
"Astagfirullah Yul, Yul, ngapain coba kamu dengan pak Aaron pergi ke hotel, mau enak-enakan. Ya Tuhan ampuni dosa teman hamba," kata Ayda dengan mengelus dadanya.
***********
Brak
Ayda menggebrak meja, dia masih kecewa sama sahabat baiknya tersebut.
"Aku marah dan kecewa sama kamu yul," kata Ayda dengan ketus.
Yulia yang tidak paham hanya mengerutkan alisnya.
"Kamu kenapa si Ay, nggak ada hujan nggak ada angin kok marah dan kecewa sama aku memangnya aku melakukan kesalahan apa?" tanya Yulia heran.
"Sakit aku Yul, melihat kamu dengannya, sakitnya tu di sini," kata Ayda dengan memegang dada bagian kirinya.
Yulia semakin bingung, ada apa sebenarnya? kenapa Ayda seperti ini? apa Ayda kesambet?
Kira-kira begitulah yang ada di benak Airin.
"Coba kamu jelaskan ada apa," pinta Yulia dengan mengelus punggung sahabatnya.
"Lepas deh, nggak usah sok baik sama aku," kata Ayda dengan melepas tangan Yulia.
"Kamu kan tau Yul, aku tu ngefans banget sama pak Aaron, kamu tau kan dia itu incaran aku. Aku tu ingin daftarin dia dalam calon suami aku la kamu dengan teganya kemarin masuk hotel berdua ma dia, dimana hati kamu Yul," jelas Ayda dengan berekspresi menangis.
Yulia hanya tertawa melihat sahabatnya tersebut.
"Kenapa ketawa, lucu!" sahut Ayda bersungut.
Ayda mengecek leher Yulia dan benar saja banyak tanda cinta berbaris rapi di leher Yulia.
"Gila kamu Yul, sumpah gila. Ini pasti tanda cinta dari Pak Aaron kan?" tanya Ayda dengan penuh penekanan.
"Tanda cinta sebanyak itu, mulutnya nggak capek tu, buset kaya vacum cleaner," cerocos Ayda yang membuat Yulia tertawa.
"Lebih dari vacum cleaner Ay," sahut Yulia.
"Bener-bener kamu Yul, aku kecewa. Mau-maunya gitu kamu dinaikin Yul, mana harga diri kamu. Kita memang nggak laku tapi ya nggak begini juga," ucap Ayda dengan memegangi kepalnya.
Ayda sungguh tak habis pikir dengan sahabatnya yang mau maunya menjadi Teman ranjang Billionaire seperti Aaron.
(Teman ranjang Billionaire, asal mula A4 dibuat. Kisah cinta orang tua meraka yang nggak kalah seru, dengan karakter yang hampir sama dengan anak-anaknya. Yang belum baca yuk baca dulu)
Yulia terdiam, dia bingung apa harus berterus terang pada Ayda apa tidak.
__ADS_1
"Nggak usah bersedih, mangkanya harga diri itu ditinggikan setinggi langit, kalau ma suami boleh diturunkan. La ini belum apa-apa udah diobral macam baju nggak laku," omel Ayda.
"Dia itu suami aku ay," kata Yulia.
Ayda membolakan matanya.
"Nggak usah membual deh Yul, kapan kamu nikah kapan kamu kenal ma dia, selama ini aku tuh tau persis siapa kamu dan bagaimana kehidupan kamu," sahut Ayda.
Yulia tau kalau Ayda nggak akan percaya apalagi didukung dengan karakter Ayda yang nggak gampang percaya tanpa bukti.
"Ya sudah gini aja, ikut aku pulang," tantang Yulia.
"Ok, awas ya kalau kamu bohongin aku, aku pecat jadi sahabat terbaik aku," ancam Ayda.
"Ok, tapi kalau yang aku bicarakan benar gimana?" tanya Yulia.
"Aku gendong kamu dari pintu gerbang kampus sampai kelas," jawab Ayda dengan lantang.
"Ok, siap-siap kamu kalah," kata Yulia
"Oh tidak bisa, kamu yang siap-siap kalah," sahut Ayda.
Sepulang dari kampus, Yulia mengajak Ayda ke apartemennya. Dia ingin membuktikan kalau Aaron adalah suaminya.
"Mampir resto dulu ya, aku mau beli makanan," kata Yulia.
Yulia memesan tiga bungkus makanan.
"Cih, nggak usah berpura-pura beli tiga kotak, palingan satunya nanti masuk kulkas." Ayda masih saja tidak percaya.
Yulia hanya tersenyum, dia tidak ingin mendebat kawannya biarkan waktu yang membuktikan kalau dia tidak bohong.
Tak berselang lama Yulia sampai di basemen, dia mengajak Ayda turun dan menuju unit miliknya dan Aaron.
"Apartemen kamu mewah banget Yul, hebat kamu ya," puji Ayda.
"Duduk dulu ay, aku ke kamar sebentar," kata Yulia.
Setelah meletakkan barang-barangnya Yulia membuat kopi untuk suami tercinta dan lagi-lagi Ayda cuma menganggap kalau Yulia hanya berakting.
Ayda ikut Yulia di dapur.
"Kalau punya dapur estetik kaya begini fix aku bikin konten masak seperi Farah Miss Queen, this is it ayam goreng ala Ayda Queen," oceh Ayda sambil membayangkan dirinya seperti Farah Miss Queen.
Yulia hanya menggelengkan kepala.
__ADS_1
Ceklek
Terdengar pintu di buka.
Brak
Pintu ditutup.
"Siapa Yul?" tanya Ayda
"Suami aku" jawab Yulia.
Bola mata Ayda membuat, dadanya mulai berdegup kencang apa benar Yulia sudah menikah?
"Mas udah pulang?" tanya Yulia mendekati Aaron sedangkan Ayda hanya mematung tanpa membalikkan badan.
"Iya, ada teman kamu ya," kata Aaron.
"Iya mas," sahut Yulia.
"Ay, perkenalkan ini suami aku," kata Yulia.
Perlahan Ayda membalikkan badannya dan benar saja Aaron kini merangkul pinggang Yulia.
"Oh my God," katanya.
"Hore besok ada yang gendong aku sampai kelas," kata Yulia dengan mengangkat alisnya sambil menatap Ayda.
"Astaga, ternyata benar," gumam Ayda.
Aaron yang gerah dan lelah pamit ke kamar.
"Ya sudah aku ke kamar dulu, kalian lanjut ngobrolnya," kata Aaron.
"Kopinya mau dibawa ke kamar?" tanya Yulia dengan memeluk Aaron.
"Nggak perlu sayang," jawab Aaron dengan mengecup kening Yulia.
Ayda semakin memanas.
Selepas Aaron masuk kamar, Yulia mendekati Ayda yang masih ditempatnya.
"Benar kan dia suami aku," kata Yulia.
Ayda mengangguk meskipun dia tak percaya kalau Aaron adalah suami sahabatnya.
__ADS_1
"Pak Aaron kau buat hatiku patah jadi dua,"