meletakkan roti yang dipegangnya, nafsu makannya hilang karena sakit hati yang dideritanya.
Setelah keluar dari rumahnya, Arsen membuang rotinya ke tempat sampah.
Sepanjang perjalanan dia memikirkan Airin yang sudah dua hari ini tidak bisa ia temui.
"Apa benar dia kini berada di apartemen Aaron." Arsen bermonolog dengan dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian mobil Arsen telah sampai di parkiran kantornya. Dia segera keluar dan masuk ke dalam.
"Arcelo," panggil Arsen.
Arcelo yang berbicara sesuatu dengan resepsionis pun menoleh dan segera menghampiri Arsen.
"Ada apa?" tanya Arcelo.
__ADS_1
"Kita ke Anderson Grup sekarang," jawab Arsen.
"Aaron dan Arthur ada meeting dengan klien," sahut Arcelo.
Arsen terdiam, apa ini kesempatan baginya untuk menemui Airin?
"Kita tetap kesana," ucapnya.
Arcelo hanya menghela nafas tanpa bisa menolak, dia membawa berkas-berkas siapa tau nanti Aaron dan Arthur cancel meeting dengan kliennya.
Setibanya dia kantor Aaron, Arcelo bertanya pada resepsionis dan benar saja Aaron dan Arthur tidak ada di kantor.
"Minta ijin untuk menemui Airin," bisik Arsen.
Resepsionis meminta Arsen dan Arcelo untuk menunggu di loby karena Airin akan segera turun.
Arsen menatap Airin yang nampak berjalan ke arahnya, dadanya bergejolak rasa rindu yang bersemayam di dada kini memakasa untuk keluar.
Airin yang tau kalau yang mencarinya adalah Arsen dia pun segera membalikkan badan namun Arsen segera berlari mengejar Airin.
Saat Airin masuk ke dalam lift dengan cepat Arsen menahan pintu dan ikut masuk, kini Arsen dan Airin berdua di dalam lift.
"Aku sangat merindukan kamu Airin," kata Arsen dengan memeluk calon istri sahabatnya tersebut.
Airin berusaha melepas pelukan Arsen.
"Lepas Arsen, lepas," pinta Airin.
Arsen pun melepas pelukannya.
Plak....
__ADS_1
Airin menjatuhkan tangannya di pipi Arsen, dengan merasakan sakit di pipinya Arsen tersenyum dengan mata yang basah.
"Aku ini calon istri teman kamu, please jangan buat aku ini seperti seorang penghianat," maki Airin.
Pintu lift terbuka, Airin dengan segera keluar lift.
"Airin aku ingin bicara padamu," teriak Arsen.
"Lebih baik kamu pergi Arsen," sahut Airin yang sudah jauh di depannya.
Arsen menyandarkan dirinya di dinding, apa yang telah dilakukannya bukankah kemarin mama dan papanya meminta Arsen untuk kuat dan menerima kenyataan lantas kenapa sekarang dia mengejar dan memaksa Airin.
Dengan rasa yang tak karu-karuan Arsen turun lalu mengajak Arcelo untuk kembali ke kantornya.
Sepanjang perjalanan Arsen hanya terdiam sehingga membuat Arcelo jadi khawatir.
"Sudahlah Arsen, cinta itu tidak harus memiliki. Relakan Airin dengan Aaron dan jangan menyiksa diri kamu sendiri," kata Arcelo.
Arsen nampak tersenyum.
"Tapi aku tidak bisa Arcelo, cintaku padanya sangat dalam sedalam palung Mariana," sahut Arsen.
Arcelo cukup paham dengan apa yang dirasakan temannya. Dulu saat kuliah saja cinta Arsen terhadap Airin sangat besar, sekelas anak sekolahan rela bekerja demi untuk membiayai kuliah sang kekasih, dia juga yang membatu Airin untuk mendapatkan beasiswa full tak hanya itu Arsen juga membelanjakan keperluan Airin.
"Aku paham, kita ini teman Arsen, Airin teman aku kamu teman aku dan Aaron juga teman aku. Jadi sebaiknya kamu merelakan Airin saja daripada kamu seperti ini," saran Arcelo.
"Bicaralah dengan Airin dari hati ke hati, saling merelakan supaya beban hidup kalian tidak berat berat amat," imbuh Arcelo.
Lagi-lagi Arsen terdiam, dia nampak galau semua menyarankan untuk merelakan Airin
"Bisakah kamu membuat aku dan Airin bertemu Arcelo?"
__ADS_1